
"Aku tadi sudah minum air putih kok Yang!" balas Rafa tersenyum sembarimengacak acak rambut Vania dengan lembut.
"Sayang rambut aku berantakan tau!" ujar Vania dengan tangan yang kembali merapikan rambutnya. Tampa berkata Rafa ikut membantu Vania membenarkan kembali rambutnya.
"Dah cantik sayang aku!" goda Rafa dengan senyum lebarnya setelah rambut Vania sudah rapi dan Vania yang langsungĀ menyenderkan kepalanya di bahu Rafa dan Rafa juga meletakan kepalanya di atas kepala Vania.
Dunia seakan milik mereka berdua dan tidak lagi menghiraukan keberadaan Nadya yang berada di sampingnya. Rafa adalah tempat sandaran dan mengadu ternyaman bagi Vania setelah ibunya dan Tania. Rafa benar benar memperlakukan Vania dengan baik, cintanya hanya tertuju pada gadis yang di miliknya tampa ada sedikit pun di pikiranya untuk mengkhiatin Vania.
"Van, Raf, aku pamit pulang dulu ya, kasihan ayah di rumah sendiri, aku juga belum siapin makanan untuknya!" pamit Nadya yang sudah berdiri.
"Kok cepat banget sih Nad?" tanya Rafa yang kini juga sudah berdiri berhadapan dengan Nadya.
"Tau nih Nadya!" ucap Vania yang juga sudah berdiri dari posisi duduknya dan ia menjadi penghalang antara Rafa dan Nadya karena Vania berada di tengah mereka.
"Kasihan Ayah belum aku siapi makanan!"
"Oh iya entar malam kesini ya, ajak Om Vandir, kita nginep di sini kasihan Vania kalau harus di rumah sendiri, kalau hanya aku yang nginap tidak mungkin takutnya nanti menimbulkan fitnah!" ujar Rafa dan Vania yang mendengarnya hanya dapat tersenyum mendengar penuturan kekasihnya. Rafa benar benar memperhatikanya, tak hanya sekedar ucapan ia juga melakukan aksinya untuk menunjukan rasa sayang.
"Iya, Insyaallah entar malam aku ajak ayah kesini!" balas Nadya tersenyum.
"Akhhhhhhhhhhh!" teriak Nadya histeris di tepi jalanan. Tubuhnya sudah tidak dapat lagi untuk berdirinya rasanya tulang di bagian tubuhnya sudah tidak sekokoh sebelumnya. Ia terduduk dengan posisi kaki terlipat di tepi jalanan yang tampak sepi menuju rumahnya.
Air mata yang sejak tadi di bendungnya, akhirnya tumpah juga. Sedikit lega rasanya setelah menjeritkan isi hatinya.
"Aku ngk sanggup jika harus seperti ini terus, maafkan aku Vania, aku selalu bersikap baik di depan mu, padahal aku mencintai kekasih mu dengan begitu dalam, maafkan aku Van, tapi aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak merebut Rafa dari kamu dan kamu harus tau Van, Rafa begitu mencintai mu, bahkan rasa sayangnya lebih besar dari pada ke aku dahulu, kamu beruntung di miliki Rafa!" teriak Nadya lagi.
Nadya terdiam sejenak di tempatnya dengan posisi yang masih tetap, beberapa menit setelahnya, Nadya mulai melangkahkan kakinya pelan menuju sebuah bunga yang berukuran besar yang ada di pinggir jalan, di bawah bunga besar itu terdapat bunga bunga lain yang berukuran kecil, semuanya tampak berukuran dengan indah. Tangannya mulai menyentuh daun daun itu dengan air mata yang kembali menetes dari kelopak matanya.
"Ada cerita di dalam perjalanan
__ADS_1
Ada tabir di balik sebuah senyuman
Mata coklat seri ku
Mengarah pada senja
Silau, namun sangat indah
Bila di pandang.
Terdengar suara jangkrik
Mulai menyering
Memanggil gemerlap malam
Bertebaran dengan bulan dan bintang
Dan syahdunya bisikan angin
Yang terlintas di telinga ku.
