
"Mama aku yang manis, nih Naila kasih tau ya kalau anak Mama ini dengan lelaki yang Mam mau itu sudah berteman dengan baik dan tidak mungkin Naila merusak ya dengan hubungan hubungan seperti itu yang belum pasti jodoh Naila yang ada nanti kak Evandi malah ilfil ke Naila!" balas Naila tersenyum palsu pada mamanya itu yang terkesan sangat mengharapkan Evandi menjadi menantunya.
"Pokoknya Mama akan bilang ini ke Lendra biar kakak kamu yang bantu mendekatkan kamu dengan Evandi!"
"Apaan sih Ma, Naila baru tamat Sma jadi, Naial belum ada niatan buat nikah dan Naial juga ngk mau di jodoh jodohin seperti itu kayak Naila ngk laku aja, yang mau sama Naila tuh banyak ya Ma jadi, ngk perlu tuh Naila yang deketin mereka tapi, harus mereka yang deketin Naila. Naila harus memiliki harga diri yang tinggi sebagai seorang wanita!" ucap Naila dengan tegas namun, terdengar konyol. Sedewasa apa pun kata yang keluar dari mulutnya tetap akan terdengar biasa saja karena sifat Naila yang masih kekanak kanakan.
"Mama senang kalau kamu memiliki pemikiran seperti itu berarti kamu bisa menjaga kodrat kamu sebagai wanita tapi, kamu juga harus mengubah pola pemikiran kamu karena tidak semua hang di jodohku itu akan berakhir buruk."
"Iya Naila tau Ma, tapi Naila belum ada niat atau buat kesitu dan Naila masih mau ngejar pendidikan Naila setinggi tingginya biar bisa kayak kak Lendra punya perusahaan dimana mana dan disegani banyak orang." ucap Naila yang mulai membayangkan ketika ia masuk kedalam sebuah gedung besar dan semua orang yang ada disitu tertunduk saat bertemu atau akan melewatinya seperti yang biasa karyawan Lendra lakukan pada kakaknya.
"Kalau kakak kamu itu wajar karena dia seorang lelaki, dia harus menafkahi istrinya sedangkan kalau kami nanti akan dinafkahi jadi, tidak terlalu fokus ke hal itu juga tidak apa apa!"
"Ihhhh apa sih Mama, Naila pokoknya masih lama nikah dan Niala masih mau nikmati masa muda Naila dengan kesenangan Naila sendiri!" ujar Niala yang langsung meninggalkan Liora karena ia tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan mamanya yang terus membahas Evandi di hadapanya.
"Mama ingin kamu bersama lelaki yang dewasa Nai, sifat kamu itu seperti anak anak walau pun usia kamu sudah belasan tapi kelakuan kamu masih seperti bocil yang usianya masih 5 tahun, kalau kamu bersama lelaki yang usianya lebih tua dari kamu, insyaallah mereka dapat membina dan mengajari kamu dan memahami sifat kamu yang suka manja." gumam Liora menatap kepergian Naila yang kini hanya terlihat punggungnya saja.
__ADS_1
Langkah Naila terhenti melihat kedekatan yang terjalin antara Rusdi dan Vania di dapur. Jarak keduanya terbilang sangat rapat bahkan tubuh mereka saling bersentuhan dan dari kejauhan Naila dapat melihat tangan Rusdi yang memegang tangan Vania dan Vania yang menatap ekarah Rusdi tampa kedip.
Tak lama setelahnya Naila juga melihat Rusdi membungkukan tubuhya dan meniup tangan Vania, keduanya tampak seperti sepasang kekasih yang romantis.
"Sakit," ucap Naila dengan manja seraya menunjukan ujung jarinya yang sedikit berdarah pada Rusdi yang sudah memegang kapas dan obat memar di tanganya. Tanpa berkata Rusdi segera membalut tangan Naila itu dengan kapas yang dipunyanya, sebelumnya ia mengecup ujung jari Naila agar tidak terus mengeluarkan darah segar.
