
Arhan bersama bawahan papanya, menelusuri jalanan kota yang di penuhi keramaian di bawah panasnya terik matahari, ia duduk di sebelah supir yang mengendarai mobil papanya dan dua orang bodyguart di duduk di deretan nomor kursi nomor dua, sedangkan papanya melajukan mobil tidak tau tujuannya kemana.
"Bos muda, kemana lagi kita harus mencari gadis itu?"
"Kalian memang b*doh bisa bisanya kalian tertidur di saat saya sedang keluar, jika sudah seperti ini siapa hendak di salahkan, kalian tau gadis tadi adalah calon aset perusahaan kita. Sekarang gaji kalian juga akan terancam jika ia tidak segera di temukan!" jelas Arhan dengan mata yang terus mengarah pada jalanan tampa menatap orang orang berbadan kekar itu.
"Gaji kita terancam?" ucapnya di antara mereka yang menjadi supir.
"Iya, makanya kita harus segera temukan dia!"
Selepas memarahi anak semata wayangnya lelaki itu melajukan mobilnya hingga menuju salah satu cafe ternama di kota ini. Cafe yang memiliki konsep modern dan balutan material alam, tentu menambah keindahan tempat ini. Sebelum ia sampai di sini, ia sudah menemukan seorang wanita yang usianya lebih muda darinya sudah duduk di salah satu kursi yang sudah di siapkan oleh pihak cafe. Lelaki itu segera menghampiri wanita yang sedang memainkan ponselnya itu.
"Safania!" panggilnya. Wanita yang tadinya sedang duduk itu kini mengarahkan pandanganya pada orang yang memanggilnya.
Lelaki yang nenculik Tania adalah Sendro, Om sekaligus suruhan Safania. Sendro segera duduk di kursi yang ada di hadapan Safania, wanita itu meletakan ponselnya dan berfokus pada orang yang sudah duduk di depan.
"Bagaimana Tania, Om, dia aman?" tanya Safania.
"Dia melarikan diri!"
"Bagaimana sih Om, kenapa dia bisa melarikan diri, masak Om dan anak buah Om ngk bisa sih jagain satu cewek doang, pake acara kabur lagi. Gimana nasib aku, Om?" ucap Safania yang langsung terbawa emosi dan langsung bangkit dari kursi yang di dudukinya, bahkan terakhir ucapanya ia memukul meja yang menjadi pembatas di antara keduanya.
__ADS_1
"Ini semua karena Arhan!" ucap Sendro yang masih terlihat tenang, walau sebenarnya ia yang lebih rugi dalam hal ini, karena ia harus mencari Tania, maka ia harus menambah gaji preman preman yang sudah di sewanya, dan bagaimana jika polisi mengetahui perihal penculikan ini atau bagaimana jika Tanja berhasil melarikan diri dan ia melapor pada pihak berwajib, maka hancurkan sudah hidup Sendro dan anaknya.
"Aku ngk mau tau ya Om, Tania harus dapat di temukan dan kembali di sekap atau aku bakal gagal menjadi orang kaya dan Om ngk akan dapat apa apa aku!" ucap Safania yang langsung meninggalkan Sendro.
Safania benar benar di buat kesal oleh harinya hari ini, tidak ada hal menyenangkan yang terjadi, semuanya tampak mengecewakan. Mulai dari Naila, Lendra, bahkan Liora dan kini Sendro juga kembali memancing amarahnya.
"Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi, aku sudah melakukan banyak hal yang memiliki resiko besar dan aku tidak mendapatkan apa pun, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" gumam Sendro.
Lendra, ia masih terpaku di tempatnya, Naila benar benar sudah tidak menghiraukan dirinya. Dengan segala keterpaksaan, Lendra memutuskan untuk ikut masuk kedalam rumah Vania.
"Mama, Sekarang kemana tempat Vania mengaduh Ma? Nanti siapa yang dengerin cerita aku dan Tania, Ma? Siapa yang akan melerai kita jika kita adu mulut. Jangan tinggalin Vania sekarang Ma, Vania belum siap!" isak Vania yang terus saja memeluk tubuh Tifani yang sudah terbujur kaku.
"Vania, kamu yang kuat ya, aku bisa kok kapan saja jadi tempat kamu cerita, aku akan berusaha untuk selalu menemani kamu!" ujar Nadya mengelus punggung Vania dengan lembut.
"Tante Fani!" teriak Tania yang sudah berada di daun pintu, ia langsung berlari dan menghampiri jenazah Tifani yang sudah di balut kain.
"Tania!" ujar Vania.
"Tan, Mama!"
"Tante, Kenapa Tante malah nyusul Mama, bukankah Tante sudah janji ke Mama buat jagai aku terus?, kenapa Tante malah ninggalin aku juga?" isak Tania yang langsung memeluk tubuh Tifani.
__ADS_1
"Van, ini bercandakan?"tanya Tania yang masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah berada di depan matanya. Ia menatap wajah Vania dengan mata sembabnya, berharap agar pemandangan yang di liatnya hanyalah halamannya semata. Vania mengeleng dengan matanya yang sudah memerah sempurna karena terlalu larut dalam tangisnya dan langsung memeluk Tania dengan sangat erat dan tangisan itu semakin tumpah.
Naila, ia berjaga jaga di depan pintu rumah Vania, takut nanti jika kakaknya belum pulang dan masuk kedalam rumah Vania yang ada akan membuat ribut, di saat berduka seperti ini.
"Tania!" Panggil Lendra dengan volume yang cukup besar, untungnya ketika Lendra berteriak tepat di hadapan Naila yang tidak terlihat oleh Lendra karena ia ingin segera membawa Tania pulang tampa melihat orang yang di lewatinya dan dengan cepat Naila langsung membungkam mulut kakakanya dengan telapak tanganya dan menarik Lendra agar keluar dari tempat ini.
"Apaan sih Nai?" kesal Lendra melepas tangan adiknya yang menghalangi ucapanya.
"Kakak ngk malu mau bikin keributan di sini, Kakak ngk lihat di dalam masih dalam berduka?"
"Nai, Kakak ngk sejahat itu, Kakak juga mau melihat Mama Vania!"
"Aku ngk percaya!"
"Naila!" panggil Rusdi yang baru saja tiba di rumah Vania dan langsung menghampiri Kakak berada yang di pekarangan halaman rumah Vania.
"Kak Rusdi?" Naila menatap Rusdi bersama kantong plastik yang di pegangnya dan menatap seorang lelaki yang berjalan di belakang Rusdi dengan mengunakan pakaian putih dan celana hitam, tak lupa dengan tas hitam.yang di pegang oleh lelaki itu.
"Kak Tania sudah sadar Kak!" ujar Naila setelah Dokter keluarganya itu hampir saja tiba di tempat mereka.
"Kalau begitu, biarkan saja mengikuti ikut dalam pemakaman keluarga Nak Naila!" ucap sang Dokter yang ternyata sudah mendengar percakapan keduanya.
__ADS_1
"Kamu sama kakak Lendra kenapa?" tanya rusdi. Seketika Naila kembali mengingat sesuatu ia terlalu fokus pada kehadiran Rusdi dan lupa untuk menahan Lendra agar tidak masuk kedalam rumah Vania.
"Kak Lendra!" teriak Naila.