
Nia malah mencebik mendengar kata-kata Irlan.
"Itu sih emang maunya kamu.!!" Kata Nia kesal,sambil mengelap ingusnya yang ikut keluar saat ia menangis tadi.
"Hahahaha...kalau mau nya aku,gak usah nunggu kita nikah sayang. Sekarang pun aku lagi mau." Kata Irlan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gimana,kamu mau gak kita usaha sekarang? Itung-itung nyicil lah. Mumpung papa Niko gak ada dirumah.." bisik Irlan di telinga Nia,diakhiri kerlingan genit mata Irlan.
"Ish...kamu tuh yah mesum aja otaknya!!!" Nia menjitak kepala Irlan pelan.
"Hahahaha..maklum sayang,udah empat tahun gak dipake. Jadi kalau ketemu sekrup bawaannya pengen ngebaut mulu.." Irlan makin keras tertawa.
"Ish...ngeselin ikh..!!" Nia mencubit keras paha Irlan karena kata-kata Irlan yang semakin absurd.
"Auuuuw sakit sayang.." rintih kesakitan Irlan.
"Udah akh males ngomong sama kakak,mesum mulu.!!" Nia beranjak dari duduknya.
Namun dengan cepat tangan Irlan menariknya dan membawa Nia duduk dipangkuannya. Menahan tengkuk Nia dan ******* Nia cukup lama,Irlan baru melepas ****** mereka setelah dirasa hampir kehabisan oksigen.
"Love you.." kata Irlan sambil mengusap bibir manis Nia.
"Love you too kak." Jawab Nia sambil memeluk tubuh Irlan.
Baru beberapa detik mereka berpelukan,tiba-tiba Nia langsung bangkit dari pangkuan Irlan.
"Astaga kakak..!!" Teriak Nia kaget karena merasakan sesuatu mengeras di tempat Nia duduk tadi.
Irlan terkekeh malu karena Nia merasakan sesuatu dari dalam dirinya mengeras.
"Naluriah itu sayang.." Irlan masih terkekeh malu.
"Udah akh,lama-lama kita berduaan di dalam kamar bisa-bisa ditempelin setan mesum. Ayo keluar" Nia menarik tangan Irlan agar berdiri dari duduknya.
"Masa aku keluar kayak gini sih??!" Sambil matanya melihat ke arah celananya.
Mata Nia membelalak saat matanya mengikuti arah mata Irlan. Terlihat jelas sesuatu yang sudah siap tempur.
Nia langsung membalikkan tubuhnya.
"Kasih tidur dulu sana!! Malu-maluin!!" Teriak Nia sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Gak mau bantu nidurin?!" Teriak Irlan menggoda Nia yang wajahnya sudah sangat merah.
"Gak boleh!!! Belum ada hak milik!!!" Balas Nia sambil membuka pintu kamar dan keluar dari dalam kamar.
Irlan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nia.
"Lucu banget sih,kayak anak perawan aja.." kata Irlan sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar Nia. Dan menuntaskan hasratnya disana.
Lima belas menit Irlan menyelesaikan urusannya di kamar mandi,ia pun keluar. Saat kakinya ingin melangkah menuju pintu,ia kembali melihat foto-foto yang Nia kasih tadi di atas tempat tidur.
Irlan mengambil foto Mosha yang sempat diabadikan mama Dena. Ia mengusap foto itu,tak terasa air matanya keluar. Ia melihat tulisan yang ada dibalik foto. Yang menuliskan nama dan tempat tanggal lahir Mosha.
"Mosha.." lirih Irlan membaca tulisan itu.
__ADS_1
"Ternyata kamu yang selalu hadir di mimpi papa,maaf papa terlambat menyadari kehadiran kamu." Irlan mengusap kembali foto itu.
"Kak.." tiba-tiba Nia masuk dan melihat Irlan yang sedang menatap foto anak mereka itu.
Nia mendekati Irlan,Nia melihat jelas air mata yang membasahi pipi Irlan.
"Kak.." panggil Nia sambil mengusap punggung Irlan.
Hati Irlan begitu sakit dan sesak,seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Kepalanya begitu sakit karena bayangan akan ditinggal orang tercinta menghantui hati dan pikirannya lagi. Tiba-tiba pandangannya menggelap.
Dan Irlan pun jatuh pingsan.
"Kak Irlan..bangun kak..!!!" Teriak Nia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Irlan.
"Bik Imah..mbak Surti..mbak Sukma..TOLOOOOONG!!!" teriak Nia memanggil semua asisten rumah tangga dirumah orangtuanya itu.
Mendengar anak majikannya berteriak-teriak minta tolong,ketiga art itu pun dengan cepat berlari menaiki anak tangga menuju kamar Nia.
"Kenapa ini non?" Tanya mbak Sukma saat sudah sampai di kamar Nia.