Ku pandang alunan kota
Ramai, semuanya terlihat bahagia
Mungkinkah mereka sama seperti ku
Tersenyum hanya untuk
__ADS_1
Menutupi luka?"
Kata kata itu di lantunkan dan di ajukan Nadya pada tanaman tanaman yang ada di dekatnya. Karena sudah tidak ada tempatnya untuk berkeliling kesah dan Nadya bukanlah tipe wanita yang suka curhat kepada sesamanya, ia hanya dapat meluapkanya lewat kata kata yang timbul di benaknya atau menuliskan di buku diarinya.
"Daun, Apa yang harus ku lakukan, aku mencintai Rafa, Rafa mencintai wanita lain, aku sudah berusaha sebisa ku untuk melupakanya, justru semakin aku melupakanya, semakin dalam perasaan ku padanya!"
"Batang, aku tau kamu kuat, kamu yang membopong seluruh bagian dari bunga ini, aku adalah kamu, aku yang membopong seluruh beban ku, tapi aku tidak sekuat kamu dan tubuh ku tidak sekokoh batang mu, bisakah kamu memberikan solusi dari permasalahan ku?" ucap Nadya yang kini tanganya mulai menyentuh bagian batang mawar yang berduri tajam.
"Hai bunga! Kamu tampak fresh dan indah, segar mu luar biasa, apakah kamu sama seperti aku? tersenyum di depan semua orang, nyatanya aku hancur jika sedang sendirian!" ucap Nadya pula yang kini mencium bau bunga mawar itu.
"Kalian ramai ya, kalian masih bisa bertukar cerita dan mendengar keluh kesah satu sama lain, sedangkan aku sendiri, aku tidak punya saudara untuk curhat dan aku juga tidak punya ibu untuk mengaduh, aku hanya punya ayah dan tidak mungkin aku bercerita pada ayah, hanya akan menambah beban pikiran ayah, dan aku hanya mampu mengendong beban ku seorang diri, bolehkah aku bergabung dengan kalian, agar aku memiliki kawan?" ujar Nadya lagi.
"Sayang, Nadya baik banget ya!" ujar Vania pada Rafa yang sedang memainkan ponselnya, Seketika Rafa langsung menatap kekasihnya itu dengan sedikit keterkejutan di raut wajahnya.
"Iya Sayang Nadya memang baik banget!" balas Rafa tersenyum dan kemudian kembali memainkan ponselnya.
"Padahal katakan baru kenal Nadya karena ayahnya dia sudah nolongi kamu, tapi sikap dia kekita sudah lebih dari seorang sahabat!" ucap Vania lagi. Rafa semakin terkejut dengan ucapan yang di lontarkan oleh Vania.
"Kamu tidak tau saja, jika Nadya adalah mantan aku dan kami berpisah karena Mama dan papa tidak memberikan restu pada hubungan kami. Aku dan Nadya sudah saling mengenal sejak lama!" gumam Rafa menatap Vania dengan tatapam bersalah. Ia tidak mungkin untuk menceritakan hal ini pada Vania, yang ada nanti Vania akan overthingking dan kesehatannya pasti akan menurun apalagi ia baru saja di tinggal mati oleh ibunya.
"Sayang, Kamu kok diam aja sih, Nadya baikan?" ucap Vania lagi yang kini mengayun ayukan lengan Rafa dan Rafa hanya dapat tersenyum, ia tidak ingin menambah kebohongan pada gadis yang sangat di cintainya.
"Sayang kamu mandi gih, ganti baju, terus istirahat, kamu pasti capek bangetkan?" ucap Rafa mengalihkan pembicaraan keduanya.
"Sebentar lagi ya Sayang!" ucap Vania.
"Sayang!" balas Rafa menatap dalam Vania.
"Iya deh iya!" balas Vania yang sudah mengerti dengan maksud Rafa dan ia segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
__ADS_1
"Nadya memang orang baik, tapi nanti pasti kamu bakal kecewa setelah tau kalau Nadya adalah mantan aku!" gumam Rafa setelah Vania meninggalkanya.