Dan hal itu juga di lakukan Rusdi pada wanita lain selain dirinya dihadapanya sendiri hanya bedanya Rusdi tidak mengecup jarinya Vania. Entah mengapa dadanya terasa sesak melihatnya padahal ia sendiri tidak memiliki hubungan apa pun dengan pria ini selain kedekatan sebagai seorang kakak dengan adik dan ia juga juga mengenal Rusdi karena ia adalah teman kakaknya.
"Makasih!" ujar Vania tersenyum tipis dan memandangi tanganya yang baru saja disentuh oleh Rusdi.
Walau kecanggungan masih terjadi pada Vania dan Rusdi. Rusdi masih menunjukan perhatiannya pada wanita ini. Vania yang meminta Rusdi untuk mengajarkan cara memotong sosis malah tanganya yang ******* pisau.
"Nai sini!" panggil Rusdi. Naila hanya tersenyum paksa dan mengerakan kakinya untuk mendekat dengan dua orang ini walau langkahnya terasa sangat berat dan sulit digerakkan. Tak sedikit matanya mengarah pada Vania dan Rusdi ia langsung melanjutkan pemotongan sosis yang belum selesai.
"Kak tadi mama nanyain kak Evandi, kata mama kak Evandi ngk datang kesini?" tanya Naila dengan nada dewasanya berusaha memecahkan keheningan yang terjadi. Sejak kehadirannya tidak ada perbincangan yang terjadi diantara mereka bertiga.
__ADS_1
"Tadi Evandi bilang mau langsung pulang saja," jawab Rusdi sembari meletakan wajah diatas kompor setelah menyalahkan.
"Kok gampang banget sih, caranya gimana?" tanya Vania penasaran. Seketika Naila langsung menatap Vania tak percaya, bagaimana seorang wanita tidak tau cara menghidupkan kompor dan Vania yang terlihat sangat antusias ingin melakukan hal yang seperti yang dilakukan Rusdi barusan.
"Van!" Rusdi langsung menarik tangan Vania yang hendak menyalahkan kompor yang masih hidup. Lagi lagi Naila harus melihat tangan Rusdi menyentuh tangan Vania. Ia langsung mengalihkan pandanganya dan tetap melanjutkan kegiatanya memotong sosis.
"Mau cobain," ujar Vania dengan semangatnya. Ia menyingkirkan sedikit tubuh Naila yang berada di tengah mereka dan berdiri di sebelah Rusdi
Rusdi merasa tak enak hati pada Naila namun, ia juga tidak tega untuk menyuruh Vania sedikit menjauh darinya apalagi melihat keinginan Vania yang cukup besar untuk mengetahui cara menghidupkan kompor.
"Aku bisa," teriak Vania kegirangan ketika api mulai keluar dari kompor dan ia juga terus mengulang hal ini berulang ulang. Terlihat dari raut wajahnya Vania benar benar merasakan kebahagian dan ia perlahan mulai melupakan masalah yang sedang di hadapinya.
"Kompornya sudah hidup Kak," ucap Naila
"Iya Nai akhirnya aku bisa menghidupkan kompor, sumpah seneng banget Nai," Naila ikut tersenyum melihatnya walau sebenarnya senyum itu tidak tulus. Ingin marah tapi, ia dan Rusdi hanya sebatas teman biasa dan Vania juga tidak melakukan hal ini, ini hanya kejadian biasa lalu, kenapa ia merasakan cemburu hingga membakar hatinya. Vania juga tidak sedikit pun terlihat mengoda Rusdi, ia hanya ingin mengerjakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah di cobanya.
__ADS_1
"Nai, sosisnya sudah selesai?" ujar Rusdi mengalihkan pembicaraan seperti ia mengerti dengan arti tatapan Naila walau pun gadis itu menjelaskanya tapi, ia terlalu takut untuk mengatakan pada Vania agar tidak terlalu dekat denganya dan ia juga tidak ingin di bilang terlalu pede karena belum tentu juga Vania menyukainya.
"Sudah Kak," jawab Naila seraya memberikan mangkuk yang sudah berisi sosis.