Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 78 - Anak Arhan


__ADS_3

Arhan menatap anak anak jalanan yang diasuhnya sedang asik bermain, ia tersenyum menatap anak anak itu. Setiap kali ia melihat tawa anak anak itu rasa capek di tubuhnya seketika menghilang, ia juga ikut merasakan kebahagian yang di rasakan oleh mereka.


Tapi, seketika senyuman itu memudar ketika ia mengingat perkataan Sendro yang tidak memberikan ia sepeser uang pun jika tidak melaksanakan perintahnya. Bagaimana caranya untuk tetap membiayai anak anak yang sudah diangkatnya sebagai adiknya jika ia tidak lagi mendapat uang papanya.


Uang yang selama ini didapatnya dari Delino sebagian diberikannya pada anak anak yang kurang beruntung. Apakah ia harus mencari pekerjaan lain atau menuruti permintaan papanya. Arhan benar benar di buat bingung oleh pilihan, jika ia tidak menuruti kemauan Sendro bagaimana kelanjutan dari hidup anak anak ini dan jika ia melaksanakan perintah papanya, ia juga tidak mungkin menjadi perusak rumah tangga orang lain.


"Kakak kenapa Kak?" tanya Widya yang merupakan anak perempuan terbesar yang di asuh oleh Arhan. Anak usia sembilan tahun itu segera duduk di sebelah pemuda yang sedang termenung itu.


"Kakak ngkpp kok Wid," jawab Arhan dengan lembut seraya mengelus rambut Widya penuh kasih sayang.


Empat tahun kebelakang ini Arhan memang mengasuh anak anak ini bersama mantan kekasihnya yang sudah meninggalkanya hampir lima bulan tampa sepengetahuan Sendro. Uang yang di berikan Papanya disisihkanya sebagian untuk biaya makan mereka, bahkan tak jarang Arhan menjual fasilitas yang di berikan Delino untuk mengobati mereka yang sedang sakit.


Tapi lihatlah kini ia harus mengurus adik adiknya sendiri tampa sang kekasih dan sekarang papanya juga akan menghentikan aliran dana untuknya.


"Kakak ada masalah ya?" tanya Widya lagi yang kini menatap wajah Arhan dengan seksama. Arhan tidak menjawabnya ia hanya membalasnya dengan senyumanya.


Dua jam sudah Safania menunggu telpon dari Lendra namun, notifikasi pun tidak di dapatnya. Ia merasa jika ada sesuatu yang di sembunyikan Lendra darinya, ada menganjal di hati wanita itu. Biasanya Lendra selalu mengabarinya sebelum berangkat, tapi kini sudah sampai pun Lendra belum lagi menghubungi.


Safania yang masih berada di kantornya dengan menikmati seporsi makanan berkuah dan di temani oleh minuman jeruk yang tersaji dengan rapi di depan mejanya. Ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi salah satu kontak yang berasa dalam handphone.


"Hallo Om, Bagaimana apakah Arhan mau mengikuti perintah dari aku?" tanya Safania setelah sambungan telponya terhubung.

__ADS_1


"Arhan menolak,"


"Apa, Bukanya Om bilang Om yang akan membujuk Arhan lalu, kenapa sekarang Om mengatakan Arhan masih tidak mau?, Kalau begitu saya akan membatalkan semua perjanjian kita dan aku juga tidak akan membayar sepeser pun pada Om karena rencana yang sudah aku buat tidak ada satu pun yang berhasil."


"Tidak bisa seperti itu Tania, Om sudah melakukan beberapa cara yang memiliki resiko yang besar, bagaimana jika Tania melaporkan kasus penculikan ini ke polisi dan kamu malah tidak memberikan kami upah, lalu bagaimana dengan kondisi kami selanjutnya. Jangan gila kamu Safania."


"Makanya Om kalau kerja itu yang benar, sekarang lihat di rumah sakit ada Tania yang pasti nanti dia akan semakin dekat dengan mertua aku dan aku sebagai menantu pasti akan tersingkirkan lalu, bagaimana aku mau membayar Om jika pernikahan ku saja tidak berjalan dengan baik. Sekarang inti dari permasalahan kita adalah Arhan, jika Arhan melakukannya makan nasib kita aman dari segi keuangan!" balas Safania yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.


"Akhhhhhhh!" teriak Sendro menendang kaki kursi yang sebelumnya di dudukinya namun, karena mengangkat telpon dari Safania ia berdiri dari posisinya.


