
"Van, gue sayang sama loh, gue bakal jagain loh sebisa gue!" ucap Rafa yang kini sudah berjongkok di sebelah Vania setelah Tania mengeser sedikit posisinya dan memberikan sedikit ruang agar lelaki itu dapat menenangkan kekasihnya.
Vania meletakan kepalanya di bahu Rafa setelah lelaki itu selesai mengecup keningnya dan Rafa mengelus hijab yang melingkar di kepala Vania yang tidak di pentulin.
Dada Nadya terasa sesak, hatinya hancur lebur, ia mengalihkan penglihatanya dari Vania dan Rafa, ia membelakangi keduanya agar keromantisan keduanya tidak di saksikan oleh matanya. Walau hanya mantan tetapi ia masih sangat mencintai Rafa setulus hatinya. Namun, ia sangat tau diri untuk memperjuangkan Rafa, selain lebih cantik dan kaya, Rafa juga sekarang sudah sangat mencintai Vania. Jelas sudah tidak ada kesempatan pada Nadya, tetapi entah mengapa ia masih saja mencintai Rafa dan tidak bisa untuk melupakan pria itu, walau sudah berulang kali ia mencobanya, tapi tidak ada hasil yang di dapatnya.
"Jangan menjadi gadis perusak Nad, lupakan Rafa, sudah tidak ada kamu di harinya, kamu hanyalah masa lalu yang tidak akan terulang kembali!" gumam Tania pada dirinya untuk memberikan semangat pada hatinya.
"Kamu beruntung banget Van, di cintai oleh lelaki sebaik Rafa dan selalu bersyukur punya kamu, dia rela ngelakuin apa pun demi kamu, sedangkan aku, aku mendapatkan suami yang sangat mencintai wanita lain, aku ibarat patung yang di ledakan di sebuah ruangan, ada tapi hanya di anggap sebagai pasangan!" gumam Tania tersenyum menatap Vania yang sedang memeluk Rafa.
Seuntai senyum yang terbit di raut wajah Tania itu, ternyata di saksikan oleh kedua mata Lendra, ia juga ikut tersenyum melihat Tania tersenyum seperti itu. Perasaan tenang dalam jiwanya tiba tiba saja terasa dalam dirinya ketika memandang wajah Tania.
"Semoga suatu saat nanti aku di pertemuan oleh lelaki yang sangat mencintai ku!" lirih Naila yang ikut tersenyum melihat Rafa dan Vania yang tampak saling mencintai dan takut kehilangan satu sama lain.
"Kita pulang yuk, kita doain Mama biar dapat tempat terbaik di sisi Allah dan kita semua yang ada di sini bakal nemani kamu di rumah!"
"Jangan sedih lagi ya cantik ku!" ucap Rafa yang sudah berdiri di hadapan Vania dan mengulurkan tanganya pada Vania agar ikut berdiri bersamanya. Kini yang tertinggal di pemakaman hanya ia, Vania, Tania, Nadya, Naila, Lendra, Rusdi dan juga Evandi.
Vania menerima uluran tangan itu dan tersenyum pada Rafa.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kita pulang dan nanti malam kita bakal adain pengajian untuk mendoakan almarhum yang baru saja meninggalkan kita!" ucap Rusdi yang kini ikut berbicara.
__ADS_1
Semua kini berjalan meninggalkan pemakaman Tifani, Vania dan Tania berjalan paling depan secara bergandengan, Naila dan Nadya berjalan di urutan kedua, Evandi dan Rusdi di barisan ketiga sedangkan Lendra paling akhir dan hanya sendiri. Ia menghentikan langkahnya saat merasakan getaran dari dalam sakunya, ia segera mengambil benda itu dan meletakanya di telinga kananya.
"Iya ada apa Dok?" tanya Lendra setelah sambungan udahan terhubung pada seseorang yang telah menghubunginya.
"Apa?" teriak Lendra dengan keras, yang lain ikut menghentikan langkahnya setelah mendengar suara besar Lendra, semua mata kini tertuju pada lelaki.
"Baik Dok akan saya usahakan secepatnya, selamatkan nyawa Mama saya!" ucap Lendra yang langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
"Kenapa Kak?" tanya Naila yang melihatnya ada kepanikan di wajah Lendra setelah menerima Telpon dari orang itu.
