Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 62


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga bulan Nia menimba ilmu di negara orang.


Hari-hari yang Nia lalui begitu menyenangkan,dia sudah mempunyai banyak teman. Andrew juga dengan getol menempel pada Nia. Setiap hari selalu saja ada alasan Andrew datang ke unit Nia.


Ting tong ting tong.


Suara bel apartemen Nia berbunyi.


Nia yang sedang memasak di dapur langsung membuka pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Hai..sedang apa?" Sapa Andrew saat Nia membuka pintunya.


"Lagi bikin sarapan,ayo masuk." Ajak Nia.


Hubungan Nia dan Andrew masih sebatas pertemanan. Nia membentengi hati nya dari kata-kata cinta. Tapi kalau untuk berteman tidak jadi masalah. Itulah yang membuat Andrew sampai saat ini belum bisa mengambil hati Nia. Andrew tidak tahu kalau Nia pernah gagal dan baru dua bulan menyandang status janda.


"Wah..kamu masak banyak sekali." Kata Andrew saat melihat makanan yang sudah terhidang di meja makan.


"Hehehe..iya,akhir-akhir ini nafsu makan ku bertambah." Jawab Nia dengan sebuah cengiran.


Nia membawa makanan terakhir di meja makan.


"Ayo makan,aku sudah sangat lapar." Ajak Nia.


Mereka pun makan bersama di meja makan yang minimalis dengan duduk berhadapan.


Andrew terus memperhatikan Nia. Cara makan Nia yang terkesan seperti orang yang tidak pernah makan.


"Uhuk uhuk uhuk.." Nia tersedak makanannya sendiri karena terlalu tergesa-gesa.


Andrew menyodorkan air minum ke arah Nia.


"Pelan-pelan dong makannya,aku juga gak akan minta." Andrew mengambil tissu dan mengelap bibir Nia.


Sejenak pandangan mereka beradu saat Andrew mengelap bibir Nia. Nia pun sadar,ia mengalihkan pandangannya dari mata Andrew.


Nia kembali melanjutkan makannya,sedangkan Andrew masih memperhatikan Nia.

__ADS_1


"Ehm..." Nia berdehem.


"Kenapa gak dimakan? Apa makanannya gak enak?" Tanya Nia.


"Ah enak kok,cuma aku heran aja melihat kamu seperti ini. Dan bukan hanya hari ini kamu makan seperti orang kesurupan." Jawab Andrew sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


Nia mengangguk.


"Ia..aku juga heran kenapa nafsu makan ku seperti ini,aku memang doyan makan tapi tidak pernah sampai seperti ini. Lihat badan ku,dua minggu aku makan sangat banyak dan aku rasa berat badan ku sudah naik drastis." Kata Nia sambil menunjukkan tubuhnya yang semakin berisi.


"Ini aneh.." gumam Andrew.


"Kenapa? Apa menurut mu aku terkena penyakit berbahaya?" Tanya.Nia karena melihat wajah Andrew yang tampak sedang berpikir.


"Ish..mana ada orang terkena penyakit mematikan jadi menambah nafsu makan,yang ada malah gak nafsu makan." Kata Andrew menepis pemikiran Nia.


"Nanti aja kita bicarakan,sekarang habiskan makanan mu." Lanjut Andrew.


Setelah selesai makan Andrew duduk di ruang tamu yang merangkap ruang televisi.


"Nia..kapan kamu terakhir datang bulan?" Tanya Andrew setelah mereka sama-sama duduk di sofa ruangan itu.


Deg..


"Ah itu,sudah dua bulan aku tidak datang bulan dan aku pikir itu adalah hal yang biasa kalau seseorang sedang stress." Jawab Nia dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin.


"Kalau untuk orang yang tidak pernah berhubungan intim mungkin begitu. Tapi tidak berlaku dengan orang yang pernah berhubungan intim." Andrew manarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sebenarnya hatinya sedikit galau kalau ternyata apa yang ia pikirkan benar adanya.


