
Lendra bangun lebih dulu dari Tania, ia merengtangkan otot ototnya dan menghirup udara segar yang masuk kedalam kamarnya setelah membuka jendela kamarnya.
"Hufffhhh pagi yang indah!" gumam Lendra yang kini berdiri di balkon kamarnya. Menatapi jalanan yang sudah ramai di penuhi kendraan melalui kamarnya yang berada di lantai atas.
Dengan langkah santainya, Lendra mendekati rak handuk yang ada di dalam kamarnya namun, pandangan dan langkahnya terhenti ketika melihat Tania yang masih terlelap di atas sofa tampa memakai bantal maupun selimut.
Lendra sempat menyentuh bantal dan berniat untuk memberikanya pada Tania namun, niatnya terurung seketika bayangan Safania muncul di benaknya, ia tidak ingin membagi kasih sayangnya pada wanita siapa pun selain Safania dan wanita yang memiliki hubungan darah denganya.
Lendra kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Vania yang lebih dulu siap membersihkan dirinya dan berganti pakaian mengunakan baju kaos Rafa dan celana jeans hitam milik pria itu. sedangkan Rafa masih berada di dalam kamar mandi.
"Kebiasaan, memang cowok gue ngk pernah cepat kalau mandi!" keluh Vania yang sejak tadi sudah memainkan ponselnya di atas kasur Rafa.
Seperti mendengar suara bel dari pintu masuk rumah Rafa, Vania langsung melangkahkan kakinya untuk melihat siapa orang yang datang berkunjung kerumah Rafa pagi pagi seperti ini dan melatakan tas serta ponselnya di dalam kamar Rafa.
Sebenarnya masih ada rasa ketidak sukaan Vania saat melihat Nadya yang datang kerumahnya walau pun kali ini ia datang bersama lelaki paruh baya, tetapi rasa itu segera ia tepis dari pikiranya karena bagaimana pun, wanita itu yang sudah menolong Rafa. Dan ia juga melihat jika Nadya adalah wanita baik.
"Vania kemana?" gumam Rafa yang kini sudah keluar dari kamar mandi tetapi masih mengunakan celana pendek dan kaos serta tangan yang masih sibuk mengerikan rambutnya mengunakan handuk yang di pegangnya.
Rafa mendekati tas dan ponsel Vania, ia sempat menatap ponsel itu, tiba tiba saja ada kecurigaan Rafa pada kekasihnya itu. Entah sejak kapan kecurigaan itu muncul, ia merasa jika ada yang sedang Vania sembunyikan darinya namun, perasaan itu segera di singkirkanya karena jika berlanjut maka hubungan dengan Vania akan mengalami keributan dan ia memilih untuk tidak memegang hp Vania yang terletak.
"Bapak cari siapa?" tanya Vania yang sudah membuka pintu.
"Kita cuma mau lihat keadaan Rafa saja!" jawab Vandir.
"Rafa sudah sedikit membaik kok, Pak!" Balas Vania lagi dengan tersenyum.
"Yah, sebaiknya kita pulang saja, kan sudah ada Kakak ini yang mengurus Rafa!" ujar Nadya yang kini sudah memegang tangan ayahnya agar segera meninggalkan tempat ini.
__ADS_1
"Kalau Bapak dan kamu mau lihat kondisi Rafa, Silahkan masuk!" sambut Vania antusias yang segera menepi dari tengah pintu dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Sudah kami pulang saja, kan sudah ada kamu yang memperhatikan Rafa!" balas Vandir yang mengerti dengan arti tatapan anak tunggalnya itu, apalagi ia melihat adanya kecemburuan dari binaran mata Nadya yang tidak dapat di ungkapkan gadis itu.
"Pak Vandir!"
Tiba tiba saja Rafa kini sudah berada di antara mereka, karena tidak melihat adanya keberadaan Vania di dalam kamarnya, ia memilih untuk mencari Vania di ruang keluarga, namun ia menemukan sedikit perbincangan dari arah luar.
"Rafa!" ucap Vandir. Seperti sebelumnya, Rafa juga selalu menyalam punggung tangan Vandir ketika akan membawa Nadya kesuatu tempat, dan hal ini baru kembali terjadi hari ini. Vania sempat di buat terkejut oleh Rafa, sepertinya kekasihnya ini sudah memiliki hubungan yang dekat dengan lelaki dan wanita yang ada di hadapanya, tetapi mengapa ia tidak pernah mengetahui hal ini?, pikirnya.
