
Alex terduduk lemas setelah mengetahui Clara hamil. Otaknya mulai menerka-nerka.
"Kenapa dia bisa hamil,bukannya selama ini dia pakai alat kontrasepsi??? Lalu anak siapa yang di kandung Clara??? Apa jangan-jangan itu anak gue??? Akh gak mungkin,Clara ngelakuin hubungan itu bukan cuma sama gue. Bisa aja itu anak salah satu investor yang dia rayu.." Begitulah Alex bertanya-tanya dalam hatinya.
Tapi otaknya kembali teringat pada kata cinta yang Clara ucapkan padanya saat dalam perjalanan ke rumah sakit,dan teringat pada amplop yang Clara berikan padanya.
Alex pun membuka amplop yang Clara berikan. Mata Alex membelalak seketika saat melihat foto hasil usg. Alex membuka kertas kecil yang ada di dalam amplop yang Clara masukkan bersama foto hasil usg itu.
Kenalin darl ini malaikat kecil kita. Maafin aku gak kasih tau kamu kalau sebenarnya sudah tiga bulan ini aku lepas IUD di rahim aku. Aku cinta kamu darl,aku sengaja ngelakuin itu karena aku pengen punya anak dari kamu,aku mau kita berdua ngejalanin semua dari awal demi anak kita. Love you Alex Johnson.
Alex meremas kertas itu,rahangnya mengeras menahan emosi,ia merasa Clara sedang menjebaknya dengan mengatakan itu anaknya. Alex yakin kalau itu bukan anaknya,karena setau Alex,Clara bukan hanya tidur dengannya. Alex berdiri dari duduknya,ia ingin keluar dari rumah sakit itu untuk mencari tau kebenarannya. Namun saat Alex baru mau melangkah,tangan Irlan menahan tangan Alex.
"Mau kemana loe?" Tanya Irlan.
Alex menghempaskan tangan Irlan.
"Minggir!!! Ada hal penting yang mau gue cari tau!!!"
"Loe gak bisa kemana-mana sebelum partner loe itu siuman!! Loe harus nemenin dia disini!!!" Perintah Irlan.
Irlan menarik tangan Nia,yang tiba-tiba mematung sejak dokter mengatakan Clara harus kehilangan janinnya. Menyadari kondisi Nia yang sedang tidak baik-baik saja Irlan pun berinisiatif membawa Nia pulang. Dan menyuruh Alex menunggui Clara.
"Gue sama Nia balik dulu!!! Awas loe kabur,gue laporin loe langsung ke polisi!!" Ancam Irlan sebelum berlalu dari hadapan Alex.
Mau tidak mau Alex menurut,karena ia tidak mau kalau sampai berurusan dengan polisi. Bukan hanya namanya yang hancur tapi nama keluarga dan perusahaan yang dibangun papanya pun dipastikan akan hancur.
๐๐๐๐๐
Kini Nia dan Irlan sedang dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil sangat hening,karena mulai dari rumah sakit Nia hanya diam. Pandangannya lurus ke depan tapi Irlan tau kalau mata itu kosong.
Irla mengkerutkan keningnya,bingung dengan sikap Nia yang tiba-tiba seperti ini.
"Nia..." panggil Irlan memecahkan keheningan.
Namun yang dipanggil tidak menjawab. Jangankan menjawab,menoleh saja tidak.
Irlan menepikan mobilnya,karena sadar Nia dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dipikiran Irlan mungkin Nia seperti ini karena Nia syok dengan apa yang menimpanya dan apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu.
"Nia...sayang.." Irlan kembali memanggil Nia sambil mengelus pipi Nia.
Nia pun menoleh ke arah Irlan saat merasakan sentuhan tangan Irlan dipipinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Irlan penasaran.
"Ah...gak kenapa-kenapa." Sangkal Nia.
"Jangan bohong Nia,aku perhatiin dari tadi kamu melamun terus. Cerita sama aku apa yang kamu rasain sekarang??"
Ingin sekali Nia menceritakan tentang Mosha pada Irlan,tapi mulut Nia seakan terkunci rapat untuk memberitahu Irlan kalau dulu dirinya pernah mengandung anak Irlan.
"Aku gak pa-pa kak,mungkin aku kecapean aja." Sangkal Nia lagi. Ia mencoba tersenyum untuk mengelabui Irlan tentang perasaan yang sebenarnya.