"Mama kritis Dek!" ucap Lendra yang langsung berlari meninggalkan mereka.
"Mama kenapa Nai?" tanya Tania yang ikut panik.
"Terus kenapa kamu malah di sini, kenapa kamu ngk jagai Mama!" ucap Tania yang ikut berlari mengejar Lendra yang sudah hampir menjauh darinya.
"Nai, Sekarang kita kerumah sakit, lihat kondisi Tante dan kita juga harus bantu Kak Lendra buat cari pendonor darah buat Mama kamu!" ucap Rusdi yang langsung menarik pergelangan tangan Naila.
"Gue ikut!" teriak Evandi yang ikut berlari bersama Naila dan Rusdi.
Vania terdiam di tempatnya dengan tertunduk, air matanya yang sempat terhenti kini kembali menetes mendengar kondisi Mama Lendra kondisinya semakin memburuk. Kini tinggalah Rafa, Vania dan Nadya di tempat ini.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? Kamu sedih karena sekarang sudah sepi, maaf ya, tapi aku dan Nadya bakal tetap di sini kok nemenin kamu, dan kalau saja Mama Lendra dalam kondisi sehat pasti Tania bakal temani kamu, jangan sedih lagi ya, masih ada aku dan Nadya yang bakal jagain kamu!" ucap Rafa kembali menenangkan Vania dengan merangkul bahu gadis itu dan memberi isarat pada Nadya untuk mengiyakan ucapanya dan ikut menemani Vania beberapa hari ini. Nadya mengerti dengan isarat yang di lontarkan oleh Rafa dan ia hanya mengangguk paham.
"Aku mau kita ikut menjenguk Mama Liora, beliau tidak akan mungkin sakit seperti ini, jika aku tidak memberikan taukan hal ini pada mereka dan harusnya hal ini di sampaikan secara langsung oleh Tania atau Lendra, bukan aku, jika sesuatu buruk terjadi pada kedua, maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku, bagaimana pun Mama Liora adalah mertua Tania!" ucap Vania yang kini menatap bola mata Rafa.
"Kamu yakin mau sesana dalam kondisi kamu yang masih seperti ini, jujur aku ragu!" ucap Rafa memastikan dan menatap tajam pada Vania dan memegang kedua pundak Vania dan Vania hanya mengangguk.
"Kamu istirahat saja, kalau kamu sudah tenang baru kira kesana, aku hanya tidak ingin kondisi kamu semakin lemah!" ucap Rafa mengengam tangan Vania dan melangkahkan kakinya agar meninggalkan pemakaman sedangkan Nadya berjalan di belakang mereka.
"Mas Lendra!" panggil Tania, Lendra yang hendak membuka pintu mobilnya, harus memutarkan kepalanya dan menatap orang yang memanggil namanya itu.
"Aku ikut Mas!" ucap Tania yang masih saja berlari kearah Lendra dan ia segera masuk kedalam mobil Lendra.
Lendra terus saja menatap Tania dengan seksama, ia melihat keantusiasan Tania untuk menjenguk Mamanya.
"Mas Ayo!" ujar Tania setelah selesai memakai sabuk pengamanan.
Lendra tersadar dari lamunanya, ia tidak boleh larut dalam pikiranya dan ia juga sudah berjanji untuk tetap setia pada Safania, ia harus tetap menjaga hatinya agar tidak mencintai siapa pun selain Safania, termasuk Tania yang sudah menjadi istrinya.
Setelah menghembuskan nafasnya panjang, Lendra mulai menghidupkan kontak mobilnya dan melajukanya dengan kecepatanya yang tinggi. Tania hanya berdiam diri di tempatnya, ia sebenarnya takut berada di dalam mobil dengan kelajuan di atas rata rata, namun apa boleh buat kondisi mertuanya semakin memburuk dan tidak ada yang menemaninya di rumah sakit, terpaksa ia harus melawan rasa takut yang bergejolak di dalam dirinya.
"Kak Rusdi cepetan bawa mobilnya, kasihan Mama!" panik Naila yang tidak menatap jalanan, melainkan menatap Rusdi agar lelaki itu semakin mempercepat kecepatan mobilnya.
__ADS_1
"Rus cepetan ini dalam kondisi genting!" teriak Evandi yang duduk di kursi belakang.