Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 58 - Kekesalan Safania


__ADS_3

"Bagaimana apakah kalian sudah berhasil menemukan gadis itu?" tanya Sendro pada Arhan dan anak buahnya yang sudah berdiri di hadapanya, di ruangan tempat mereka menyekap Tania. Arhan dan anak buahnya hanya dapat tertunduk. Di situasi seperti ini Arhan, bukan lagi anak Sendro, jiwa profesional lelaki ini memang sangat besar, jika dalam pekerjaan seperti ini, ia tidak sungkan untuk memarahi Arhan sekali pun di depan bawahanya.


"Maaf Pa, Kami belum berhasil menemukan istri tuan Lendra!" ujar Arhan.


"Apa kata mu? Jadi sejak tadi kalian tidak ada di sini, tapi kalian juga belum bisa menemukan seorang wanita saja, tidak becus kalian, kalian hanya aku perintahkan untuk menjaga satu wanita saja kalian gagal, Dasar tidak berguna!" marah sendro sembari menendang drum besar yang ada di depanya.


"Kamu taukan Arhan, Apa risikonya jika kita tidak menemukan gadis itu? Peluang kita akan gagal dan bahkan kita terancam tidak mendapat upah sepeser pun!" bentak Sendro menatap tajam pada anak semata wayangnya.


"Nanti Arhan yang akan coba untuk berbicara dengan Safania langsung Pa, Kita sudah bekerja semaksimal kita dan masih kita tidak menerima upah apa pun dari pekerjaan kita!" ucap Arhan.


"Kamu kira sepupu kamu itu mudah di bujuk? Kamu bujuk saja kalau bisa, Safania itu gadis yang serakah, dia akan melakukan apa pun demi keinginannya!" ucap Sendro yang langsung meninggalkan ruangan ini.


Setelah Sendro pergi, bawahan Sendro segera membentuk lingkaran dan mendekatkan diri dengan Arhan yang masih mematung di tempatnya. Arhan sendiri masih memikirkan cara untuk membujuk Safania karena apa yang di ucapkan oleh papanya sangatlah betul, Safania tidak akan mudah untuk di bujuk. Dan Safania tidak akan mungkin mengubah rencananya karena gadis ini adalah gadis yang sangat egois dan keras kepala dan ia rela melakukan apa pun demi memproleh kekayaan.


"Tuan muda apa yang harus kita lakukan?" tanya mereka yang memiliki tubuh paling besar dan tetap.


"Saya juga tidak tau!" singkat Arhan yang kemudian ikut meninggalkan bawahan Sendro. Para preman itu saling melemparkan pandangan satu sama lain, rasa bersalah tentu terdetak dalam diri mereka karena sudah tertidur tampa ada yang menjaganya, apalagi gaji mereka juga terancam tidak terbayarkan jika Tania tidak segera di temukan.

__ADS_1


"Oh iya aku harus segera kembali keruangan papa, alhamdulilahnya Papa sudah sudah sadar dan sebentar lagi akan di lakukan operasi agar pendonoran ginjal ke Mama segera di laksanakan. Kamu doain ya agar semuanya berjalan dengan lancar!" ucap Lendra yang kini sudah mengengam tangan Safania dan mencium punggung tangan wanita itu.


Safania hanya dapat tersenyum dan mengangguk. Kekesalannya hari ini akhirnya tergantikan dengan melihat kemanjaan Lendra seperti ini padanya, lambat laun semua hal yang sudah di rencanakan bakal terwujud dan ia dapat menguasai seluruh isi dan aktivitas di rumah Lendra.


"Aku ikut keruangan papa ya Sayang!" ujar Safania dengan pedenya, pasti lelaki ini tidak akan berani menolaknya dan ia akn mencoba untuk mengambil perhatian Delino yang tampaknya lebih santai dari pada Liora.


"Kamu di sini saja ya Sayang biar aku saja yang keruangan Papa!"


"Kenapa? Aku juga mau lihat dan memastikan kondisi mertua aku dong!"


"Di dalam ada Naila nanti kamu dan Naila pasti ribut lagi, aku capek banget ngelihat kalian ribut terus, mending kamu di sini aja, kamu istirahat, kamu pasti capek bangetkan atau tidak, kamu istirahat saja di rumah!" ucap Lendra dengan lembut sembari mengelus rambut wanita itu dengan lembut.


