Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 36 - Tifani meninggal


__ADS_3

Lendra membayar seluruh belanjaan Safania, Safania yang sudah berjalan meninggalkanya lebih dulu dan ia juga membawa semua belanja Safania.


Lendra lebih dulu memasuki mobilnya dan meletakan seluruh belanjaanya di kursi belakang sedangkan Safania masih berada di luar dan ia kembali masuk kedalam mall untuk membeli minuman dan makanan untuk mereka cemilin di dalam mobil. Sembari menunggu Safania datang, Lendra membuka handphonenya dan melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Naila.


Lendra membuka salah satu aplikasi yang ada di dalam ponselnya dan membuka aplikasi berkirim pesan singkat di handphonenya, ia membuka percakapanya dengan Rusdi dan melihat foto yang lelaki itu kirim.


Lendra terkejut bukan kepalang, kini bukan hanya mamanya yang sakit, tapi penyakit jantung papanya juga kembali kambuh, setelah beberapa tahun ini tidak pernah terjadi. Lendra segera membalas chat Rusdi untuk menanyakan nama rumah sakit tempat orang tuanya di rawat.


"Sayang!" ujar Safania masuk kedalam rumah Lendra dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan di tanganya dan di letakanya di dalam mobil Lendra.


"Penyakit mama dan papa kambuh, mereka sekarang sudah berada di rumah sakit!" ucap Lendra dengan tatapan lurus kedepan tampa menoleh pada Safania. Safania terdiam, melihat tidak ada respon dari kekasihnya, Lendra segera melajukan mobilnya kealamat rumah sakit yang sudah Rusdi kirim padanya.


"Itu bukanya Rusdi ya?" lirih Vania menatap Rusdi dan Naila dari kejauhan, keduanya tampak romantis dan layaknya seorang kekasih, Naila bersandar di pundak lelaki itu dan Rusdi yang mengelus kepala Naila dan terus menatap wajah gadis yang sedang tertidur di dalam dekapanya.


Ia ingin menghampiri pasangan itu, namun baginya hal itu tidak terlalu penting, ia harus memastikan lebih dulu kondisi mamanya. Mau bagaimana pun, ia tidak dapat memaksakan keluarga Lendra untuk mencari Tania hanya akan memancing kemarahaanya saja dan ia juga tidak boleh berharap lebih pada Rusdi yang hanya memberikanya janji untuk membantunya.


Walau begitu, ia juga merasa sedikit kesal pada Rusdi karena ia yang telah berjanji, tetapi di saat kondisi Tania seperti ini, ia malah sempat sempatnya untuk berpacaran.


"Akhhh sudahlah!" ujar Vania menghembuskan nafasnya dan pergi menuju ruangan Tifani di rawat.


Di dalam ruangan Tifani, Vania mendapat Narsi yang sudah menangis sesegukan di atas tubuh mamanya, tangisnya tak biasa, ada tangisan hebat yang mengalir di wajahnya. Namun, Vania berfikir Narsi hanya khawatir dan cemas akan kondisi ibunya yang belum sadarkan diri.


"Ma, Vania datang!" ucap Vania tersenyum dan menyalam punggung tangan Tifani dan menciumnya, ia juga mencium kening wanita paruh baya itu kemudian memeluk tubuh Tifani dengan sangat erat.


"Mama cepat sadar ya!" ucap Vania.


"Non!" ucap Narsi setelah merasa sedikit tenang dan menatap wajah anak majikanya itu dengan tatapan nanar penuh kasihan, ia tidak tega untuk mengatakan hal ini pada Vania yang baru saja tiba dan senyumnya saja masih terukir indah di bibirnya kala memeluk majikanya.


"Ada apa Bi?" tanya Vania menatap wajah Narsi dan melepas pelukanya dari Tifani.


"Ibu sudah tiada!" ucap Narsi kembali menangis hebat. Vania di buat melongo dengan kalimat yang di ucapkan oleh pembantunya itu. Mulutnya hanya terbungkam, ia tidak tau harus mengatakan apa, ia berharap jika yang di dengarnya tadi ada kesalahan yang terjadi di indra pendengaraanya.

__ADS_1


"Non, Ibu sudah meninggal!" ucap Narsi kini menghampiri Vania yang berdiri di hadapanya dan langsung membawa tubuh Vania kedalam pelukanya karena setelah  ia mengatakan kalimat itu, Vania hanya terdiam seperti orang bodoh.


Di dalam pelukan Narsi, Vania terus menatap tubuh Tifani yang sudah tidak bernyawa, wajah mamanya terlihat pucat dan kulitnya lebih putih dari sebelumnya, seperti ada sinar yang menerangi jenazah wanita ini. Vania terus terdiam hingga akhirnya, tubuhnya juga terjatuh di atas lantai karena Narsi tidak dapat menahanya.


