
Tania, Safania, Vania dan Lendra masuk kedalam ruangan Delino di rawat. Dengan mengunakan kursi roda yang di dorong oleh Safania Lendra ikut menjenguk papanya. Di perhatikan tubuh papanya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya di lapis oleh beberapa balutan perban dan di olesin minyak untik menghilang rasa nyeri di bagian kening lelaki itu. Di pandangnya pula Safania yang berdiri di belakangnya. Ia sebenarnya ingin marah tapi, apa mau di buat. Sekali pun ia menumpahkan amarahnya tidak akan mengembalikan kondisi kesehatan orang tuanya yang sudah menurun akibat ulah istrinya.
"Aku harus membuat lelaki ini tidak sadar dari pingsanya kalau bisa ia juga harus mengakhiri hidupnya. Aku tidak ingin dia sembuh dan memberi tau semua hal yang sudah di saksikanya pada Lendra!" gumam Safania dalam hatinya. Ia tidak khawatir sedikit pun dengan kondisi Lendra yang sudah tidak sempurna karena Lendra masih mempunyai harta warisan yang banyak jadi, ia tidak perlu takut untuk menjadi miskin dan untuk urusan mengurus suaminya masih ada Tania sebagai istri pertamanya.
"Tunggu saja nanti Pak tunggu nanti istri kesayangan anak mu ini yang akan menghancurkan hidup ku. Siapa suruh kamu ingin merusak kebahagian ku?, tidak ada seorang pun yang dapst menghalangi rencana ku. Semuanya bisa kulakukan jika aku menginginkanya. Tunggu saja akhir dari cerifa hidup mu!" sinis Safania dengan senyum miring yang terbit di bibirnya memandang tubuh mertuanya tampa belas kasihan.
"Pa cepat sadar ya Pa, Lendra di sini buat Papa. Safania juga tidak sengaja melakukan hal ini pada Papa jadi, mohon maafkan Safania ya Pa. Lendra tidak ingin Safania terus terusan merasa tidak enak hati karena hal ini!" ujar Lendra berusaha untuk meraih ujung jari pria itu dan menciumnya cukup lama.
"Mas sudah ada Safania yang nemani kamu jadi, aku pamit keluar Mas, ada sesuatu yang perlu aku urus!"
"Mau aku temani Tan?" Vania.
"Tidak perlu Van, kamu temani Safania yang buat jaga papa dan mas Lendra dan sampaikan juga pada Naila kalau aku sedang di luar dan tidak bisa ikut menunggu di rumah sakit!" Vania hanya menangnguk mengiyakan.
__ADS_1
Setelah memesan taksi melalui handphonenya, Safania pergi kesuatu tempat dengan gedung tinggi dan bertingkat. Sebelum masuk ketempat itu, di pandangnya bangunan itu cukup lama. Banyak oramg yang keluar masuk kedalam tempat itu dengan membawa tas, tak sedikit pula hanv membawa amplop berwarna coklat dan ia menjadi salah satu di antara mereka.
Air matanya menetes begitu saja tampa aba aba. Sedih rasanya tapi, keputusanya juga sudah tidak dapat di ubah, ia harus mengugat suaminya untuk mengkhiri keperihaan dalam hidupnya.
"Inilah akhir dari cerita pernikahaan ku, tak lama lagi aku akan menyandang sebagai seorang janda!" ucap Tania dengan air mata yang semakin banyak tertumpah.
Di dalam ruangan, Tania melihat beberapa wanita yang datang ketempat ini seorang diri. Apakah mereka juga akan melakukan hal yang sama denganya. Apa mereka juga menerima perlakuan yang sama seperti yang di lakukan suaminya padanya?.
"Ibu sedang melakukan apa kesini?" tanya seorang ibu dengan mengandeng dua anak laki laki di kedua tanganya. Wanita itu langsung duduk di sebelahnya tampa meminta perizinan darinya dan Tania segera me geser sedikit posisinya agar kedua anak ibu itu juga dapat duduk. Hanya senyum yang menjadi jawaban Tania pada ibu itu. Ia tidak mungkin menceritakan masalahnya pada orang yang tidak di kenalinya.
