
Pagi yang masih berembun, udara yang masih terasa segar, dan cahaya yang mulai masuk kedalam ruangan yang yang menjadi tempat Tania istirahat. Ia bangun lebih awal dari anak anak yang lain dan tampa mengusik tidur anak anak, itu ia langsung merapikan tempat ini dengan seksama.
"Kakak sudah bangun?" tanya gadis yang semalam membantunya dan Tania hanya membalasnya dengan anggukan dan seuntai senyum manisnya.
"Wah, sudah rapi saja Kak, Kakak yang merapikan semuanya?" kagum anak itu setelah melihat sekitarnya semua sudah tampak bersih dan rapi dan Tania hanya dapat tersenyum.
"Dek, terima kasih sudah mengizinkan Kakak untuk istirahat di sini!" ucap Tania sembari mengelus bahu anak itu dengan lembut.
"Kakak harus pamit pulang, Kalian jaga diri baik baik ya!" lanjutnya
"Kakak tidak tinggal di sini lagi?" Tania hanya mengeleng.
"Lain kali kita berjumpa ya, sekarang Kakak pamit dulu, bilangi juga sama temanya Kakak berterima kasih sama kalian!"
"Iya Kak!"
Evandi, Kini lelaki itu sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Setelah mendapat telpon dari Sari, Rusdi segera berangkat ke rumah sahabatnya dan di dalam kamar Evandi, ia sudah melihat tubuh sahabatnya itu tergelatak di atas lantai dengan darah yang mengucur di beberapa bagian tubuhnya akibat dari terkena pecahan kaca dari benda yang di pecahkanya.
"Gimana keadaan Evan?" tanya Lendra yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Evan belum sadarkan diri!" jawab Rusdi karena dari semalam ia dan Sarilah yang menunggu Evandi di rumah sakit di dalam ruang tunggu.
"Kondisinya gimana? Apakah parah?" tanya Lendra yang tampak sangat panik.
"Loh harusnya ngk usah kesini, kasihan bini loh, lohkan baru nikah, gue sama Bi Sari bisa kok ngerawat Evandi!"
"Loh kok ngomong gitu sih!" Lendra.
"Gue kasihan sama istri loh, belum apa apa sudah loh tinggal aja!" balas Rusdi.
"Apa yang Den Rusdi katakan bener Den, Den inikan baru nikah harusnya Den sama istri saja dulu, kasihan baru nikah sudah di tinggal!" ucap Sari yang ikut dalam pembicaraan kedua anak muda itu.
__ADS_1
"Gimana istri pertama loh sudah pulang?" tanya Rusdi dengan alis kanan yang sedikit naik.
"Belum!"
"Pasti loh ngk carikan?" tebak Rusdi dan Lendra hanya menggangguk.
"Gue kecewa sama loh bro!" ucap Rusdi yang langsung meninggalkan Lendra dan Sari.
"Maksud loh apa?" tanya Lendra berusaha tenang walau sebenarnya ia mulai tersulut emosi mendengar ucapan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu. Rusdi menghentikan langkahnya tampa menoleh ke arah belakang.
"Emang loh ngk bisa mikir?" ucap Rusdi dengan nada santai.
"Loh nyari masalah sama gue? Apa karena gue semalam ngk ada bantuin loh?"
Mendengar ucapan Lendra yang mulai salah paham padanya, tak sedikit pun Rusdi mempermasalahkan kejadian malam tadi karena hanya ia dan Bi Sari yang mengantar Evandi kerumah sakit dan ia sangat mengerti dengan posisi Lendra sebagai pengantin baru dan semalam adalah malam pertamanya.
"Bukan gitu maksud gue Bro!" ujar Rusdi dengan nada lembutnya, kini lelaki itu sudah berdiri di hadapan Lendra dan menyentuh sedikit bagian bahu Lendra dan itu langsung di tepis oleh Lendra.