"Tolong bantu angkat kak Irlan ke tempat tidur."
Nia dan ketiga art itu pun mengangkat Irlan ke tempat tidur Nia. Nia mengambil minyak kayu putih dan menaruh ke hidung Irlan untum memberi rangasangan agar Irlan tersadar.
"Mbak tolong telpon dokter keluarga sekarang." Nia memberikan hp nya pada mbak Surti.
"Bik,tolong ambil air putih hangat.."
Dengan cepat Bik Imah turun ke bawah mengambil air putih hangat.
"Kak...bangun dong..kok bisa sih tiba-tiba pingsan???!!!" Kata Nia panik.
"Siapa yang harus saya periksa?" Tanya sang dokter pada mbak Surti saat menapaki anak tangga.
"Mantan suaminya non Nia dok."
"Pak Irlan?"
Mbak Surti mengangguk.
Dokter pun masuk ke dalam kamar Nia.
"Dok,tolong periksa kak Irlan. Tiba-tiba aja dia pingsan."
Sang dokter pun mendekat ke arah ranjang dimana Irlan terbaring. Ia mengeluarkan peralatan medisnya dan memeriksa Irlan. Dan hasilnya semua normal.
"Pak Irlan gak kenapa-kenapa,mungkin dia kecapean dan sepertinya belum makan siang makanya pingsan." Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.
Sang dokter sebenarnya tahu riwayat penyakit depresi Irlan,tapi ia tidak mau terlalu jauh berbicara karena bukan kapasitasnya berbicara tentang penyakit depresi Irlan. Ia takut salah mendiagnosa.
Setelah mendengar penjelasan dokter,Nia pun bernafas lega karena kemungkinan yang dikatakan dokter benar. Dokter keluarga pun pulang setelah memeriksa keadaan Irlan.
"Mbak tolong bikinin makanan yang enak-enak yah buat kak Irlan." Kata Nia pada mbak Sukma.
"Iya non. Permisi." Setelah mendapat perintah,Sukma pun keluar dari kamar Nia.
__ADS_1
Nia tetap setia duduk di kursi samping tempat tidur menunggui Irlan.
Lima belas menit kemudian Irlan pun sadar.
"Eugh.." Irlan membuka mata perlahan.
"Kakak udah bangun?" Nia pindah duduk ditepi tempat tidur.
"Minum dulu." Nia menyodorkan air minum pada Irlan.
Irlan pun meminum air yang Nia berikan.
"Laper?" Tanya Nia setelah Irlan menghabiskan air minum yang ia berikan.
Irlan menggeleng.
"Pusing?"
Irlan menggeleng.
"Terus apa yang kakak rasain? Jangan bikin aku cemas lah kak."
"Aku gak pa-pa sayang." Irlan membelai rambut Nia.
"Terus kakak kenapa pingsan?"
Irlan menghela nafasnya. Sepertinya ia juga harus memberitahu Nia tentang penyakitnya,sama seperti Nia yang sudah jujur tentang Mosha.
"Nia,ada yang mau aku kasih tau ke kamu. Ini tentang diri aku selama kamu pergi menghilang."
Nia mengernyitkan keningnya.
"Apa?!"
"Tapi kamu janji dulu setelah aku cerita,kamu jangan pergi ninggalin aku. Aku gak tau gimana hidup aku selanjutnya tanpa kamu."
Nia pun mengangguk.
"Janji dulu."
"Iya aku janji."
"Sebenarnya,aku sakit Nia."
"Sakit?? Sakit apa?"
"Aku sakit mental sejak kamu ninggalin aku."
Bukannya terkejut Nia malah tertawa.
"Kok ketawa?"
"Kakak lucu!! Aku kirain apaan,gak taunya malah mau ngegombal. Aku udah serius banget lagi dengernya." Kata Nia masih tertawa kecil.
"Aku serius. Sejak kamu ninggalin aku,aku depresi bahkan aku harus konsultasi ke psikiater hanya untuk mengobati depresi aku. Tapi untungnya dokter menyatakan aku udah sembuh total,karena aku rajin konsul dan minum obat,serta selalu berpikir positive."
__ADS_1
"Apa pingsan kakak tadi ada hubungannya dengan penyakit kakak?"
"Mungkin. Sebenarnya aku sering mimpiin anak kita,aku belum ngeh kalau itu anak kita. Tapi setiap dia datang di mimpi aku,hati ku sakit dada ku juga terasa sesak padahal anak kita datang di mimpi kakak sambil tersenyum bahagia. Sampai akhirnya hari ini aku tau kalau anak itu adalah anak kita,rasa bersalah dan takut itu datang kembali. Aku takut kamu ninggalin aku dan menghilang lagi dari hidup aku." Kemudian Irlan memeluk erat Nia seolah takut Nia pergi.