
"Naila!" ujar Safania dengan jantung hampir tak berdetak. Jati dirinya yang sebenarnya akan segera terungkap dan Lendra pasti akan sangat membencinya apalagi ketika suaminya mengetahui keadaan Delino sekarang.
"Bapak kenapa ya ngejar orang ini?" tanya Naila menatap keduanya secara bergantian. Ia melihat adanya ketakutan besar di raut wajah kakak iparnya. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikanya hal itu semakin di kuatkan ketika Safania menatapnya.
"Kamu dari Nai?, kak Lendra sekarang keadaanya bagaimana?" tanya Safania berusaha untuk mengalihkan topik dengan tubuh yang sudah gemetaran.
"Naila habis beli minum untuk mama dan kak Tania. Kakak kenapa baru jenguk kak Lendra bukankah, kak Tania sudah lebih dulu menghubungi Kakak dari pada kita dan kak Lendra juga sudah berulang kali menelpon Kakak tapi, kok baru datang?" tanya Naila dengan sinis. Security itu menatap tajam pada Safania dan Safania juga melakukan hal yang sama ini.
"Tadi Kakak lagi berangkat kesini makanya, ngk sempat ngangkat telpon dari kak Lendra. Ayok sekarang kita jenguk kakak kamu!" ajak Safania hang langsung menarik pergelangan gadis yang usianya di bawahnya itu. Naila langsung menepos tangan itu dari pergelangan tanganya karena ia merasa jika, Safania hanya sok asik padanya.
"Kalau Kakak sedang di perjalanan seharusnya Kakak sudah sampai sejak tadi,"
"Nai di perjalanan tadi Kakak terjebak macet makanya baru sampai, ya sudah mari kita lihat mas Lendra!" ajak Safania yang kembali mengengam tangan Naila dan gadis itu kembali melepasnya dan kini justru Safania melangkahkan kakinya meninggalkan tempat ini. Ia berharap dengan perbincangan singjat antara ia dan adik iparnya itu membuat orang yang menahanya ini lupa dan dapat melepaskanya.
"Mau kemana kamu?, kamu belum bertanggung jawab dan ingin melarikan diri. Dimana jiwa tanggung jawab kamu?, setidaknya tunggu keluarga pasien datang dan minta maaflah pada mereka baru kamu boleh meninggalkan rumah sakit!" ucap Security itu yang kini menarik tubuh Safania dan kembali memutarkan kedua tangan gadis itu kebelakang punggung Safania.
"Bertanggung jawab?, emang apa yang ia lakukan Pak hingga Bapak menahanya?" tanya Naila.
__ADS_1
"Ia sudah mendorong seorang Bapak hingga masuk ugd dan sekarang ia berusaha melarikan diri makanya saya menahanya!"
"Mendorong?, Kak sebaiknya kalau Kakak sudah tau bersalah harusnya Kakak bertanggung jawab bukanya melarikan diri. Naila yakain kok kalau kita punya niat yang baik pasti Allah bantu tapi, kalau niatnya tudak baik seperti ini pasti nanti prosesnya akan sulit!" saran Naila.
"Tahan saja Pak, suruh tunggu sampai orang yang di dorong oleh wanita ini sadar dan tunggu keluarganya datang biar keluarga yang berikan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya!" ujar Naila lagi yang kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju ruangan Lendra.
Dari kejauhan Naila sudah dapat melihat mamanya dan Tania yang sedang duduk di kursi yang berada di depan ruangan kakaknya. Tania menyenderkan kepalanya di bahu mertuanya dan Liora dengan lembut mengelus kepala menantunya.
"Ma, ini minumanya!" ucap Naila seraya memberikan kantong plastik yang di bawanya pada Liora.
"Tan, kamu minum dulu Nak, tenangkan dahulu diri kamu!" ucap Liora dan Tania menuruti perintah mertuanya. Ia meneguk setegah dari botol minumanya. Naila dan Liora hanya dapat saling pandang. Wajah Tania terlihat sangat murung dan sedih sangat tampak ia sedang memikul banyak beban. Air mata Naila menitih melihat kondisi kakak ipar kesayanganya.
"Tania beruntung punya mertua sebaik Mama. Tania hanya kurang beruntung memiliki suamiĀ yang tidak perduli dengan Tania!" ujar Tania yang langsung memeluk Liora dengan sangat erat dan menumpahkan seluruh tangisanya di tubuh wanita ini.
"Tante Liora!" panggil Vania yang baru saja menghampiri mereka dengan kecepatan lari yang di punyanya. Dengan nafas tergesa gesa dan memburu, ia menyerahkan ponselnya pada Liora. Ia baru saja dari kantin rumah sakit untuk membeli makan siang mareka.
"Naila, Papa kamu kemana?" tanya Liora setelah melihat layar ponsel Vania dan Naila hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan menandakan ia tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan wanita yang telah melahirkanya itu.
__ADS_1
"Kenapa Ma?" tanya Tania setelah air matanya berhenti menetes.
"Ma!" panggil Naila pula yang melihat mamanya hanya terdiam dan ia segera mengambil benda yang di pegang okeh Liora dan melihatnya langsung.
"Tadi Kakak sedang perjalanan kesini makanya, Kakak ngk sempat ngangkat telpon dari Kak Lendra. Ayok sekarang kita jenguk kakak kamu!" Naila seketika mengingat perkataan Safania. Wanita itu ternyata sudah membohonginya.
Safania lama datang kerumah sakit dan baru menjenguk kakaknya ternyata, sebelumnya ia juga baru saja menemui selingkuhanya terlebih dahulu, pantes saja Safania tadi menatapnya dengan sangat ketakutan. Hal yang paling mengejutkan Naila ketika ia membaca artikel yang mengabarkan jika, papanya akan mengambil ahli perusahaan yang sudah di berikan kepada Lendra akan di ambil kembali oleh Delino. Ia yakin bahwa itu hanya berita hoak karena tidak mungkin papanya melakukana hal itu tampa persetujuan keluarga terlebih dahulu. Ia menyakini ini hanya berita yang di tayangkan oleh oknum oknum yang inhin mendapat pundi pundi keuangan yang lebih banyak dengan melibatkan nama keluarganya.
"Itu hanya berita hoak Ma, tidak mungkin Papa setega itu pada Lendra. Kak Lendra masih di rumah sakit dan Papa mengambil perusahaan yang sudah di urus kak Lendra sejak lama itu tidak mungkin dan papa tidak mungkin melakukan tindakan tampa persetujuan Mama!" ucap Naila yang kembali menyerahkan ponsel Vania pada sang pemiliknya.
"Bagaimana jika itu benar Nai?, Bagaimana kelangsungan hidup kakak kamu, kamu taukan Papa kamu kalau sudah memutuskan sesuatu pasti ia akan melaksanakanya. Lendra pasti akan sangat kecewa kalau tau hal ini karena dia yang sudah merintis perusahaan itu dari nol!"
"Ma, papa kalau memutuskan sesuatu selalu izin dahulu dari Mama dan coba mama ingat, apa papa pernah mengatakan atau mempertanyaakan ini pada Mama, tidakan?, sudahlah lebih baik kita berpikir positif saja pada keputusan yang dibuat mau pun yang akan di buat Papa!"
"Feeling Mama menagatakan ini benar Nai!"
"Jika memang benar ya sudah Ma buarkan saja inu menjadi keputusan Papa!"
__ADS_1
"Kamu kok begitu si Naila, kamu ngk mikirin lanjutan hidup kakak kamu selanjutnya?"