"Apa kamu pernah melakukan hubungan intim dengan laki-laki. Kalau memang,kamu harus periksakan kondisi mu." Lanjut Andrew.


Nia tertunduk dan menangis,mengingat kembali malam petaka yang merenggut kesuciannya,walaupun pada saat itu dirinya dan Irlan masih sah sebagai suami istri,tapi Nia menganggap kejadian malam itu adalah malapetaka karena kesuciannya yang direnggut paksa dan dengan sangat kasar.


Melihat Nia menangis,Andrew mendekati Nia dan membawanya dalam pelukannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Ceritakan lah pada ku,siapa tahu aku bisa membantu mu." Andrew mengusap punggung Nia,memberi ketenangan untuknya.


Kini Nia sudah lebih tenang,Andrew mengambil air putih dan memberikannya pada Nia.


"Minum lah" Andrew menyodorkan air putih ke hadapan Nia.


"Trimakasih" Nia mengambil gelas dari tangan Andrew.

__ADS_1


"Sudah lebih tenang? Apa sudah mau bercerita? Kalau belum siap,aku tidak memaksa." Tanya Andrew setelah segelas air putih sudah habis Nia tenggak.


"Aku akan menceritakannya." Jawab Nia sambil menaruh gelas di atas meja.


Nia pun menceritakan kepada Andrew tentang pernikahannya dengan Irlan. Dia juga menceritakan kejadian malam naas itu.


"Jadi dia meninggalkan mu setelah dia melakukan itu pada mu?" Tanya Andrew,padahal Nia belum selesai bercerita.


Nia menggeleng.


"Aku yang meninggalkannya. Dia ingin membatalkan gugatannya tapi aku tidak mau. Bahkan aku mengancam nya jika dia tetap membatalkan gugatannya. Hati sudah terlalu sakit,ketika dia dengan tegasnya mengatakan sangat mencintai wanita lain didepan orang tua kami. Harga diri ku sebagai seorang istri benar-benar sangat terinjak-injak." Nia menutup wajahnya,agar Andrew tidak melihatnya kembali menangis.


"Apa karena itu kamu melarikan diri ke negara ini?"


Nia menggeleng.


"Tidak,aku kesini memang karena ingin menimba ilmu bukan karena ingin melarikan diri." Nia menepis sangkaan Andrew.


"Lalu,apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan memberitahunya?" Tanya Andrew.


"Memberitahu apa?" Nia masih belum yakin kalau kini dirinya sedang berbadan dua.


"Tentang kehamilan mu."


"Apa sudah pasti aku ini hamil,kan kita belum memeriksanya."


"Hemh...baiklah. Mari kita beli alat tes kehamilan" ajak Andrew sambil menarij tangan Nia.


Nia menarik kembali tangannya dari genggaman tangan Andrew.


"Aku malu,bagaimana kalau ada teman kampus kita yang melihat. Mereka pasti akan berpikir macam-macam. Kalau memang mau beli,biar aku yang pergi sendiri. Aku tidak mau nama mu tercemar karena aku."


"Hei,tak ada yang perlu kamu takutkan. Orang-orang disini tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Hal seperti ini sudah menjadi hal lumrah. Justru akan aneh jika kamu membelinya sendiri,kalau kamu membeli bersama ku orang berpikir bahwa aku lah yang melakukan itu pada mu."


Dengan segala bujuk rayu Andrew,akhirnya Nia mau keluar bersama Andrew membeli.alat tes kehamilan.


Nia dan Andrew telah kembali ke apartemen setelah membeli alat tes kehamilan.


"Apa bisa langsung dipakai sekarang?" Tanya Nia. Dia tidak sabar untuk memgetahui hasilnya. Dia berharap kalau dirinya tidak sedang hamil.


"Bisa saja. Tapi lebih bagus kalau besok pagi dipakai,akan lebih akurat hasilnya." Saran Andrew.

__ADS_1


"Tapi aku sudah tidak sabar,aku sangat takut. Bagaimana kalau hasilnya positive. Apa yang harus aku katakan pada orangtua ku."


__ADS_2