Irlan pun mengangguk mempercayai perkataan Nia. Padahal Irlan sangat tau kalau ada sesuatu yang sedang Nia sembunyikan dari nya. Tapi Irlan tak mau memaksa Nia untuk bercerita. Irlan akan menunggu Nia siap menceritakan kegundahan hatinya pada Irlan.
"Kita cari makan dulu yuk.." ajak Irlan. Karena memang dirinya belum makan dari siang. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
Nia menggelang.
"Aku mau langsung pulang aja kak. Aku capek banget."
Irlan pun menyetujui permintaan Nia. Irlan kembali mengemudikan mobilnya.
๐๐๐๐๐
Kini mobil Irlan sudah sampai di depan rumah keluarga Nia.
Namun Irlan menahan tangan Nia,dia masih penasaran dengan sikap Nia yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kamu bener gak pa-pa kan?"
Nia mengangguk.
"Iya kak. Makasih yah udah dateng tepat waktu tadi." Kata Nia sambil memeluk Irlan.
Irlan pun membalas pelukan Nia dan mencium puncak kepala Nia.
Nia melepaskan pelukannya.
"Kakak langsung pulang yah. Dan langsung istirahat juga."
Irlan mengangguk.
"Kamu juga langsung istirahat,jangan mikir yang macem-macem. Yakin kalau perempuan itu baik-baik aja."
__ADS_1
Nia mengangguk kembali. Kemudian membuka handle pintu. Namun lagi-lagi Irlan menahan tangannya.
"Apalagi sih kak?" Tanya Nia malas.
Irlan memonyongkan bibirnya,kode kalau dirinya ingin mendapat ****** dibibir sebelum Nia turun.
Nia menghela nafasnya. Tak mau berdebat Nia pun mengecup bibir Irlan singkat. Namun saat Nia ingin menjauhi bibirnya dari bibir Irlan,tangan Irlan langsung menahan tengkuk Nia. Irlan ******* bibir itu sebentar kemudian melepaskannya.
"Ish..!!" Nia mendorong tubuh Irlan pelan.
Irlan terkekeh.
"Jangan cemberut dong. Bibir kamu itu salah satu pasokan energi buat aku. Aku kan udah capek nyetir,jadi harus diisi lagi energinya biar bisa sampe rumah dengan selamat."
"Alasan!! Aku masuk dulu. Kakak hati-hati di jalan."
Irlan mengangguk. Nia pun membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Setelah memastikan Nia sudah masuk kedalam rumah,Irlan menyalakan mesin mobilnya dan kembali melajukan mobilnya ke apartemen miliknya.
Setelah sampai di dalam kamarnya,Nia langsung membersihkan dirinya. Setengah jam Nia membersihkan dirinya di kamar mandi. Kini Nia duduk di depan meja rias.
Dia teringat akan Clara yang baru saja kehilangan janinnya. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan anak.
"Kasihan dia. Pasti setelah dia sadar,dia akan sangat terpuruk." Kata Nia sambil memoleskan skincare di wajahnya.
Setelah selesai memoleskan skincare di wajahnya,Nia berjalan ke arah balkon dan diduduk di kursi sambil melihat ke arah langit.
"Hei Mosha.." Nia melambaikan tangannya ke salah satu bintang di langit.
"Mama kangen sama Mosha,nanti Mosha dateng yah ke dalam mimpi mama. Mama pengen main sama Mosha."
Nia menghela nafasnya. Ia teringat kalau dirinya belum memberitahu Irlan tentang Mosha.
"Mosha...apa papa perlu tau tentang Mosha??"
"Mama bingung,mama belum siap kasih tau papa tentang kebenarannya. Apa mama egois kalau menyimpan kamu hanya untuk mama sendiri??"
"Mama harap Mosha jangan marah yah sama mama kalau sampai detik ini mama belum kasih tau papa tentang Mosha."
Cukup lama Nia duduk dibalkon sambil berbicara dengan salah satu bintang di langit. Merasa matanya sudah kalah,Nia memilih untuk masuk dan mulai mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah karena kejadian hari ini.
__ADS_1
ยคยคยค Cerita Alex dan Clara akan othor pisahin dari MCMI,biar emosi para readers kesayangan othor hanya fokus sama Nia dan Irlan. Jadi pantengin terus karya-karya othor yah..๐๐๐ยคยคยค