
"Kalian akan berangkat sekarang?" tanya Delino yang melihat keduanya tengah duduk diatas sofa dan Lendra yang duduk diatas kursi rodanya. Tania langsung bangkit dari posisinya dan mensejajarkanndirinya dengan Liora. Lendra hanya mengangguk tanpa menjawab.
Naila dapat membaca kekecawaan kakaknya pada papa mereka tapi, Naila juga tidak dapat berbuat apa apa. Apa yang sudah dikatakan Delino tidak mungkin untuk di ubah kalau pun berubah itu sangat sulit.
"Tania, Mama titip Lendra ya, jaga dan rawat dia setidaknya saat ini dia masih suami kamu. Mama tidak apa apa jika kamu memarahinya untuk hal yang benar. Mama sangat mengharapkan perubahan dari diri Lendra dan Mama yakin kamu akan menjadi alasan akan hal itu!" ujar Liora tersenyum lebar dan mengelus bahu Tania dengan lembut.
"Pa!" Naila.
"Len ini ada sejumlah uang untuk kamu pakai menyewa rumah!" ujar Lendra menyerah amplop berwarna kecoklatan pada anak sulungnya. Tampa berkata apa pun Lendra membuang arah pandanganya dari Delino pertanda ia tidak ingin menerima uang itu.
"Mas!" Tania memberikan kode agar Lendra menerimanya sekiranya untuk menghargai pemberian mertuanya dan tidak memperlihatkan kekecewaan Lendra pada orang tuanya. Uang itu juga nantinya dapat mereka pergunakan sembari menunggu pekerjaan.
"Aku tidak ingin menerima uang apa pun bukankah Papa yang bilang aku harus memulai semuanya dari nol!"
"Untuk saat ini kamu harus menerima uang dari Papa!"
"Aku tidak ingin Pa!"
"Mas!"
"Tania, Kamu saja Nak yang menerimanya!" Liora.
"Tania jangan terima uang itu!"
"Mas niat Papa baik Mas!"
"Aku suami kamu!"
__ADS_1
"Lendra turunkan gengsi kamu. Kamu harus memulai semuanya dari nol bukan hanya dari segi keuangan saja tetapi kamu juga harus menurunkan wibawa kamu yang sangat tinggi itu!" ujar Delino sembari menyerahkan amplop yang di pegangnya lada Tania.
"Kenapa Papa jadi merendahkan Lendra seperti ini?"
"Bukan Papa merendahkan mu tapi, suatu saat kamu akan berterima kasih Papa karena telah bersikap seperti ini pada mu. Sekarang cukuplah kamu membenci Papa!"
Setelah berpamitan dan menjabat tangan kedua mertuanya Lendra dan Tania mulai meninggalkan rumah kebesaran orang tua Lendra dengan mengunakan taksi. Lendra menghubungi salah satu temanya atau lebih tepatnya mantan bawahanya untuk mencarikanya kontrakan.
Sesampainya di depan kontrak pilihan rekanya itu. Tania sepertinya tidak menyukdi pilihan keduanya. Lendra dapat melihatnya dari raut wajah Tania yang tampak risih dengan keadaanya sekarang.
"Kamu tidak suka ya Tan, maaf ya sekarang aku cuma bisa nyewa ini dulu kalau kamu tidak nyaman dan ingin meninggalkan ku. Aku persilahkan karena aku tidak ingin memaksa siapa pun untuk bertahan dengan ku!" jujur Lendra.
"Kamu yakin ingin tinggal di rumah ini Mas?" tanya Tania menatap sekitarnya yang banyak ditumbuhi pohon pohon rindang dan bunga yang tampak segar. Lendra hanya mengangguk pasrah. Tania pasti tidak menyukai rumah baru mereka.
"Maaf Bu jika rumah pilihan saya tidak sesuai ekpetasi Ibu karena uang dan bajet yang di berikan Pak Lendra pada saya hanya mampu untuk rumah ini saja!" jawab prang itu sembari membungkukan sedikit tubuhnya.
