Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 46 - Pemakaman Tifani


__ADS_3

"Kak Lendra jangan buat keributan di sini!" ucap Naila yang tampak panik dan kembali menarik lengan Lendra yang sudah berdiri di belakang Tania yang sedang memeluk Vania dengan erat.


"Apa sih Nai?, Kakak juga mau turut berduka cita!" kesal Lendra yang segera menepis tangan Naila dan duduk di sebelah Tania.


Vania menatap wajah Lendra dengan penuh kedendamaan dan kemarahaan, andai saja ia tidak menikahi sepupunya, pasti hal ini tidak akan terjadi, sekali pun ini terjadi, Tifani masih dapat menatap wajah cantik Tania sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.


"Ngapain kamu kesini?" teriak Vania yang langsung berdiri di depan Lendra dan menatap lelaki itu dengan matanya yang sudah sangat memerah.


"Aku ingin menyaksikan pemakaman ibu mu!"


"Tidak perlu, aku tidak butuh, sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan membuat keributan di sini!" bentak Vania mendorong tubuh Lendra agar segera meninggalkan rumahnya.


"Aku hanya ingin berturut berduka cita dan kamu mengusir ku?" binggung Lendra.


"Aku tidak butuh, aku hanya ingin kamu pergi dari sini dan tinggalkan tempat ini!" usir Vania semakin mendorong tubuh Lendra jauh dari tempat ini. Naila ia tidak dapat berbuat apa apa, ia dapat merasakan kekecawaan yang di rasakan oleh Vania, andai saja ia merasakan hal sama mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama pula. Naila juga tau kalau kakaknya sudah mengecewakan banyak orang termasuk orang tuanya sendiri.


"Vania, kamu tidak bisa mengusir Mas Lendra seperti itu!" bela Tania yang kini sudah berdiri di belakang tubuh Vania yang berada di tengah tengah ruangan yang sudah di penuhi banyak orang.


"Aku hanya tidak ingin melihat lelaki ini di sini!" ucap Vania dengan tajam dan jari telunjuknya mengarah pada wajah Lendra.


"Kalau kamu mengusir Mas Lendra, sama saja kamu sedang mengusir aku!" ucap Tania yang masih kekeh pada pembelaannya terhadap lelaki yang beberapa hari ini sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


Lendra menatap Tania yang masih berdiri tegak di tempatnya, wanita ini benar benar membelanya, terlihat dari matanya terpancar sebuah ketulusan yang tidak pernah di lihatnya dari bola mata Safania, gadis yang sangat di cintanya. Entah mengapa tiba tiba saja hati Lendra tergetar melihat Tania.


"Tania, kenapa kamu masih bisa membela lelaki seperti dia?" bentak Vania dengan kembali menunjuk kearah Lendra.


"Baik, buruknya Mas Lendra, dia tetap suamiku Van!" balas Tania.


"Dia yang sudah menghancurkan kamu Tan!"


"Vania, Tante Fani belum di makamkan, jangan kita membuat keributan di sini, Mas Lendra juga boleh menyaksikan pemakaman ini sampai selesai!" ucap Tania.


Naila semakin merasa tidak enak pada Vania, ia mengerti dengan perasaan Vania saat ini, ia segera menghampiri Lendra dan menarik lengan kakaknya agar meninggalkan tempat ini sebelum keributan yang di ucapkan Tania benar benar terjadi.


Kali ini Lendra tidak menepis tangan Naila, ia menuruti permintaan gadis kecilnya, ia juga merasa tidak enak hati pada Naila dan ia juga tidak ingin membuat suasana semakin riuh karena kehadirannya.


"Kamu tetap di sini!" ujar Tania menatap mata indah yang terpancar dari lelaki itu. Lendra menatap tangan Tania yang kini sudah mengandeng tanganya. Naila juga menyaksikan hal itu, tangan Tania menyentuh bahkan mengengam tangan kakaknya namun, sepertinya hal itu tidak di sadari oleh Tania.


"Aku tidak ingin membuat kerusuhan!" ujar Lendra kembali melanjutkan langkahnya tampa tarikan dari Naila.


"Aku yang meminta mu di sini!" ucap Tania.


"Aku tidak layak di sini!" balas Lendra menjeda langkahnya tampa menoleh kearah belakang.

