Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 73 - Ada apa dengan Vania?


__ADS_3

"Mas, mas itu bukanya Vania, Mas?" ucap Tania yang menunjuk keaeah seorang gadis yang masih memakai pakaian rumah sakit melalui jendela mobil Lendra. Lelaki itu mengikuti arah pandangan Tania dan melihat sosok yang di maksud oleh wanita yang ada di sebelahnya.


"Kamu salah lihat kali!" ucap Lendra yang kembali menatap kearah jalan karena ia hanya melihat seorang anak kecil yang sepertinya baru pulang sekolah dan tengah menunggu anggkutan umum.


"Ngk itu Vania, Mas!" kekeh Tania mencoba membuka pintu mobil Lendra yang masih melaju dan mau tidak mau Lendra harus menghentikan mobilnya.


"Vania!" teriak Tania keras setelah keluar dari mobil Lendra dan ia menelusuri jalanan di bawah terik matahari mencari sosok yang di maksudnya, tetapi sepertinya wujud yang dilihat sudah menghilang.


"Mana Vanianya?" ucap Lendra yang berada dibelakang Tania dengan kedua tangan dipinggangya dan menghembuskan nafasnya melihat kelakuan istrinya.


"Tapi tadi aku lihat Vania, Mas, dia pake baju rumah sakit, apa Vania lagi sakit ya Mas, tapi dia kok ngk ngabarin aku dan Rafa juga tidak memberitau aku, apa ada sesuatu buruk yang terjadi selama kita jaga Mama dan Papa!" ucap Tania yang mulai khawatir.


"Tania, kamu bisa tidak perlu mikir yang aneh aneh, ngapain Vania keliling jalanan seperti ini sudah cuacanya panas banget lagi hanya kamu cewek yang mau keluar panas panas begini tampa tujuan cuma untuk mengosongkan kulit saja!" ucap Lendra yang tidak ingin semakin lama berada ditempat ini, ia segera menarik tangan Tania agar kembali masuk kedalam mobil.


Tania masih saja menatap sekitarnya, ia merasa jika yang dilihatnya tadi tidak salah, ia benar benar melihat Vania walau hanya samar samar, tapi wajah Vania sangat familiar dimatanya, jadi tidak mungkin ia salah mengenali sepupunya.


"Vania!" teriak Tania lagi dan langsung berlari kearah sebuah mobil yang sedang melaju karena pergerakan Tania yang secara mendadak, Lendra tidak dapat menahan tubuh Tania dan terpaksa wanita itu terlepas dari tanganya.


Dan benar saja, Lendra melihat Vania sudah berada disekitar mereka, tetapi yang sedikit mengkhawatirkan pria ini adalah Vania sedang berjalan ditengah jalan dan sebuah mobil tengah menyebrang dan hal yang paling menakutkan baginya adalah Tania malah berlari kearah mobil itu dengan sengaja.


Tak mau hal buruk terjadi pada Tania, Lendra juga ikut berlari kearah Vania dan Tania dengan cepat mendorong tubuh Vania ketepi aspal agar terhindar dari mobil yang sedang melintas dan Lendra dengan sigap segera menarik tubuh Tania hingga keduanya sama sama terjatuh didekat got.

__ADS_1


"Tania!" Vania berusaha bangkit dari posisinya yang terlempar kebebatuan yang cukup jauh, bokongnya terasa sakit, pinggangnya terasa remuk, dan kepalanya terasa sedikit pusing karena terbentur dengan bebatuan yang ada disekitarnya. Ia tetap memaksakan diri untuk bangkit dan menghampiri Lendra dan Tania.


Tubuh Lendra dan Tania juga tergampar ketepi jalan yang tak jauh dari got, tubuhnya keduanya sama sama tergeletak diatas rerumputan dengan tubuh Lendra yang menindih tubuh Tabia yang lebih kecil darinya. Tidak ada jarak diantara keduanya bahkan Tania dapat mendengar detak jantung Lendra dan karena terlalu dekat hidung keduanya saling bersentuhan.