"Sa ... sa ... sa ... saya ... saya ... hanya ingin ... eeee ... ee ...!"
"Kita dalam posisi yang sama Bu, saya juga sudah melakukan gugatan pada suami saya dan gugatannsaya sudah di terima. Sekarang status saya resmi menjadi jan*a dan saya juga harus merawat keempat anak saya. Dua lagi sedang di rumah, saya hanya membawa anak anak saya yang masih kecil saja. Abang dan kakak mereka yang dua lagi sedang bersekolah. Terlepas dari suami saya akan merasakan ketenangan dalam diri saya tapi, saya juga harus memikirkan biaya hidup dan anak sekolah sayaa setelah ini!" curhat sang ibu.
__ADS_1
"Kenapa Ibu mengungat suami Ibu, bukankah dari cerita Ibu jika, berpisah dengan suami Ibu akan menambah beban ibu saja?" tanya Tania dengan sopan.
"Saya lebih baik kesulitan dalam mencari uang Bu dari pada saya hidup berkecukupan tapi saya tidak bahagian dan selalu dalama tekanan batin. 11 tahun saya mencoba mempertahakan pernikahaan kami dan berharap suami saya akan berubah ternyata, saya yang salah. Seharusnya saya harus mengubah diri saya untuk tidak mengharapkan suami saya untuk melakukan hal itu. Sekarang saya hanya ingin fokus merawat keempat anak saya agar mereka kelak menjadi anak yang berguna dan mereka menghargai wanita nanti ketika sudah dewasa agar tidak tidak memperlakukan wanita seenaknya tidak seperti papanya!" ucap wanita itu pula.
"Anak Ibu gemesan banget, imut!" ucap Tania mencubit pipi anak ibu itu yang duduk di sebelahnya.
"Kalau kata keluarga mau pun tetangga saya, anak saya mirip dengan papanya dan saya setuju makanya, saya tidak ingi mereka memiliki sifat yang sama seperti papa mereka. Biarlah fisik menjadi kesamaan diantara mereka. Karakter tidak akan saya biarkan sama!"
"Sejahat apa suami Ibu sampai ibu bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Tania mulai penasaraan dengan cerita ibu itu.
"Berulang kali suami saya selingkuh bukan, hanya sekali dua kali hampir tiap tahun ia melakukanya, saya selalu mencoba untuk bertahan dan menyuruhnya untuk berubah dan ternyata tetap saja ia melakukanya di belakang saya, tak jarang pula ia memarahi saya jika saya berhasil menemukan bukti perselingkuhanya dan teganya lagi bahkan mertua saya justru menyalahkan saya dan mengatakan kalau saya tidak betul menjadi seorang ibu dan istri hungga suami saya tidak pernah betah di rumah dan wajar saja mencari kebahagian lain dengan bersama wanita lain. Seakan semua kesalahaan dalam pernikahaan saya mertua dan ipar saya selalu menyalahkan sata dan selalu menyudutkan saya hanya karena saya tidak perpunya Bu dan saya yakin dengan keputusaan ini hidup saya akan sedikit membaik dan saya akan merasakan kebahagian seperti yang wanita lainnya!" ujar Ibu itu dengan sendu dan senyum diakhir ceritanya.
"Apakah sekarang Ibu sudah yakin dengan keputusaan Ibu?" Ibu itu hanya mengangguk.
__ADS_1
Seketika Tania menjadi orang yang beruntung walau pun ia tidak seberuntung orang lain tapi, setidaknya ia tidak serumit ibu yang ada di dekatnya. Mendapat perlakuan yang tidak baik dari suaminya tapi, ia juga masih dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari keluarga Lendra. Dalam hati kecilnya ia masih mengucapakan syukur bertemu dengan orang orang sebaik Liora, Delino dan Naila.
Mendengar cerita ibu itu, Tania me jadi ragu untuk melanjutkan niatnya yang sudah memuncak. Apa ia terlalu berlebihaan hingga sampai memutuskan untuk berpisah sedangkan kisahnya tidak sesedih ibu ini?.