Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 41 - Kiara mulai genit


__ADS_3

"Loh Widya?" tanya Evandi lagi.


"Sudahlah kalau mau bercanda nanti saja, sekarang kita pergi dari sini, aku takut nanti preman preman itu ngelihat aku!"


"Preman?"


"Evan, aku tau kamu marah sama aku karena aku nikah tampa sepengetahuan kamu tapi kamu juga harus bantu aku di culik dan di sekap oleh preman preman di sana!" ujar Tania dengan menujuk kearah luar jendela.


"Memang kamu salah apa?"


"Evan, kamu nanya di waktu yang salah, ayolah lajukan mobilnya sebelum preman preman itu mendekat dan kembali menangkap ku!"


Tampa membalas ucapan Tania lagi, Evandi segera melajukan mobilnya dengan kencang dan meninggalkan jalanan kota ini.


"Kenapa semuanya pada tertidur seperti ini?" ucap lelaki dengan pakaian serba hitam yang kembali masuk kedalam ruangan tempat Tania di sekap dan melihat orang suruhanya yang menjaga Tania semuanya tampak terlelap.


"Mana gadis itu?" ucap lelaki itu lagi sembari memegang tali pengikat Tania yang sudah tergelatak di atas lantai. Ia melihat kursi yang sebelumnya di pakai Tania dan kursi itu sudah kosong, sudah pasti gadis ini kabur.


"Bangun kalian semua!" bentak lelaki itu. Hanya satu di antara preman itu yang terbangun. Ia segera membangunkan kawanannya yang lain karena melihat atasanya ini tampaknya sangat murka atas kerjaan mereka yang tidak beres.


"Enak kalian semua tertidur ya!" ucap lelaki itu berjalan di antara mereka yang sudah berbasis rapi di hadapanya.


"Maaf Bos!" ujar salah satu di antara mereka tertunduk.


"Maaf, kamu pikir dengan permintaan maaf kamu, gadis itu kembali!"


Mendengar kalimat yang di ucapkan oleh bosnya itu, semua mata tertuju pada kursi yang di pakai Tania, hanya ada kekosongan dan orang yang memakainya juga sudah menghilang.


"Mana Arhan?" tanya lagi setelah memutarkan seluruh pandanganya pada sudut ruangan ini, namun tak di temukanya sosok anaknya itu.

__ADS_1


"Tuan Arhan sedang membeli makanan untuk gadis itu Tuan!" ucap salah satunya lagi.


"Makanan? Bukanya tadi sudah saya sediakan makanan?"


"Tadi gadis itu tidak mau makan jika hanya ada tempe dan ia menginginkan makanan yang lebih dan seperti biasa yang dia makan!"


"Bod*h!"


"Itu hanya akal akalan gadis itu untuk lari dan Arhan mengikuti keinginannya, dasar anak tidak berguna!" ucap lelaki itu lagi dengan menendang kursi kosong yang di pakai Tania sebelumnya.


"Sekarang kalian cari gadis itu!" pintanya.


"Pa!"


Lelaki serba hitam itu menatap kearah pintu masuk ruangan ini dan melihat sosok lelaki yang lebih muda darinya. Lelaki itu mengarah padanya dan membawa kantong plastik yang berisikan makanan.


"Buat siapa makanan itu?" tanyanya pada anaknya itu dengan tatapan tajam.


Lelaki itu malah membuang kantong plastik Arhan kesembarangan arah, Arhan yang masih tidak mengerti dengan papanya, menatap kearah makanan itu terbuang dan ia malah memungutinnya dan mengumpulkannya kembali serta memasukan makananya ketempatnya sedia kala.


Emosi lelaki itu semakin memuncak melihat kelakuan anaknya ini.


"Arhan, kamu lihat sekarang gadis itu menghilang dan kamu akan memberikan makanan itu kesiapa?" teriak lelaki itu di tempatnya. Arhan menghentikan kegiatanya dan kembali meletakkan makanan makanan itu di atas lantai dan ia hanya terdiam di tempatnya.


"Ini semua karena kamu!" ucap lelaki itu setelah menghampiri Arhan dan menunjuk tepat di wajah putranya dan kemudian pergi meninggalkan anaknya.