"Pantes saja, anak ku sulit melupakan mu, ternyata attitude mu terhadap orang tua sangat luar biasa walau pun hubungan mu dengan Nadya, putri ku sudah kandas tapi kamu tetap menyambut ku dengan baik!" gumam Vandir menatap wajah Rafa dengan penuh kekaguman sedangkan Nadya hanya dapat tertunduk agar tidak menatap wajah lelaki yang sampai saat ini belum dapat di lupakanya.
"Oh iya Vania, kenali ini Nadya dan ini pak Vandir, ayah Nadya!" ucap Rafa. Nadya langsung memberikan tanganya pada Vania yang hanya terdiam.
"Saya Nadya, Mbak!"
"Oh iya, Pak silahkan masuk dahulu!" pinta Rafa yang mulai melangkahkan kakinya.
"Ta .. tapi!"
"Tapi kenapa Nad?" tanya Rafa hang langsung menghentikan langkahnya.
"Ayah ada kerjaan lagikan?" tanya Nadya yang seakan memberikan isyarat pada ayahnya agar tidak ikut masuk kedalam rumah Rafa.
"Ayolah masuk dulu, sebentar saja!" ajak Rafa lagi. Belum sempat Vandir menjawab ucapan Nadya, Rafa keburu bicara lebih dulu dan menarik tanganya. Mau tak mau Nadya juga harus ikut masuk kedalam rumah Rafa dan Vania yang berjalan paling belakang dan terus menatap Nadya dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia memang tidak melihat adanya niat jahat dari Nadya tapi ia merasa ada yang sedang di sembunyikan Nadya dan ia juga merasa jika Nadya sedang menyukai Rafa.
"Lama ya Pak kita sudah tidak bertemu!" ujar Rafa yang kini ia bersama Vandir sudah berada di meja makan. Vania dan Nadya yang tengah menyiapkan makanan di dapur.
Nadya yang tampak dengan ulet memotongi sayuran dengan cepat sedangkan ia hanya dapat mengambil bumbu bumbu yang di butuhkan oleh Nadya, tentu rasa inscure itu ada pada diri Vania. Vania sebenarnya ingin bertanya ada hubungan apa sebelumnya antara ia dan Rafa tetapi, ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu. Vania menilai dirinya akan terlalu cepat jika sudah menanyakan hal itu dan ia juga tidak ingin jika Nadya tahu jika dirinya menaruh kecurigaan pada Nadya.
__ADS_1
"Mbak, dagingnya tadi sudah di cuci?" tanya Nadya memecahkan keheningan yang sejak tadi terjalin di antara keduanya.
"Sudah kok!" balas Vania dengan menyodorkan wadah yang berisikan daging segar itu.
"Kamu gimana kabarnya Raf?"
"Rafa baik kok Pak, Bapak gimana?"
"Bapak juga baik!"
"Rafa minta maaf ya Pak atas kejadian lalu!" ucap Rafa dengan nada meredah.
"Bapak sudah tidak mengingat hal itu lagi Raf, jadi kamu tidak perlu minta maaf untuk hal itu dan itu kesalahan orang tua kamu kok bukan kamu!" jawab Vandir.
"Tapi Rafa merasa tidak enak dengan Bapak!"
"Sudahlah lupakan hal itu!"
"Oh iya Pak, Rafa juga mau bilang makasih ya, semalam sudah menolong Rafa kalau tidak, Rafa juga tidak tau kondisi Rafa sekarang bagaimana!"
"Iya, sesama manusiakan juga harus tolong menolongkan!" ballas Vandir.
Lendra yang telah selesai dengan ritual mandinya melihat Tania yang masih tertidur dengan pulas.
"Tidur atau gimana nih orang?" gumam Lendra meletakan handuk yang di pegangnya di atas raknya kembali.
"Kok pintunya ngk bisa di buka?" gumam Lendra lagi yang kini sudah berada di depan pintu kamarnya dan mencoba membuka pintu yang masih di kunci oleh mamanya.
Mendengar suara Lendra yang sedikit mengusik tidurnya, Tania terbangun dan menatap suaminya dengan samar samar.
__ADS_1