
"Pak, maafkan kami kami tidak tau kalau Bapak adalah tuan Lendra. Tolong jangan laporkan kami ke P*lisi!" ucap lelaki itu memohon dan menundukan tubuhnya. Lendra mendorongnya dari hadapanya. Dalam keadaan tubuh yang tidak berdaya ia tetap melanjutkan langkahnya.
"Mau kemana dia?" lirih Aleta berlari mengejar Lendra yang berjalan sempoyongan. Belum lagi berkata kata tubuh Aleta langsung di dorong oleh Lendra. Lelaki ini benar benar tidak ingin di gangu ia hanya ingin mengerjakan apa yang di lakukannya.
Aleta yang terus terusan mendapat perlakuan seperti ini, akhirnya menyerah juga. Ia membiarkan Lendra berjalan tanpa arah dan segera menghubungi Zanuar untuk memberitau pria itu bahwa orang yang di titipkan padanya sudah melarikan diri.
"Pak, Pak Lendra melarikan diri!" aduh Aleta setelah sambungan udaranya terhubung. Sambungan selesai dengan cepat karena Zanuar tidak terlalu memperdulikan Lendra, tujuan utamanya menangkap Lendra adalah mengambil foto saingan iu bersama wanita di c*ub dan kini misinya telah selesai. Lendra sudah tidak penting baginya.
"Astagfirullah Mas Lendra!" lirih Tania menitihkan air mata dari pelupuk matanya. Sainganya bukan hanya Safania, kini ada wanita lain yang menjadi simpanan suaminya.
Selesai melakukan panggilan vidio call dengan Naila. Tania masih memainkan ponselnya untuk sekedar melihat berita berita terbaru di sosmed dan ia melihat foto suaminya di tempat malam bersama wanita yang tidak di kenalinya dan yang pasti itu bukan istri kedua suaminya.
"Kalau sudah seperti ini Tania juga sudah tidak tahan Mas. Tania mungkin mau di madu dengan Safania tapi tidak jika, kamu mempunyai wanita lain lagi di belakang aku dan aku juga tidak tahan dengan semuanya memang lebih baik kita akhirin saja pernikahaan ini karena dari awal pun kamu tidak pernah menginginkan berumah tangga dengan ku. Kisah dengan mu selesai dan akan ku akhiri cerita pahit dengan mu. Aku pamit!" ujar Tania menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
Ia langsung meletakan kembali handphonenya dan langsung membereskan beberapa pakaian yang dibawahnya ke Bali dan memasukannya kedalam koper. Dengan berat hati ia memandang seluruh sudut kamarnya. Benaknya kembali menginginkannya pada kejadian yang beberapa hari ini di laluinya bersama Lendra. Kejadian indah dan menyakitkan pun seketika menumpuk di ingatanya.
Sangat berat rasanya untuk mengambil keputusan ini, apalagi mertuanya yang sudah sangat sayang padanya tapi, apalah dayanya sebagai wanita biasa yang juga ingin di cintai. Maafkan aku Mas. Kata kata terakhir yang diucapkan Tania dan kemudian segera menarik kopernya keluar dari apartemen.
__ADS_1
"Apa apaan ini?" teriak Safania yang langsung membanting ponselnya kelantai hingga benda itu pecah hingga tak berkeping saat melihat foto suaminya yang sedang berkecup manja dengan wanita lain di belakangnya. Pantas saja Lendra sejak tadi tidak ada menghubunginya tidak seperti biasa bahkan telponya saja tidak dia di angkat dan sebelumnya Lendra mengatakan jika ia ingin ke Bali dan akan mengabarinya jika sudah tiba di sana tapi, sampai detik ini juga lelaki itu belum ada menelpon atau sekedar mengirimkan pesan singkat padanya ternyata, suaminya sedang bersama wanita lain yang pasti bukan istri pertamanya.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Safania membanting semua benda yang ada di dekatnya. Benda plastik, benda aluminium bahkan benda kaca sekali pun di hancurkan wanita itu. Emosinya mengebu gebu melihat hal tak menyenangkan itu. Mengunakan handphonenya yang lain, ia mencoba menghubungi Lendra kembali namun, tetap saja Lendra tidak mengangkatnya sama seperti sebelumnya.