"Dokter, Dokter!" teriak Narsi.


Naila terbangun dari tidurnya mendengar suara teriakan seorang wanita yang mengusik tidurnya. Ia melihat arah sekitarnya sepertinya suara itu tidak jauh dari tempatnya. Sedangkan Rusdi segera mengalihkan pandanganya kearah lain agar Naila tidak menyadari, jika ia sejak tadi memandangi wajah gadis ini.


"Kak ada orang yang berteriak!" ucap Naila yang kini menatap wajah Rusdi.


"Iya itu biasa di rumah sakit manggil Dokter, kamu kayak ngk pernah kerumah sakit saja!" balas Rusdi.


"Kak, kita lihat yuk, sepertinya tidak jauh dari sini!" ajak Naila yang langsung menarik pergelangan tangan Rusdi, Rusdi menatap sejenak tangan Naila yang sedang mengengam tanganya, senyum tipis terbit di bibir pria itu dan mengikuti langkah Naila yang menariknya.


Naila dan Rusdi memasuki ruangan Tifani di rawat dan mereka melihat sosok Vania yang sedang pingsan.


"Nai, kamu panggili Dokter biar Kakak bantu Ibu ini angkat Vania!" ucap Rusdi yang langsung membopong tubuh Vania, sedangkan Naila berlari menuju ruangan Dokter agar segera menangani Vania.


"Non Vania pingsan setelah mendengar mamanya meninggal!" ucap Narsi tertunduk.


"Kak, Dokternya sudah datang!" ucap Naila yang sudah memasuki ruangan Vania bersama Dokter berusia lanjut di belakangnya.


Semua menyaksikan Dokter itu mengecek keadaan Vania. Raut wajah ketiganya tampak menegang, takut sesuatu buruk terjadi pada Vania.


"Pasien hanya kelelahan, dia hanya butuh istirahat yang cukup!" ucap Dokter.


"Dia kenapa?" tanya Naila menatap Rusdi.


"Mamanya baru saja meninggal!"


"Innalillah wa innaillahi rojiun!" lirih Naila dengan membungkan mulutnya mengunakan telapak tanganya.

__ADS_1


Lendra dan Safania kini sudah berada di dalam rumah sakit dan sedang berada di bagian administrasi untuk menanyakan ruangan Liora dan Delino di rawat. Keduanya segera melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat keduanya di rawat.


Lendra tidak melihat ada siapa siapa di sekitar ruangan tempat orang tuanya di rawat, tidak ada Rusdi dan Naila di tempat ini, tapi ia melihat dengan jelas Delino sedang di tangani Dokter melalui kaca putih yang terbentang di ruangan ini. Lalu, kemana adik dan sahabatnya ini?, pikirnya.


"Kemana Naila?" ujar Lendra mengambil ponselnya dan segera menghubungi Naila.


Naila segera keluar dari ruangan Vania untuk mengangkat telpon dari kakaknya.


"Kamu di mana Nai?" tanya Lendra.


"Aku di rumah sakit!" jawab Naila datar.


"Kakak juga di rumah sakit, gimana mama dan papa?" tanyanya antusias.


"Memang Kakak masih peduli sama mama dan papa?"


"Kamu kok ngomong gitu Nai, mereka orang tua Kakak, pastinya Kakak peduli dong!"


"Lalu kemana Kakak dari tadi?" ucap Naila yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.


Lendra mendudukan bokongnya di atas kursi yang berada di depan ruangan ini, ia menundukan kepalanya dan mengacak rambutnya. Pasti adiknya ini sedang marah padanya karena ia telah mengabaikan telpon darinya.


"Siapa Nai?" tanya Rusdi setelah Naila kembali memasuki ruangan Vania.


"Kak Lendra!" jawabnya singkat dan memegang pinggir ranjang Vania.


"Kamu temui Kak Lendra gih, biar Kakak yang bantui Ibu ini!" ucap Rusdi tersenyum dan memegang pundak Naila. Naila menatap sekilas tangan Rusdi yang sudah menempel di bahunya dan mengangguk.


"Bu, Naila pamit ya, mau lihat kondisi mama dan papa Naila!" pamit Naila dengan sopan Narsi.


"Iya terima kasih ya Nak, sudah membantu Ibu!" ucap Narsi dan Naila hanya tersenyum dan pergi meningggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Naila menghembuskan nafasnya malas, melihat kakaknya dari kejauhan, wanita itu ada lagi, pikirnya. Namun, mau tidak mau ia harus menghampiri Lendra dan Safania.


__ADS_2