"Arhan harus mau mengerjakan hal ini atau hidup ku akan susah, aku tidak ingin hidup dalam kekurangan. Arhan adalah anak ku maka, ia harus mengikuti perintah dari ku, bagaimana pun caranya."


"Kak, Widya kangen sama kak Yerin, kita kemakam kak Yerin yuk," ajak Widya menatap wajah Arhan penuh harap.


"Kita ngk ajak teman teman yang lain Kak?" Arhan mengeleng.


"Biasanya kalau Kakak seperti ini Kakak pasti lagi ada masalah ya?" tanya Widya lagi yang semakin mengintrogasi Arhan.


"Kakak ngkpp kok Wid, Kak cuma lagi kangen saja sama kak Yerin, biasanya kan setiap Kakak kesini selalu sama kak Yerin atau kak Yerin sudah lebih dulu di sini, tapi sekarang Kakak sendiri." ujar Arhan menatap Widya dengan tulus dengan tangan yang menyebut poni Widya kebalik telinganya.


"Widya juga kangen banget sama kak Yerin, Kak apalagi kak Yerin banget banget,"

__ADS_1


"Do'ain kak Yerin masuk surga ya!"


"Pasti Kak!"


"Ya sudah yuk kemakam kak Yerin!"


Yerin adalah wanita yang berhasil mencuri hati Arhan sekaligus menjadi pengisi hari hari lelaki itu, bersama Yerin, Arhan menjadi manusia yang lebih baik. Ia selalu mengajarkan tentang kebaikan dan pahitnya hidup pada lelaki itu, ia juga lebih banyak bersyukur setelah mengenal gadis itu, namun sayang takdir tidak mempersatukan mereka, Yerin meninggalkannya pada saat usia hubungan mereka sudah lima tahun.


Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, Arhan sudah berniat untuk melamarnya tapi, ia terkendala restu orang tuanya sendiri, Sendro tidak menyukai hubunga yang terjalin diantara mereka bahkan sering kali lelaki itu meminta Arhan agar mengakhiri kedekatanya dengan Yerin dan Yerin yang selalu meminta Arhan agar lebih bersabar lagi menghadapi papanya karena suatu saat nanti pasti Sendro akan merestui hubungan mereka, begitulah kalimat yang selalu kekasihnya itu ucapan agar Arhan tidak menjadi anak yang durhaka.


Namun, belum sempat ucapan itu terwujud. Yerin sudah tidak dapat melanjutkan perjuangan mereka untuk segera naik pelaminan. Entah takdir Yerin yang terlalu cepat atau Sendro terlalu lama memberikan lampu hijau dihubungan mereka, entah pula jodoh yang tidak mengizinkan mereka untuk bertemu dalam satu atap.


Sesampainya dimakam Yerin, Arhan meletakan buket bunga yang sudah dibelinya sebelum sampai ditempat ini. Di pandanganya nisan kekasihnya itu, perlahan tanganya mengelusnya, perlahan pula air matanya menetes, diciumnya pula nisan itu kemudian dipeluknya dengan hangat, setidaknya ia masih dapat merasakan keberadaan Yerin didekatnya.


"Sayang pasti kangen sama aku, makanya aku berinisiatif untuk menemui Sayang kalau, tidak Sayang pasti sudah seperti orang gi*a karena menahan rindu yang mendalam pada wanita secantik aku," kalimat yang selalu di lontarkan gadis itu ketika menemuinya di suatu tempat.


"Aku kangen Rin, tapi sudah berbulan bulan aku menunggu kehadiran mu tapi kamu tidak datang juga makanya, aku yang sering datang kesini tapi, kamu masih saja terus tertidur dan tidak melihat keberadaan ku, apa kamu tidak rindu dengan ku?"


"Kita kapan ketemunya Ri? Aku kangen banget, ngk cuma aku, Widya juga kangen kamu, anak anak lain pasti merindukan kamu juga, kamu terlalu cepat meninggalkan kami. Kamu yang meminta adik adik untuk ikut serta dalam pernikahan kita tapi, aku sendiri yang tidak menghadirinya. Mau kecewa tapi, ini sudah menjadi ketentuan kamu dan aku yang harus siap kehilangan kamu, semoga kamu tenang ya disana!"


"Kak Arhan sudah jangan menangis lagi nanti kak Yerin ikut sedih mending sekarang kita doain kak Yerin biar diterima di sisi Allah!" ucap Widya yang kini sudah mengadahkan tanganya kelangit.

__ADS_1


"Kak hanya belum bisa menerima kenyataan kau Kakak dan kak Yerin sudah tidak bisa bersama lagi," balas Arhan menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


__ADS_2