"Kenapa Nai?" tanya Rusdi melihat ekspresi yang keluar dari raut wajah wanita itu yang tampak terkejut hingga handphone yang di pegangnya terjatuh, untung saja jatuhnya masih di atas sofa. Naila masih terbungkam dengan mulut yang terbuka lebar.
"Naila kenapa?" tanya Vania pula yang duduk di sebelah kiri Naila.
"Rus kenapa?" tanya Vania yang kini tertuju pada Rusdi yang duduk di sebelah kanan Naila. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Naila saat hp Naila terjatuh dan Naila tidak menjawab pertanyaanya. Rusdi melihat foto yang terpajang di ponsel Naila tampa izin wanita itu.
Vania juga ikut tercenggang melihat gambar yang ada di handphone Naila. Apa yang di rasakan sepupunya jika, melihat foto suaminya seperti ini? pikiran Vania langsung melayang pada Tania. Ia sudah tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Tania jika, melihat foto ini.
Rusdi langsung membawa Naila kedalam dekapanya. Ia sudah paham betul jika, Naila sudah seperti ini pasti traumanya kambuh lagi. Ia paling tidak bisa mendengar kabar jika, saudara lelakinya menyakiti wanita lain.
"Nai, sudah Nai, jangan nangis lagi!" ujar Rusdi mengelus kepala Naila dengan lembut namun, tangisan Naila justru semakin keras dan tidak dapat di kontrol. Hanya di dalam pelukan Rusdi, ia dapat menumpahkan seluruh kesedihannya selain pada mama dan papanya, bahkan Lendra sekali pun tidak bisa memberikan kenyamanan ini.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Naila histeris.
__ADS_1
"Nai sudah dek!" ucap Vania pula yang kini menenangkan Naila, ia mengelus bagian punggung wanita ini.
Mendengar teriakan dari ruang keluarga, Liora dan Delino segera keluar dari kamar dan menghampiri tiga muda yang masih berkumpul ini.
"Naila kenapa kamu, Nak?" tanya Liora yang menarik tubuh Naila dari Rusdi dan memeluknya dengan sangat erat dengan mata yang memandang kearah Rusdi dan Vania yang tertunduk takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang harus mendengar kabar jika, anaknya sudah melakukan hal yang tidak baik.
"Rusdi ada apa?" tanya Delino yang beridir di belakang istri dan anaknya. Rusdi hanya mengeleng. Ia benar benar takut untuk memberitau Delino. Ia takut penyakit jantung pria ini kembali kambuh.
"Vania?" Delino kini bertanya pada Vania yang juga tertunduk sejak ia datang, sedangkan Naila semakin keras tangisanya hingga sesugukan.
"Naila jangan seperti ini Nak, jangan buat Mama khawatir seperti ini!"
"Kak Lendra, Ma, kak Lendra!"
"Kak Lendra kenapa?"
Vania yang juga tidak kuasa menahan tangisnya, segera keluar dari rumah Lendra dengan air mata yang juga sudah mengalir dari pelupuk matanya. Rusdi menatap kepergian Vania, ingin tau apa yang di rasakan Vania. Vania pasti sangat kecewa pada sahabatnya yang sudah memperlakukan sepupunya dengan sangat tidak baik tapi, ia juga tidak dapat menahan kepergian Vania.
__ADS_1
"Tan, kamu ngkppkan disana?, Andai saja saat itu akan melarang kalian honeymoon pasti semuanya tidak akan seperti ini, aku malah mengizinkan kalian. Aku memang bo*oh Tan, maafkan aku!" ujar Vania dengan jari jemari yang sibuk menekan beberapa tombol di ponselnya untuk menghubungi Tania dan memastikan keadaannya saat ini.
"Tan, ayo angkat Tan, angkat!" panik Vania di depan pintu rumah Lendra.