Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 123 - Binggung


__ADS_3

Setelah merasa sedikit tenang dengan pikiraanya. Tania mengunjungi niat awalnya untuk melihat orang tua Lendra. Di dalam ruangan, Tania melihat kedua mertuanya yang sedang memajamkan matanya sepertinya mereka sedang istirahat. Tania menetes air matanya padahal ia masih berada di depan ruangan Liora. Rasanya tudak tega menyaksikan mertuanya terbarung tidak berdaya seperti ini dan ia justru menambah beban mereka dengan perpisahanya dengan Lendra.


"Kondisi Bapak dan Ibu sudah mulai membaik. Mereka sudah boleh pulang tapu, kondisi mereka juga harus di perhatikan dan mendapat perawataan yang maksimal. Kabar gembira yang ingin saya sampaikan mertua anda sudah dapat di rawat di rumah namun, saran saya mereka jangan di bebani dengan pikiran pikiran yang justru akan memperlambat penyembuhan mereka!" ujar Dokter yang juga berada di depab pintu dan berdiru di sebelah Tania.


"Baik Dok!" jawab Tania tersenyum. Tak perlu mikir lama lagi. Tania segera membereskan seluruh barang barang milik mertuanya yang di gunakan selama di rumah sakit. Ia juga merapikan bagian bagian yang berantakan yang berada di ruangan ini. Selesai merapikan semuanya, keduanya juga belum bangun dari tidurnya. Melihat wajah mertuanya ia tidak tega untuk mengugat Lendra tapi, apalah dayanya yang hanya manusia biasa. Ia menikah dengan putra mereka jadi, ia butuh cinta suaminya bukan hanya restu orang tua pihak laki laki.


Tania mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi adik iparnya. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban apa pun dari nomor yang di hubunginya hingga panggilan ketiga. Untungnya pada panggilan keempat usahanya tidak sia sia. Tania meminta Naila untuk merapikan rumah mereka agar ketika Liora dan Delino sampai kerumah. Kondisi rumah mereka sudah dalama kondisi  rapi dan bersih karena rumah sudah beberapa hari ini tidak mereka tempati.


Kini Tania hanya memainkan ponselnya sembari menunggu mertuanya terbangun. Sialnya, matanya malah ikut mengantuk akhirnya, ia memutuskan untuk menaruh kembali ponselnya dan tertidur di sebelah ranjang Liora dan ikut menyusul mereka ke alam mimpi yang membuatnya lebih tenang.


"Tania, menantu ku ikut tertidur menunggu kami!" ujar Liora tersenyum. Tangan meraih pergelangan tangan Tania dan tersenyum tipis memandang wajah tenang Tania yang sedang tertidur.

__ADS_1


"Mama sudah bangun?" ujar Tania yang merasakan adanya gengaman di tubuhnya. Liora yang tersenyum. Tania memutar pandanganya dan menoleh pada Delino yang masih terpulas.


"Papa nyenyak banget tidurnya Ma!" ucap Tania. Liora hanya mengusap rambut menantunya dengan lembut. Sifat Tania sangat tulus dan sepertinya tidak ada kebohongan yang di sembunyikanya.


"Ma, Dokter bilang Mama dan papa sudah boleh di rawat di rumah. Tania senang banget dengarnya, akhirnya mertua aku membaik!" ucap Tania yang langsung memeluk tubuh Liora dan Liora menyambutnya penuh kehangatan.


Tampa berpamitan dari Lendra, Tania membawa mertuanya pulang ke rumah. Ia berniat akan menyampaikan semua ini ke suaminya setelah selesai mengabtar mereka dan kembali kerumah sakit untuk melihat kondisi suaminya. Hari harinya di rumah sakit sunggu melelahkan harus merawat tiga orang sekaligus dan ia juga harus menyempatkan diri untuk ke pengadilan agama mengurus pernikahanya.


"Akhirnya Mama dan Papa kembali kerumah ini. Naila kangen banget tau kumpul di sini. Mama sih sama Papa betah banget di  rumah sakit apalagi kak Lendra sampai sekarang baringan mulu di ranjang rumah sakit!" ujar Naila memanyunkan bibirnya dan Delino langsung mencolek dagu putrinya yang memasang wajah mengemaskanya.


"Mama juga senang banget Sayang!" balas Liora.

__ADS_1


"Ya sudah yuk kita masuk!"


Tania mendudukan bokongnya di di salah satu sofa yang berada di ruang tengah. Ia juga memijit bagian kakinya yang terasa pegal. Matanya menatap ke arah dinding rumah yang tampak bersih. Ada suasana yang berbeda kali ini di tatapnya setelah berapa lama berada di rumah sakit. Delino dan Liora memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga. Mereka bagai burung yang baru di lepas dari sangkar. Kebahagian yang tidak dapat di ungkapkan akhirnya terbebas dari rumah sakit.


Kegiatan yang banyak menguras tenaga akhirnya, Tania kembali tertidur di atas sofa. Naila hanya tersenyum melihat wajah kakak iparnya yang terlihat sangat lelah. Naila hanya membiarkanya dan menghampiri orang tuanya untuk berpamitan dan menjenguk Rusdi yang masih berada di rumah sakit. Keberuntungan hari ini sedang berpihak pada Naila, Kiara sudah tidak menemani Rusdi dan Evandi juga sudah kembali kerumahnya. Kini hanya ada ia dan Rusdi yang berada di dalam ruangan.


Di tatapnya wajah Rusdi yang masih dalam kondisi terpejam. Wajahnya terlihat sangat tampan meski tidak setampan kakaknya. Tampa sadar, Naila tersenyum.  Ia juga berulang kali mengusap wajah lelaki itu dengan lembut. Ingin rasanya ia mengecup kening Rusdi namun, tidak ada keberanian dalam dirinya dan bagaimana pun tidak ada ikatan di antara mereka, sama saja Naila sedang melakukan perbuatan dosa. Ia tidak ingin itu terjadi. Ia mengurungkan niatnya itu jauh jauh. Naila juga mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa gambar wajah Rusdi yang masih tertidur di handphonenya.


"Ganteng banget sih!" ujar Naila menatap wajah Rusdi yang sudah berada di layar ponselnya.


"Naila, kamu sudah di sini?" tanya Kiara yang baru saja masuk kedalam ruangan Rusdi dengan beberapa kantong plastik di tanganya. Naila menatap tak suka kearah Kiara. Sejak awal bertemu wanita ini, ia sudah dapat membaca gerakanya kalau Kiara menyukai Rusdi secara terang terangan dan hal itu membuat Naila tidak pernah menyukai Kiara. Apalagi orang orang sekantor juga mengetahui hal itu, hanya saja Rusdi selalu menunjukan ketidak sukaanya pada Kiara tapi, wanita ini juga tidak pernah berhenti mengejar pria yang disukainya itu.

__ADS_1


"Nai, ini aku bawain makanan buat Rusdi, banyak kok jadi, kita juga bisa makan bareng. Aku banguni Pak Rusdi dulu biar kita makanya bareng. Sejak tadi pak Rusdi juga belum mendapat asupan apa pun!" ujar Kiara dengang tangan yang siap menyentuh tubuh Rusdi untuk membangunkan pria itu. Naila langsung menghentikan pergerakan Kiara dan memerintahkan Kiara untuk membiarkan Rusdi tetap tertidur. Kiara menolaknya karena sejak ia meninggalkan Rusdi, lelaki ini sudah terpulas dan ia belum memakan apa pun, di khawatirkan ia kehabisan energi. Naila semakin kesal, ia menilai Kiara sok perhatian dan sok tau.


__ADS_2