"Dia yang ninggalin gue di hari pernikahaan kita bukan gue!" balas Lendra berusaha untuk membenarkan dirinya.
"Siapa pun orangnya ngk bakal rela Bro, ngelihat pasanganya menikah lagi apalagi di hari pernikahaanya!" ucap Rusdi pula.
"Loh ngk ngerti posisi gue Bro!"
"Gue emang gak ngerti dan gue juga ngk niat buat di posisi loh!" ucap Rusdi dengan kedua bola mata melotot dan tangan kananya mulai mengepal. Ia sekarang benar benar tersulut emosi, sahabatnya ini memang sangat egois dan keras kepala.
Ia hanya mengingikan apa yang akan membuatnya bahagia saja tampa memikirkan orang lain.
"Kalau loh ngk ngerti, mending loh diam aja!" balas Lendra tak kalah melotot dan kini jari telunjuknya tepat mengarah kearah wajah Rusdi.
"Sudah, sudah, kenapa Den Lendra dan Den Rusdi malah berkelahi, lihat di dalam Den Evan masih terbaring lemah dan kalian di sini malah ributnya, bukanya mendoakan keselamatan Den Evandi!" lerai Sari yang sedari tadi hanya diam menyaksikan keributan yang di ciptakan oleh dua anak muda di depanya dengan menjauhkan tubuh keduanya.
__ADS_1
"Saya hanya tidak ingin memiliki teman bajingan Bi!" gumam Rusdi dengan sinis.
"Maksud loh apa?" teriak Lendra dan langsung menarik kera baju Rusdi dan dengan cepat Sari langsung melepaskanya serta menarik tangan Rusdi agar menjauh dari Lendra.
Setelah mendudukan Rusdi di salah satu kursi yang ada di rumah sakit ini, Sari kembali menghampiri Lendra yang masih berdiri di tempatnya.
"Den, Apa yang di katakan Den Rusdi benar, sebaiknya Den, mencari dahulu keberadaan istri pertama Den, selesaikan masalah rumah tangga Den, selesai itu kembalilah kesini!" saran Sari.
Tampa berkata kata lagi, Lendra langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini. Ia merasa terhina dengan ucapan Rusdi yang mengatakanya ia adalah seorang bajingan dan Sari turut dalam membela Rusdi. Benar benar hari yang sial, pikirnya.
"Den!" panggil Sari yang kembali menghampiri Rusdi.
"Saya hanya tidak habis fikir, setega itu Lendra pada wanita, sekali pun ia tidak mencintai istrinya lalu kenapa dia menikahinya?" ucap Rusdi.
"Saran Bibi, Den tidak salah dalam menasehati Den Lendra tetapi sebaiknya Den mengunakan bahasa yang lembut dan enak di dengar agar Den Lendra dapat mengerti dengan maksud baik Den Rusdi, tidak seperti tadi marah marah dan dengan nada yang tinggi, pasti tadi Den Lendra sangat tersinggung dengan ucapan Den!"
"Aku ngak nyangka Bi, dia bisa setega itu sama wanita yang di nikahinya!"
"Iya, Bibi ngerti maksud Den, tapi sebaiknya bahasa Den dalam menasehati Den Lendra mengunakan bahasa yang lembut saja!"
"Sudahlah Bi, Rusdi malas bahas tentang dia, mending sekarang kita masuk dan lihat keadaan Evandi!" ucap Rusdi yang langsung berdiri.
"Akhhhhhhhhhhh!"
"Brengs*k!"
"Sial*n!"
Plaakkkkkk
Lendra membanting setir mobilnya dengan kuat, ucapan Rusdi terus saja tergiang di pikiranya.
__ADS_1
"Andai saja dia bukan sahabatku, aku sudah pasti menghabisinya, dia sudah benar benar kelewatan!" ucap Lendra dengan penuh dendam dan amarah serta tatapan tajam yang terus mengarah pada jalanan yang masih ramai di penuhi orang karena lampu merah.