__ADS_1


"Tante Fani adalah Mama kedua ku, aku adalah istri mu, maka Tante Fani adalah mertua mu dan kamu berhak untuk ikut andil dalam pemakaman hingga mendoakan Tante Fani!" ujar Tania.


Vania tidak dapat lagi berkutik, ia tau betul bagaimana karakter sepupunya ini, apa pun yang sudah di katakanya tidak dapat di bantah, apalagi jika hal itu tentang kebaikan, dia akan tetap bersih kukuh pada pendirianya, kepribadian memang keras kepala. Segala unsur keterpaksaan dalam dirinya di gabungkannya menjadi satu untuk menerima kehadiran Lendra di rumahnya.


"Aku hanya ingin turut berduka cita, aku janji tidak akan membuat keributan di tempat ini!" ucap Lendra yang sudah berjalan menghampiri Tania dan untuk pertama kalinya ia menatap mata Tania dengan jarak yang sangat dekat tampa memiliki kemarahaan sedikit pun.


Tania sedikit merasa gerogi dengan tatapan yang terpancar dari mata Lendra, ia kembali duduk di atas lantai dan Lendra mengikuti serta duduk di sebelah istrinya.


"Kak Tania memang orang baik, pasti suatu saat nanti kak Lendra nyesel sudah menyia nyiakan wanita setulus Kak Tania, tapi Naila janji Kak, Naila akan berusaha menyadarkan Kakak kalau wanita terbaik untuk Kakak adalah kak Tania dan Naila tidak akan membiarkan Kakak merasakan penyesalan itu!" lirih Naila yang kemudian duduk di sebelah Lendra.


Semua kini masih berdiri di depan nisan Tifani, pemakaman telah usai di laksanakan, doa baru saja selesai di lantunkan, tinggallah Vania yang masih memeluk nisan ibunya dengan erat dan terus saja terisak sedangkan Tania yang juga hancur, berusaha untuk menguatkan Vania, ia mengelus punggung sepupunya itu dan juga memeluknya dengan hangat.


"Tan, temenin gue ya kalau gue dalam kesusahan, Mama sudah ngk ada buat ngedengerin hal random dari gue, tinggal loh yang gue punya!" isak Vania menyenderkan kepalanya di lengan kanan Tania.


"Tantekan pernah bilang kalau kamu itu bukan anak tunggal, kita bersaudara, walau pun Tante sudah tiada, Aku siap kok dengerin semua keluh kesah kamu dan selamanya kita akan tetap menjadi saudara!" ucap Tania yang langsung memeluk tubuh Vania dengan erat.


"Aku juga akan siap kok menjadi sahabat kamu dan aku juga siap buat hadir di masa kesedihaan mu dan tidak akan meninggalkan mu di masa kesulitan mu!" ujar Nadya yang kini ikut memeluk keduanya yang sebelumnya ia berdiri di sebelah Rafa yang berdiri di sebelah Lendra, Rusdi dan Evandi.


"Di sekitar kamu masih banyak orang baik, ada Rafa yang selalu nemenin kamu dan bahkan dia juga selalu menyempatkan diri di sela sela waktunya yang sibuk!" ucap Tania menatap Vania dengan senyum lebar yang terbit di bibirnya.


Degghhh, tiba tiba jantung Nadya terdetak ketika mendengar nama Rafa, ia langsung mengarahkan penglihatanya pada Rafa, dan betul saja yang di katakan Tania, ia melihat jika arah pandangan Rafa terus saja tertuju pada Vania, tidak sedikit pun lelaki itu menoleh padanya.

__ADS_1


"Sesayang itu kamu sama Vania, Raf, ternyata kamu sudah melupakan semua momen momen kebersamaan kita, kamu masih sendiri menunggu kehadiran mu, sedangkan sudah mencintai gadis lain dengan begitu hebatnya. Maafkan aku yang tidak sekaya gadis lain hingga orang tua mu tidak menyetujui kita!" lirih Nadya yang kemudian menundukan kepalanya dan cairan bening penuh kekecewaan kini menetes dari kelopak matanya.


Setelah mendengar nama Rafa di sebutkan oleh Tania, Vania menatap pada Rafa yang sedang tersenyum padanya. Ia benar benar beruntung di miliki dan di cintai dengan tulus oleh lelaki seperti Rafa yang selalu ada di sampingnya.


__ADS_2