"Dia menipu ku!" gumam Arhan yang kini mengerti dengan maksud papanya karena sudah melihat kursi yang di duduki Tania sebelumnya sudah kosong.


"Lagi, lagi aku yang menanggung perbuatan kakak ku!" gumam Naila menatap mobilnya yang masih terparkir di depan rumah Vania. Air matanya kembali menetes, lagi lagi ada saja tangisan seorang wanita karena karena ulah Lendra. Ia mulai menekan remote mobilnya dan segera masuk kedalamnya.

__ADS_1


Sedangkan Rusdi ia segera mengarahkan mobilnya kekantor, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar waktu.


Di dalam mobil ia menyempatkan untuk menghubungi Sekretaris Lendra untuk mengumpulkan seluruh karyawan yang lain, agar ketika ia sampai di kantor seluruh bawahanya sudah berkumpul dan dapat segera di arahkan untuk mencari keberadaan Tania.


Rafa juga melakukan hal yang sama, ia memerintahkan Manajer untuk menemuinya di rumah Vania, agar nanti Manajer itu yang mengarahkan karyawan yang lain untuk melacak tempat Tania di culik. Nadya masih berusaha untuk menenangkan Vania yang tidak henti hentinya menangis.


"Aku harus cantik!" ucap Kiara sembari memperhatikan pantulan wajahnya di depan cermin yang ada di ruangan kerjanya. Setelah mengangkat telpon dari Rusdi, ia langsung memperhatikan penampilanya dan mempercantik dirinya.


"Gue sudah cantik kok, pasti nanti Pak Rusdi klepek klepek deh sama gue, secarakan Sekretaris sahabat sekalian bosnya ini cantik banget!" pujinya pada dirinya sendiri dan setelah memastikan dirinya lebih menawan dari sebelumnya, ia segera meninggalkan ruangan ini setelah menutupnya dan melaksanakan perintah Rusdi untuk mengumpulkan karyawan lainnya.


"Kita ngapain sih di kumpuli di sini?" bisik salah satu karyawan dengan karyawan lainnya yang sudah berkumpul di ruangan yang sudah di tentukan oleh Kiara.


"Tau nih sih Kiara!"


"Luh pada berisik ya, tinggal kumpul saja susah, ini itu perintah dari kesayangan gue!" ucap Kiara yang masih memperhatikan make up di wajahnya terpasang dengan rapi mengunakan cermin kecil yang selalu di bawanya.


"Memang kesayangan loh siapa?" tanya salah satunya lagi.


"Palingan juga Pak Lendra!" ujar salah satu karyawan dengan postur tubuh yang lebih gemuk dari pada yang lain. Ucapanya barusan mengundang tawa bagi yang lain. Kiara langsung menatap wanita yang selesai bicara itu dengan dengan tajam dan menghentikan kegiatan berkacanya itu.


"Siapa juga yang mau sama Pak Lendra, Ceo ketus, sombong dan angkuh itu!" ucap Kiara setelahnya semuanya selesai menertawakan dirinya.


"Terus siapa yang loh maksud?" tanya karyawan laki laki.


"Kalian kenapa sih pada nanya mulu, sudah jelas ya kesayangan gue itu Pak Rusdi, atasan yang selalu menghargai bawahanya dan tidak galak, idaman gue banget!" ucap Kiara yang mulai membayangkan hari harinya bersama Rusdi dan mulai tersenyum sendiri.


Tiba tiba saja ruangan ini menjadi hening, tidak ada perbincangan yang yang tercipta, semuanya tampak menunduk secara mendadak, sedangkan Kiara masih sibuk dengan cerminnya dan terus memperhatikan pantesan wajahnya melalui cermin itu.


"Berani ya loh ngambil kaca gue!" teriak Kiara tampa menatap wajah orang yang mengambil benda yang di pegangnya itu.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna dan mulutnya terbuka lebar melihat seseorang yang sudah berani mengangunya. Kini ia hanya dapat tertunduk saat melihat Rusdi yang sudah berada di hadapanya.


Rusdi kembali melangkahkan kakinya dan berada di di hadapan seluruhnya dengan berdiri tegak dan menatap seluruh bawahanya. Jiwa profesional dan kepimpinanya harus di mulai.


__ADS_2