
"Uhhhh lama banget sih Kak lihat Mama aku juga mau lihat Mama aku tau!" kesal Naila pada Tania yang sudah keluar dari dalam ruangan Liora bersama Lendra.
"Ihhh Kak Lendra apaan sih!" teriak Naila lagi semakin kesal karena Lendra menarik ujung bibirnya Naila yang tidak berhenti mengomel. Tania hanya tertawa melihat kekocakan di keluarga ini. Di balik sifat keras Lendra ternyata ia sangat menyayangin adiknya.
"Gue cari minum dulu ya, haus!" ujar Evandi seraya mengelus lehernya.
"Tapi tuh minuman loh masih ada!" Rusdi menatap pada tangan Evandi yang memegang botol minum yang sebelumnya di belikan oleh Tania dan belum habis. Evandi menatap benda yang sama dengan Rusdi.
"Gue lapar mau makan!" elak Evandi yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Kenapa tuh anak?"
"Tau!" acuh Naila yang kemudian masuk kedalam ruangan Liora dan Rusdi yang berada di belakang adik kesayangan Lendra ini. Kini di tempat ini hanya ada Tania dan Lendra, Kedua saling melemparkan pandangan di saat yang bersamaan. Tania merasa biasa saja, tapi entah mengapa Lendra segera membuang pandangannya dan beralih menatap permukaan yang lain.
"Mas kita pulang dulu yuk, ambil pakaian Mama dan papa, baru nanti kita balik lagi kerumah sakit!" ajak Tania sedikit canggung karena Lendra sejak tadi hanya diam dan tidak memulai topik pembicaraan diantara keduanya. Suasana benar benar senyap dan sunyi.
"Kamu di sini saja, biar aku dan Safania yang mengambilkan pakaian untuk Mama. Kamu bantui Naila jagai mereka!" ujar Lendra setelah menatap layar ponselnya dengan senyum tipis yang terbitvdari sudut bibirnya ketika memandang benda itu. Tania menatap tangan Lendra yang sempat mengelus bahunya sebelum lelaki itu meninggalkannya.
Tania hanya dapat menarik nafasnya panjang dan kemudian menghembuskanya secara perlahan. Ingin rasanya ia berteriak dan marah pada keadaan. Tapi itu terlalu naif karena dari awal juga Lendra tidak pernah menunjukan ketertarikanya pada Tania. Sabar hanya itu solusi satu satunya dalam menyelamatkan rumah tangganya.
__ADS_1
"Aku jenguk papa ajah deh!" ujar Tania sembari melangkah menuju ruangan Delino.
Tidak bisa mendapatkan cinta suami, memanglah hal yang menyakitkan apalagi ketika ia memperlihatkan keromantisanya bersama istri keduanya, sungguh bukanlah hal yang mudah untuk di lalui, ibarat di teriris pisau yang baru itu masih lebih menyakitkan. Tetapi setidaknya setelah menikah dengan Lendra ia menemukan banyak orang dengan karakteristiknya masing masing. Ia juga menemukan teman dan keluarga baru, serasa kembali memiliki orang tua dan dapat merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik.
Ia memang di sakiti oleh Lendra tetapi di ia juga sangat di ratukan oleh keluarga lelaki sendiri, terlebih pada Naila yang selalu membela dan mendukungnya. Malu rasanya sudah mendapat banyak dukungan dan menyerah hanya karena satu orang, gumam Tania sembari melangkah menuju ruangan mertuanya.
Sesampainya Tania di ruangan Delino, ia melihat mertuanya itu sedang tertidur pulas di atas ranjang. Segera di balutkanya selimut tebal di atas tubuh lelaki paruh bayu itu. Merasa lelah seharian dengan aktivitasnya, Tania memutuskan untuk tidur sejenaknya di ruangan Delino.
Vania mengusap air mata yang membasahi wajahnya ketika mendengar suara ketukan dari luar kamarnya. Ia menetralkan dirinya dahulu, ia tidak ingin ada seseorang yang mengetahui perasaan hancurnya saat ini. Di bukakanya mulutnya dan di bentuknya senyum di sudut bibirnya, namun seketika senyum itu menudar ketika melihat orang yang masuk kedalam ruangan.
Orang ini memang tidak bersalah, mungkin saja ia juga tidak mengetahui hal apa pun tentang anaknya, tetapi tetap saja Vania tidak suka dengan kehadiran Vandir yang muncul di hadapannya karena bagaimana pun Nadya yang sudah menghancurkan hatinya, perlahan senyum itu memudar.
"Ada apa Bapak kesini?" tanya Vania pada menoleh pada Vandir dengan nada formalnya.
"Jangan tanyakan dia kepada saya!" Vandir membulatkan kedua matanya secara sempurna. Pendengaranya yang salah atau memang ucapan gadis ini seperti ini. Seakan tidak memiliki sopan santun dan tidak memiliki tata krama pada orang yang lebih tua darinya.
"Apa Rafa belum menjenguk kamu?"
Vania menerbitkan seuntai senyum sinis di bibirnya. Rasanya sangat malas untuk membahas hal ini, tetapi melihat wajah orang yang memiliki kaitan dengan Nadya membuat Vania memarahi orang itu habis habisan.
__ADS_1
"Bukankah Rafa sedang bersama anak Bapak?" tanya Vania menatap tajam pada Vandir dengan wajah menentangnya.
"Rafa bersama Nadya? Nadya tidak ada di dalam kamarnya?"
"Bapak bisa tidak sih Bapak mendidik anak? Bisa bisa Nadya mengoda pacar saya! Kenapa karena Rafa kaya? Sok baik, ternyata ada maunya! Matre bilang Pak!" teriak Vania yang sudah tidak dapat mengontrol dirinya. Mendengar Nadya yang tidak berada dalam ruanganya, menyakinkan Vania jika Rafa sedang membawa Nadya keluar dari rumah sakit untuk sekedar berkeliling dan menghirup udara segar yang berada di luar ruangan, seperti yang biasa Rafa lakukan padanya.
Deghhhhhh
Seakan di cerca secara bersamaan dan di iris dengan tajam, kalimat yang keluar dari mulut Vania benar benar menyakitkan hati Vandir. Tidak pernah ada sedikit pun niatya untuk mendapatkan lebih dari Rafa karena ia selama ini membantu Rafa tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun, tapi masih saja Vania tega melontarkan kata kata itu.
"Kenapa kamu berkata demikian anak muda?" tanya Vandir tetap tenang walau ucapan Vania sudah sangat menyakitkan.
"Lihat saja, di saat seperti ini, Rafa lebih memilih menjaga anak Bapak dari pada saya yang sudah hampir meninggal di sini karena menyelamatkan nyawanya!"
"Sejak kehadiran Bapak dan anak Bapak di kehidupan Rafa, hubungan kami sering ribut dan berantakan dan asal Bapak tau anak Bapak telah merusak hubungan saya dan Rafa lebih memilih anak Bapak dari pada saya orang yang selalu ada menemani dan memahami kondisinya!"
"Anak saya tidak seperti itu, ia perempuan baik baik!"
"Kalau dia baik tidak mungkin dia merusak kebahagian wanita lainya!"
__ADS_1
"Kamu pasti salah paham!"
"Salah paham dari mana Pak? Bapak hanya ingin membela dan meluruskan anak Bapak!"