"Ternyata Tania cantik banget, wajahnya sangat mulus!" puji Lendra dalam hati hang menatap wajah Tania dengan seksama, tampa disadarinya, tanganya mulai meraba wajah Tania dan Tania hanya tersenyum melihat suaminya.


"Tan!" panggil Vania dengan suara lemahnya dan dengan kakinya yang pincang berhasil menyadarkan Tania dan Lendra. Keduanya segera bangkit dan menghampiri Vania yang langsung membalikan badanya saat melihat posisi Lendra dan Tania yang tidak senonohnya, keduanya memang tidak tau tempat, gumam Vania.


"Parah banget sih loh pada!" ucap Vania menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya, matanya sudah ternoda dengan pemandangan yang baru saja disaksikanya.


"Itu juga unsur ketidak sengajaan!" ucap Lendra, mendengar ucapan lelaki itu Vania kembali membalikan badanya dan menatap Tania dengan mata berkaca kaca dan ia langsung memeluk tubuh Tania dengan sangat erat dan air mata yang membasahinya wajahnya.


"Van kok kamu nangis sih?" tanya Tania yang mulai merasakan basah dibagian wajahnya yang terkena air mata Vania dan ia langsung melepas pelukanya dan menatap wajah Vania yang tertunduk.


"Van, kamu kenapa?" tanya Tania lagi karena tangisan Vania semakin kuat. Tania menatap kearah Lendra yang berdiri dibelakang Vania dan lelaki itu hanya mengeleng menandakan ia tidak tau apa yang terjadi pada Vania.


"Van, kamu kenapa kalau ada sesuatu kamu bisa kok cerita keaku dan Mas Lendra, kamu ngk harus nyimpen sendiri, kita bakal ada buat kamu Van!" ucap Tania yang tidak tega melihat keadaan sepupu sekaligus sahabatnya itu yang semakinĀ  terisak dan ia kembali membawa tubuh Vania kedalam dekapanya.


"Sini aku peluk juga!" ucap Lendra dengan merentangkan kedua tanganya. Tania langsung menatap tajam kearah suaminya dengan kedua bola mata melotot pada pria itu.


"Tan, gue sudah salah paham ke Rafa!"

__ADS_1


"Ya sudah kamu minta maaf sama dia!"


"Kesalahaan gue fatal banget Tan, gue ngk bisa maafin diri gue, gue bahkan sudah menghina Nadya dan ayahnya, Tan, gue ngerasa berdosa banget!"


"Ya sudah kali, loh datang kerumah Nadya dan minta maaf kemereka!"


"Rafa ninggalin gue dan gue ngk tau sekarang Rafa dimana dan Paka Vandir juga tidak tidak tau kemana. Tan, Lend bantu gue buat nyari mereka gue ngerasa berdosa banget kalau gue belum nyampein permintaan maaf gue secara langsung!"


"Terus kenapa kamu pakai baju rumah sakit gini, kamu sakit?" tanya Tania yang kini memutarkan tubuh Vania dihadapanya untuk memastikan tidak ada hal buruk terjadi pada Vania.


"Tan, gue ngkpp, Tolong bantuin gue ya buat cari Rafa, Gue mohon banget Tan!"


"Iya aku bantu kok!" ucap Tania tersenyum pada Lendra.


"Aku juga siap kok untuk bantuin kamu!" ucap Lendra yang juga tersenyum manis pada Vania. Ia bisa memanfatkan hal ini untuk menjadikan alasannya tidak jadi honeymoon bersama Tania dan Tania juga pasti tidak akan mau untuk bersenang senang saat Vania menangis seperti ini.


"Akhirnya aku dapat bernafas lega dan tidak jadi harus pergi berdua dengan wanita ini!" gumam Lendra yang tersenyum sendiri.


"Kamu beneran mau bantu Vania, Mas?" tanya Tania yang merasa ragu dengan ucapan Lendra. Walau ia tau Lendra adalah orang baik tapi ia juga tidak memastikan kalau suaminya benar benar tulus membantu saudaranya dan Lendra hanya memgangguk.


"Makasih banget ya Lend!" ucap Vania yang kini tangisanya mulai meredah walau belum sepenuhnya berhenti.

__ADS_1


__ADS_2