
Safania semakin tidak berkutik. Keadaan benar benar menjebaknya tadi, ia bertemu dengan adik iparnya sekarang bertemu dengan istri pertama suaminya. Keadaan benar benar memaksakan untuk harus bertanggung jawab. Apa ia harus mengaku pada suaminya dan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi tapi, ia juga harus siap menerima semua keputusan suaminya. Ia tidak siap untuk itu. Bukan hanya kehilangan Lendra, ia juga akan kehilangan pundi pundi keuanganya.
"Mertua ku cuma satu Tania kamu jangan mengada ngada!" ujar Safania dengan rasa campur aduknya. Rasa takut, rasa kesal, semua menyatu dalam dirinya. Tania bicara dengan nada seriusnya. Sepertinya Tania juga bukan orang lemah seperti dalam bayanganya, wanita ini juga dapat melawan sewaktu waktu, ia harus berhati hati lagi dalam bertindak. Seperti kata orang, jangan remehkan bicaranya seorang pendiam.
"Lalu, apa maksud bapak ini?"
"Sudahlah lebih baik kamu diam!" ujar Safania mendorong sedikit tubuh Tania.
"Kamu ini ya!" murka Security yang menahanya dan semakin menguatkan cengkramaan tanganya pada wanita ini.
"Pak, ada apa dengan wanita ini hingga Bapak menahanya seperti ini?"
"Dia telah mencelakai seorang Bapak dengan mendorongnya dan bukanya bertanggung jawab malah ingin melarikan diri sejak tadi bahkan ia juga berusaha untuk menyuap saya dengan menawarkan sejumlah uang. Orang seperti inilah yang harus menjadi tahanan dan perlu diamankan!" ucap Security itu dan langsung di hadiahi tatapan tajam dari Safania.
"Bohong!" ucap Safania cepat.
__ADS_1
"Biar saya yang mengamankan orang ini Pak!" security itu menatap Tania seakan tidak percaya. Ia memiliki keraguan pada wanita ini. Mungkin saja Tania merupakan teman wanita yang di tangkapnya dan mereka bekerja sama untuk melarikan diri. Ia tidak boleh percaya pada sembarang orang. Memastikan lebih baik.
"Tidak, Saya harus benar benar memperhatikan orang ini bertanggung jawab. Apa jangan jangan kamu ini keluarga beliau dan kamu berniat untuk membawa wanita ini pergi dan lari dari tanggung jawab!"
"Iya. Saya bagian dari keluarga wanita ini!" jawab Tania dengan tegas dan menjeda sedikit ucapanya dan kembali melanjutkanya setelah menatap tajam kearah Safania yang juga menatapnya tak kalah tajam.
"Saya adalah menantu dari lelaki yang di tabrak oleh beliau dan saya juga merupakan istri pertama dari suaminya jadi, saya tidak mungkin membiarkan wanita ini untuk lari dari tanggung jawabnya. Saya ingin suami saya mengetahui kelicikan istri keduanya yang telah mencelakai orang tuanya dan berniat untuk melarikan diri dan suami saya juga sekarang sedang di rawat di rumah sakit ini dan karena beliau pula ibu mertua saya juga di rawat lalu, apa alasan saya untuk membantunya?" ucap Tania penuh dendam.
Tania memang wanita baik, ia tergolong wanita sabar tapi, wanita mana pun jika suaminya lebih perhatian pada wanita lain pasti akan merasa cemburu apalagi ia tau jika, Lendra sangat mencintai Safania dan selalu memgabaikanya. Ia tidak merasa iri atau cemburu, ia hanya heran pada Lendra yang bisa sangat mencintai Safania sedangkan Safania tidak pernah ada di saat ia membutuhkanya.
"Apa benar kalian satu mertua?" tanya security itu menatap Safania dan wanita itu hanya mengangguk pelan.
"Pak bantu saya membawa wanita ini keruangan suami saya kalau saya sendiri yang membawanya, ia akan melakukan pemberontakan dan malah melarikan diri!"
"Baiklah!"