"Apa?, uang Mas Lendra hanya cukup untuk satu rumah ini?" tanya Tania menaikan sebelah alisnya dan menatap tajam kearah suaminya. Lendra juga tampak menunduk malu karena tak mampu memberikan kenyaman pada istrinya.
"Seharus kalau kamu tau uang Mas Lendra hanya cukup untuk satu rumah ini sebaiknya kamu menyewakan rumah lebih kecil dari ini saja biar uang lebihnya bisa buat kami makan atau bayar bulan untuk kedepan bukanya malah menyewa rumah sebesar ini. Aku dan Mas Lendra bukan lagi orang kaya!"
Seketika Lendra langsung mengangkat kepalanya dan menatap istrinya dengan seksama. Apakah ia sedang salah dengan atau ini memang kalimat yang diucapkan Tania?.
"Maksud Ibu?" tanya orang itu lagi.
"Saya ingin rumah yang lebih kecil dari ini karena saya yang ingin mengirit!"
"Baiklah kalau seperti itu Bu!"
__ADS_1
"Tan, Kamu serius rumah ini terlalu besar bukankah ini berukuran cukup kecil?"
"Iya rumah ini memang terbilang kecil dari pada rumah papa dan rumah kamu, Mas dan rumah ini juga cukup kecil jika dibandingkan dengan rumah yang biasa aku tempati tapi, kita juga harus mengerti dengan keadaan kita sekarang bahkan untuk makan saja sekarang kita harus bekerja keras!"
"Baiklah jika itu keputusan kamu!"
Pada pilihan rumah kedua barulah sesuai dengan keinginan Tania. Mereka mulai memasukan barang mereka satu persatu kedalam rumah. Rumah berwarna yang menjadi warna favorite Tania. Rumahnya terbilang sempit bagi orang seperti Lendra. Sebenarnya Tania juga merasakanya karena Tania juga berasal dari keluarga yang berada hanya saja ia bersikap sederhana.
Selesai memasukan barang barang mereka. Pria yang membantu mereka mencarikan kontrak itu segera kembali dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus di selesaikanya.
Setelah membantu suaminya terbaring diatas ranjang. Tania mulai merapikan barang barang mereka. Hal yang paling di syukuri Tania saat ini mereka mendapat rumah kontrakan yang sudah berisi beserta perabotanya jadi, mereka tidak perlu untuk membelinya lagi. Ia hanya perlu merapikan baju baju mereka saja.
Belum selesai merapikan pakaian pakaianya yang masih berantakan. Tania merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia menolehkan pandanganya kearah kebelakang dan betul saja suaminya memeluknya dengan mata terpejam. Tania hanya tersenyum melihatnya dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Sayang temeni aku bobok!" ujar Lendra dengan suara khas orang tertidur. Suaranya terdengar mengemaskan.Tania mengelus beberapa kali wajah suaminya dan kembali melanjutkan pekerjaanya. Berulang kali juga Lendra memintanya untuk menemaninya.
"Sabar ya Mas aku selesaikan pekerjaan ku dahulu!"
"Ayoklah Sayang!" kali ini Lendra menarik tubuh Tania cukup kuat hingga gadis itu terbaring keatas ranjang dan Lendra langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Mau tidak mau Tania harus mengikuti keinginan suaminya dan ikut tertidur.
Namun sialnya mata Tania tidak bisa terpejam. Pikiranya masih melihat barang barangnya yang masih berantakan. Ia tidak bisa tertidur dalam keadaan seperti ini.
"Kamu ganteng banget Mas!" ujar Tania pelan kala ia menatap wajah suaminya yang sangat dekat denganya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Cuppp
Tania mendaratkan ciumanya pada kening Lendra. Sepertinya rasa cinta mulai tumbuh dari diri Tania bukan hanya semata hanya karena mereka sudah menikah dan Tania harus mencintai suami tapi, sekarang ia benar benar mencintai suaminya.
__ADS_1
"Apa keputusan waktu ku itu salah telah mengugat kamu, Mas?"
Tampa rasa bosan Tania terus memandangi wajah suaminya yang tampak tenang dan tampan. Diam seperti ini saja membuat jantung Tania berdebar tidak karuan