
"Pintunya di kunci mama, Mas!" ujar Tania yang masih di landa kantuk karena ia semalaman tidur terlalu larut malam.
"Saya tidak nanya kamu!"
"Saya hanya memberitahu!"
Lendra hanya menghela nafasnya panjang, kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur sedangkan Tania, ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Liora dan Naila, kini keduanya sedangkan di sibukan menyiapkan sarapan dan Delino yang masih sibuk membaca koran harian dengan di hidangkan secangkir kopi dana seduhkan oleh tayangan tivi yang tidak di tonton.
"Ma, kak Tania mana?" tanya Naila yang sedang merapikan makanan di meja makan.
"Mungkin masih tertidur!" jawab Liora dengan santai. Ia sepertinyaa tidak ingat jika ia mengunci pintu kamar anaknya.
"Lama banget bangun!" ujar Naila.
"Namanya juga pengantin baru Sayang!"
"Ibu"
Naila dan Liora seketika langsung menghentikan kegiatanya dan menatap orang yang baru saja muncul di hadapan mereka. Dengan santainya Safania masuk kedalam rumahnya tampa mengetuk maupun menekan bel dan tidak mengucapkan salam sama sekali.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Liora setelah memperhatikan seluruh penampilaan Safania dari bawah hingga atas.
"Saya bawain ini buat ibu!" ujar Safania sembari memberikan totabag hitam yang di bawanya dan Liora hanya meletakan pemberian Safania di atas meja makan.
"Ibu mau sarapan? Saya bantu ya Bu!" ucap Safania yang langsung memegang piring yang sedang di lap Naila.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya!"
"Saya mau bertemu pak Lendra, Bu!"
"Saya tanya sama kamu, sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan anak saya?" tanya Liora dengan wajah tegasnya dan menarik piring yang di pegang Safania.
__ADS_1
"Sa ... say ... saya saya temannya pak Lendra, Bu!" hampir saja Safania mengatakan jika ia adalah istri Lendra, untung saja ia masih mengingat kejadian malam tadi saat Lendra hanya mengakuinya sebagai teman.
"Lalu untuk apa kamu datang kerumah teman kamu pagi pagi seperti ini?"
"Saya ada .... i ... itu saya ada pekerjaan sama pak Lendra!" jawab Safania dengan beberapa kali penjedaan di mulutnya.
"Kalau ada pekerjaan kenapa tidak di kerjakan di kantor saja Kak?" timbal Naila.
"Pekerjaan mendesak!"
"Pandai sekali kamu mencari alasan!" jawab Liora semakin menaruh ketidak sukaan pada Safania yang terus memberikan jawaban.
"Naila, kamu panggil Papa kamu ajak makan!" ucap Liora yang sudah duduk di kursi meja makan.
Dreetttttrrrttttt
Handphone yang di letakan Liora di dekat meja makan kini bergetar dan dengan cepat Safania langsung mengambil ponsel itu dan memberikanya pada Liora. Safania yang sudah bersikap baik bukannya mendapat pujian dari mertuanya, justru semakin membuat Liora semakin ifil padanya karena ia beranggapan jika wanita ini hanya sedang mencari perhatianya.
Liora menatap layar ponselnya dan melihat nama kontak yang menghubunginya, ia sedikit heran mengapa Lendra menelponya, bukankah ia serumah dengan anaknya, apakah anaknya ini lupa jika ia sedang tinggal di rumahnya, pikir Liora.
"Astaga Mama lupa, Nak!" ucap Liora yang langsung memukul jidatnya.
"Naila, Naila, Naila!" teriak Liora.
"Lendra kenapa di kunci di kamar Bu?" tanya Safania yang mendengar Liora telponan dan langsung di hadiahi tatapan tajam oleh Liora dan Safania hanya dapat terdiam.
"Apa Ma!" sahut Naila yang kini sudah berada di meja makan bersama Delino.
"Apa sih Ma pagi pagi sudah teriak!" ujar Delino yang langsung duduk di kursi meja makan.
"Tolong bukain pintu kamar kak Lendra, kuncinya ada di laci meja yang ada di dekat kamar kak Lendra!" ucap Liora dengan tangan yang sedang menyendok nasi kedalam piring Delino.
"Mama ngunci kak Lendra?" ulang Naila.
__ADS_1
"Yasudah kamu buka sana pintunya!"
"Pantes saja kak Tania ngk keluar keluar dari tadi ternyata mama kunciin!" ucap Naila.
"Biar saya saja Bu yang bukain!"
"Ngk usah Naila saja!"
Safania sedikit kecewa dengan jawaban Liora yang tidak mengizinkanya karena bagaimana pun ia adalah istri Lendra walau tampa sepengetahuan orang tua Lendra dan tentu ia merasa cemburu melihat Lendra dan Tania dalam satu kamar walau pun keduanya juga memiliki ikatan pernikahaan yang sama sepertinya.
"Lendra sekamar dengan wanita itu, posisi ku benar benar terasingkan karena dia!" gumam Safania yang kini wajahnya sudah memerah karena menahan rasa cemburi yang tidak dapat di ungkapkanya.
"Cieeee yang sekamar, gimana malam pertamanya?" goda Naila yang kini sudah berada di daun pintu dan melihat wajah Lendra yang tampak murung dan cemberut sedangkan Tania berada di belakang Lendra.
"Lama banget sih bukain pintu!" ketus Lendra yang langsung berjalan mendahalui keduanya.
"Kak, teman Kak yang semalam datang tuh!"
"Temen yang mana?"
"Yang semalam sama Kakak di rumah!"
"Makanannya sudah selesai!" ujar Nadya dengan sumringahnya dan membawa makanan yang sudah di buatnya dan Vania yang membawa peralatan makan seperti piring dan alat makan lainya.
"Kamu masak apa Nad?" tanya Rafa meninggikan kepalanya dan melihat isi mangkuk yang di bawa Nadya.
"Aku buati gulai daging ayam spesial!" jawab Nadya sembari meletakan mangkok makananya di atas meja.
"Aku juga buati sosis nih!" jawab Nadya seraya mendekatkan piring yang berisikan sosis itu pada Rafa.
Kecurigaan Vania pada Nadya dan Rafa kini semakin membesar bagaimana bisa Nadya yang baru mengenal Rafa langsung mengetahui jika pacarnya itu menyukai sosis. Ada apa hubungan keduanya? Atau saat ini ia hanya sedang merasakan cemburu?, pikir Vania
"Sudah ini hanya aku sedang berfikiran buruk saja!" gumam Vania meletakan piring yang di bawanya dan berusaha untuk menyingkirkan firasat buruk yang sedang muncul di benaknya.
__ADS_1
"Kesukaan Ayah juga ini nih pete!" ucap Vandir mengupas petai petai itu.
"Rafa juga mau tuh Pak!" ujar Rafa yang juga ikut mengeluarkan petai petainitu dari kulitnya.