__ADS_1
"Safania!" dengan mata penuh binaran, Lendra menatap tiga orang yang masuk kedalam ruanganya. Beberapa hari berada di Bali membuatnya merasakan rindu gang mendalam pada wanita yang di cintainya. Hanya dengan melihat wajah istri keduanya, kemarahaan, kekesalaan serta bosan yang di rasakanya seketika memghilang. Ia seakan lupa dengan apa yang sudah di lihatnya di media sosial. Mendengar suara Lendra yang sedikit berteriak, Vania mendongkakan kepalanya dan menatap kearah pintu.
"Safania, akhirnya dia datang juga menjenguk istrinya!" ucap Vania dengan sinis dan kemudian bergantian menatap Lendra yang terlihat sangat bahagia. Hal itu terpancar dari raut wajahnya.
"Akhirnya kamu jenguk aku Sayang!" ucap Lendra antusias. Ia langsung memeluk tubuh istrinya yang kini sudah dekat denganya dan Tania hanya dapat menatapnya malas. Keputusanya untuk mengakhiri pernikahaanya adalah keputusan tepat untuk saat ini. Safania merasa menang, Tania pasti merasakan sakit yang mendalam melihat ini.
"Sayang kamu sakit? Sakit apa? mana yang sakit?" Vania yang menyaksikanya berasa ingin muntah melihat pemandangan yang ada di hadapanya. Pemandangan yang hanya merusak pemandanganya saja. Ia sudah tidak habis pikir dengan pemikiran Lendra, iq sudah menyaksikan istrinya sedang berduaan dengan lelaki lain saat ia sakit dan ia sedikit pun marah pada Safania. Benar benar sifat yang berbanding balik, Tania yang selalu menemaninya justru perasaanya selalu di sakiti perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Peluk saja yang erat Mas. Kita hanya butuh beberapa hari lagi untuk mengakhiri pernikahaan kita jadi, kamu tidak.perlu menjaga perasaan aku. Aku hanya ingin memberitau kalau papa sekarang di rawat di rumah sakit. Papa terjatuh dan Safania adalah pelakunya. Bapak ini merupakan saksi yang menyaksikan langsung Safania mendorong papa dan Safania justru ingin melarikan diri, Bapak ini pula yang sejak tadi menahanya bahkan Safania juga tadi mendorong ku!" aduh Tania yang mengatakan hal yang di ketahuinya.
Lendra langsung menatap Safania dengan tajam dan melepas pelukanya perlahan. Ia masih tidak yakin dengan apa yang di dengarnya. Tania pasti berbohong, tidak mungkin Safania sejahat itu tapi, Tania membawa bukti dan tidak mungkin pula Tania berbohong karena bagaimana pun ia sangat menyadari jika istri pertamanya mempunyai sifat yang baik, tidak mungkin pula Tania menjelekan Safania di hadapan orangnya langsung.
"Ibu ini sejak tadi ingi melarikan diri makanya menahanya, ibu ini juga tadi menawarkan sejumlah uang untuk saya agar melepasnya!" aduh security itu pula. Wajah Safania seketika berubah menjadi merah. Wajahnya pucat pasih. Habislah sudah riwayat hidupnya. Tania benar benar mengatakan hal ini pada suami mereka.
"Apa itu benar Safania?" tanya Lendra berusaha untuk menahan amarahnya.
__ADS_1
"Ibu ini juga mengatakan kalau tidak ingin berpisah dengan Bapak makanya, ia berniat untuk melarikan diri!"
"Saya tidak akan menceraikan kamu!" semua mata kini tertuju pada Lendra. Tidak munafik, sempat terlintas di pikiran Tania, jika dengan mengatakan hal ini pada suaminya, Lendra akan dapat bersikap adil dan meminta maaf atas perbuatanya tapi, ternyata betul berharap pada siapa pun adalah usaha awal.untum menghancurkan diri dan ia tengah melakukan hal itu. Lendra justru akan tetap mempertahakan rumah tangga mereka, sejahat apa pun Safania, wanita itu tetap nomor satu di hatinya.