"Tidak, Aku juga ingin menjenguk papa kamu, aku yakin kok suatu saat nanti aku pasti bisa gantiin posisi Tania sekarang dan aku juga yakin suatu saat nanti orang tua kamu juga bakal sayang sama aku, hanya saja aku butuh pendekatan seperti yang kamu katakan!" ucap Safania dengan penuh percaya diri.


"Iya, Aku juga yakin kok, tapi untuk sekarang kamu harus mendengarkan ucapan ku, pendonoran ginjal itu perlu ketelitian dan bukanlah suatu hal yang mudah karena ini adalah penentu nyawa Mama dan aku tidak ingin kondisi Mama semakin memburuk!" jelas Lendra berusaha untuk tetap lembut.


"Jadi, maksud kamu aku hanya akan membuat kondisi Mama kamu semakin parah? Iya? Begitu maksud kamu?" bentak Safania yang kini sudah berdiri dari posisi duduknya dan sudah tersulut dalam amarahnya yang membara karena ucapan yang Lendra yang sudah menyinggung perasaanya.

__ADS_1


"Bukan gitu Sayang!" ujar Lendra yang kembali mendudukan Safania dan menatap sekitarnya yang kini keduanya sudah menjadi pusat perhatian pada pembeli lain dan Lendra semakin merasa tidak enak pada mereka karena Safania sudah melakukan keributan dan membuat ketidak nyamanan di rumah sakit ini.


"Kenapa? Kamu malu?" tanya Safania yang kembali berdiri di hadapan Lendra dan Lendra dengan sabarnya kembali mendudukan Safania.


"Lihat saja masih sama aku saja kamu sudah terbawa emosi seperti ini, bagaimana jika nanti ada Naila yang semakin tidak kamu sukai? bisa bisa kamu semakin melakukan keributan yang lebih dari ini. Aku hanya meminta kamu untuk pulang dan beristirahat, nanti kalau Mama sudah sembuh kamu boleh kok melakukan pendekatan dengan Mama dan bahkan kamu juga boleh mengurus Mama untuk mengambil hati Mama!" jelas Lendra.


Safania hanya terdiam dan tertunduk, bukan berarti ia akan menurut pada perintah suaminya, tetapi dalam hati wanita ini ia sudah mengumpat dan mencaci suaminya, hanya saja tidak di lontarkanya saja. Kekesalanya pada Lendra semakin mendalam, tapi tidak mungkin  ia meluapkanya di tempat ini karena sama saja ia akan memperlakukan dirinya dan Lendra akan tetap pada pendirianya untuk menyuruhnya pulang.


Safania memang di kenal dengan sosok yang egois dan keras kepala, apa yang di inginkan dan di katakanya harus terpenuhi, tetapi Lendra jauh lebih egois dan keras kepala semua perintah yang sudah keluar dari mulutnya tidak dapat terbantah.


"Kamu ngertikan maksud aku?" ucap lendra masih dengan nada lembutnya sembari mengelus bahu kanan Safania.


Safania menyingkirkan tangan Lendra dari bahunya dan menatap lelakinitu dengan sinis, kemudian melangkahkan kakinya dari kantin rumah sakit dan pergi meninggalkan Lendra yang masih duduk di tempatnya.


Lendra membalas tatapan para pengunjung di tempat ini dengan senyuman tipisnya dan ia sesekali ia juga menunduk pada tatapan tatapan sinis yang pembeli lain lontarkan padanya karena kelakuan Safania yang sudah menimbulkan keributan dan tentu mengangu pembeli yang lain.


"Mas Lendra!" panggil Tania yang sudah berdiri di depan kasir dan tangan yang sudah memegang kantong plastik putih berisikan beberapa minuman botol yang baru saja di belinya.

__ADS_1


Lendra sempat menoleh pada Tania yang tampak dari kejauhan, ia hanya menghembuskan nafasnya dan menyibukkan dirinya untuk memainkan ponselnya, rasanya sangat malas untuk menatap wanita yang tidak di cintainya. Dengan antusias Tania melangkahkan kakinya menghampiri Lendra.


"Mas!" panggil Tania lagi yang kini sudah duduk di hadapan Lendra.


__ADS_2