
"Lendra hanya dapat menghela nafasnya mendengar kesalah pahaman yang dilihat oleh adiknya sedangkan Tania matanya memancarkan binaran penuh kemenangan dengan senyum kemerdekaan yang dilontarkanya pada Lendra yang memendam amarahnya untuk mengejek pria itu.
"Seandainya suatu saat nanti Naila di pertemukan dengan lelaki....!"
"Adek ku sayang. Anak manja Mama dan Papa sini dengerin penjelasan Kakak!" belum selesai Naila menyelesaikan ucapanya Lendra keburu memotong pembicaraanya dan menarik tubuh adiknya mendekat denganya. Ia sangat tidak bisa marah pada adik kesayanganya itu. Sekesalan apa pun ia.
"Kakak ipar kesayangan mu ini sedang sakit. Sejak subuh tadi dia mual. Kakak hanya menyuruhnya untuk mengecek kondisinya tapi, dia tidak mematuhi perintah Kakak dan justru selalu memberikan tolakan dan menjawab setiap ucapan Kakak. Kakak sudah meminta dengan lembut sebelumnya!" Tatapan intens Naila kini beralih pada Tania.
Benar saja ucapan kakaknya. Naila melihat Tania yang baru saja selesai dengan tawanya.
"Kakak kenapa ngk mau berobat?"
"Kakak ngkpp Dek, Kakak kamu saja tuh yang lebay. Kakak cuma mual dikit doang langsung di suruh kerumah sakit. Kakakan ngk suka bau rumah sakit apalagi harus makan obat obatan!" aduh Tania dan menjulurkan lidahnya pada Lendra.
"Kakak beneran ngkpp kalau kekhawatiran kak Lendra beneran terjadi bagaimana?"
"Ngk kok, Kakak cuma masuk angin atau kecapekan saja mungkin karena baru pindahan jadi badan Kakak masih terasa remuk!" ucap Tania tersenyum tulus.
"Kenapa masih mau nyalahin Kakak?" tanya Lendra dengan raut wajah nyolot saat adiknya satu satunya menoleh kearahnya.
"Maaf ya Kak, Naila sudah salah paham. Habis nada bicara Kakak tadi tinggi banget!"
__ADS_1
"Kamu selalu minta maaf tapi ada saja kata kata yang menyudutkan Kakak!" kesal Lendra.
"Iya Kak, Maaf tapi, Kakak ngk boleh ya nyakitin kak Tania!"
"Iya!"
"Kamu bawa makanan apa itu?"
"Naila bawa buah buahan sama snack kesukaan Kakak kalau kesukaan Kak Taniakan Naila kurang paham jadi cuma kesukaan Kakak doang yang Naila bawain!"
"Yasudah kamu santai saja. Apa yang Kakak suka pasti ipar mu juga menyukainya!"
"Hahahahhaa, lucu banget sih Kak!" tawa Naila seketika pecah memenuhi seisi ruangan kala mendengar cerita Tania. Lendra langsung menatapnya dengan intens walau pun itu adiknya, ia sangat tidak menyukai wanita tertawa dengan keras apalagi sekarang ia tengah menonton salah satu tayangan yang di siarakan oleh stasiun televisi. Ketiganya kini sudah berpindah tempat keruang tengah.
"Tidak baik!"
"Bagaimana keadaan Kak Rusdi sekarang?" pertanyaan Lendra mampu membungkamkan tawa Naila. Seketika wajahnya berubah menjadi datar. Pikiran kembali mengingat kejadian Kiara dan lelaki yang disukainya di kamar rumah sakit dan keberadaanya itu seperti tidak dianggap.
"Naila tidak tau!" ucapnya seolah bersikap acuh dan kini memasukan beberapa ciki kedalam mulut. Ia juga berpura pura folus pada layar televisi agar mengalihkan topik yang dibahas oleh kakaknya.
"Oh iya Nai, kamu tau dari mana alamat Kakak?" tanya Naila setelah beberapa menit terjadi keheningan.
__ADS_1
"Kak, aku bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja jadi, wajar kalau dengan mudah aku tau keberadaaan dan tempat tinggal baru kalian!" ujar Naila berbangga hati.
"Alah paling juga dari karyawan Papa!" ucap Lendra dengan nada merendahkan adiknya itu.
"Oh iya Kak sebenarnya Naila kesini bukan hanya ingin melihat kalian saja tapi, Naila juga ingin sekalian pamit karena besok atau lusa Naila sudah masuk kuliah dan Naila juga sudah dapat beberapa panggilan kalau terlalu sering ditolak sayang nanti Naila di anggap tidak profesional!"
"Panggilan apa Nai?, kamu bermasalah sama Dosen kamu?" Tania tidak mengerti.
"Bukan Kak selain kuliah, Naila juga seorang model dan selama libur kuliah ini Naila selalu menolak panggilan yang masuk karena Naila benar benar ingin istrirahat dan sekarang waktu break Naila sudah selesai dan harus kembali mencari pundi pundi rupiah!"
"Ya sudah kamu yang rajin ya belajarnya, jangan malas malasan dan jangan terlalu fokus pada pekerjaan kamu takutnya nanti kuliah kamu terbengkalai yang ada nanti Papa dan mama bakal kecewa sama kamu!"
"Perintah dilaksanakan!" ucap Naila seraya memberikan hormat pada iparnya. Keduanya kemudian tertawa renyah.
"Sebenarnya Naila bisa saja masih di sini tapi, Naila tidak ingin terlalu lama menyakiti hati Naila dengan menyaksikan keromantisan yang di pancarkan kak Rusdi dan sekretaris genit kak Lendra itu. Aku hanya ingin menenangkan diri dan menjauhkanya dari hal hal yang membuat ku sakit. Sedikit menghindar tidak masalahkan?" gumam Naila yang masih berada dalam pelukan iparnya.
"Kamu tidak izin juga dari kak Rusdi dan kak Evandi?" Naila hanya mengangguk.
"Kenapa?, kamu jangan bersikap sombong seperti itu karena jika suatu saat Kakak tidak dapat menjaga kamu merekalah yang akan mengantikan posisi Kakak. Mereka sudah anggap kamu seperti adik mereka. Jadi sayang mereka dan Kakak ke kamu itu sama. Kakak mau kamu izin terlebih dahulu!"
"Naila ngk bisa Kak, Naila buru buru!"
__ADS_1
"Seburu buru apa kamu sampai tidak bisa menyempatkan diri sebentar saja!"
"Baiklah Kak!" pasrah Naila.