Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
BonChap 4


__ADS_3

Ia mulai menyalakan ipad nya dan membuka email yang dikirim asistennya satu persatu. Sambil menunggu Nia bangun,ia memilih untuk mengecek beberapa pekerjaannya.


Baru saja ia membuka dan mempelajari satu email yang masuk,tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Astaga..gue belum makan ternyata dari pagi." Sangking bahagianya,dia sampai lupa kalau dia belum makan dari pagi.


Ia menaruh ipadnya di atas nakas dan berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan2 untuk mengambil makanan.


Ia menyendokkan nasi dan beberapa lauk pauk ke dalam piringnya dan mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Kemudian ia berjalan kembali ke dalam kamar membawa piring dan gelasnya. Irlan benar-benar tidak ingin berlama-lama meninggalkan Nia,ia memilih untuk makan di dalam kamar.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Eugh..." Nia mengerjapkan matanya. Ia melihat Irlan yang sedang duduk di sofa sambil memangku ipad nya.


"Kamu udah bangun?" Irlan meletakkan ipadnya dan berjalan ke ranjang di sisi Nia.


"Jam berapa ini.?" Tanya Nia yang masih setengah sadar.


"Jam tiga. Ayo bangun,makan dulu. Habis itu mandi. Aku udah bikin janji sama kak Irna."


Nia mengangguk dan mendudukkan dirinya,namun saat satu kakinya ingin ia turunkan,Irlan melarangnya.


"Disini aja,biar aku ambilin makanannya." Kata Irlan sambil memungut bathrobe Nia yang tadi ia lempar ke lantai dan memberikannya pada Nia. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ruang makan untuk mengambilkan makanan untuk Nia.


Nia pun menurut. Ia memakai bathrobe yang Irlan berikan padanya dan menunggu sang suami diatas tempat tidur.


Tak lama Irlan pun masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk istrinya.


Nia menyambut nampan yang Irlan bawa namun Irlan langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku aja yang suapin." Irlan menaruh nampan itu di atas nakas dan mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauk.


Setelah nasi habis,Irlan menyerahkan segelas air putih untuk Nia.


Kemudian ia mengelus perut istrinya.


"Makanan nya udah nyampe kesitu belum dek? Kalau udah makan yang banyak yah,biar sehat dan kuat di dalam sana." Sambil mengecup kembali perut sang istri.


Nia geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd suaminya. Tapi ia juga sangat senang,karena suaminya terlihat bahagia dengan kehamilan dirinya. Nia tau kalau sejak awal menikah,Irlan sangat ingin memiliki anak darinya,namun karena Nia yang masih ingin menunda,Irlan pun mengalah. Irlan benar-benar tak memaksakan kehendaknya,dia selalu mendukung semua keputusan Nia selama keputusan itu tidak menyimpang dari kodrat berumah tangga.


"Udah akh kak. Aku mau mandi dulu."


Irlan menjauhkan wajahnya dari perut Nia.


"Kamu cemburu sama anak kita? Kamu mau di cium juga?" Goda Irlan.


Nia memutar bola matanya malas.


"Ngapain juga cemburu. Udah akh awas,aku mau mandi." Nia mulai menurunkan kakinya ke lantai.


Namun tiba-tiba Irlan menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mandi.


"Apaan sih kak. Turunin akh.." Nia memukul pelan dada bidang suaminya.


"Gak mau.!! Aku mau mandiin kamu,biar kamu gak cemburu lagi sama anak kita." Irlan makin menggoda Nia.


"Gak ada!!! Aku mandi sendiri aja. Kalau kakak yang mandiin bisa satu jam baru selesai."


Irlan menurunkan Nia setelah mereka berada di dalam kamar mandi.


"Yah kan sekalian sayang aku mau cek anak kita di dalem,dia makan gak makanan yang kamu kirim ke dia." Jawab Irlan modus.


Nia melototkan matanya.

__ADS_1


"Gak ada yah kak,jangan macem-macem!!! Aku aja gagal spa hari ini,eh...kamu malah mau bikin badan aku tambah remuk." Cebik Nia kesal.


Irlan tertawa terbahak-bahak melihat istrinya yang dalam mode galak. Bukannya menakutkan malah terlihat menggemaskan.


"Becanda sayang. Yah udah mandi aja,aku tunggu di luar. Tapi pintunya jangan di kunci yah."


Nia mengangguk.


Irlan pun berjalan keluar dari kamar mandi,dengan setianya ia menunggu istrinya di depan pintu kamar mandi.


Sebenarnya Irlan takut membiarkan Nia di dalam kamar mandi sendiri,takut kejadian enam tahun lalu terjadi lagi. Tapi ia juga tak ingin menampakkan ketakutan di hatinya,karena takut Nia kembali di dera rasa bersalah.


Tak butuh waktu lama untuk Nia berada dalam kamar mandi. Setelah lima belas menit,Nia pun keluar dari dalam kamar mandi.


Ceklek. Nia membuka pintu kamar mandi.


"Astaga...kakak ikh bikin kaget aja.!!" Nia kaget melihat Irlan yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi.


Dengan sigap Irlan menggendong tubuh Nia menuju ruang ganti. Ia mendudukkan Nia di atas meja yang ada di sana.


Kemudian dengan lincah tangannya mengambil pakaian serta pakaian dalam yang akan Nia pakai dari dalam lemari.


"Sini aku pakein." Irlan mencoba membuka tali bathrobe yang Nia pakai.


"Gak usah,aku pake baju sendiri aja." Tolak Nia,ia pun turun dari atas meja dan mengambil pakaian yang baru Irlan ambil.


"Kamu jangan banyak gerak sayang,nanti kamu kecapean. Kasihan anak kita di dalam sana."


Nia memutar bola matanya malas. Makin kesini suaminya makin lebay.


"Lebay ikh...!! Masa cuma pake baju aja kecapean!! Justru kalau kakak yang pakein aku baju,bisa bikin aku kecapean.!!" Cebik Nia kesal.


"Cie...sekarang mikirnya ke arah situ terus nih yeee..." goda Irlan sambil menoel dagu Nia.


"Hahahahaha..." Irlan malah tertawa terbahak-bahak.


Nia geleng-geleng kepala melihat suaminya yang sepertinya sangat puas mengganggu dirinya.


Tak ingin berdebat lagi dengan Irlan,Nia membalikkan tubuhnya membelakangi Irlan dan mulai memakai pakaiannya di hadapan Irlan.


Setelah selesai memakai pakaian,Nia keluar dari dalam ruang ganti menuju meja rias untuk memberikan polesan sedikit ke wajah cantiknya. Sedangkan Irlan,dia mengganti pakaian rumahnya dengan baju lengan panjang hitam,kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti.


"Udah selesai?" Tanya Irlan melihat Nia yang sepertinya sudah selesai merias wajah.


Nia mengangguk.


Mereka pun keluar dari dalam kamar menuju pintu unit apartemen.


Dengan menggandeng erat tangan Nia,Irlan dan Nia berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


Sesampainya di lobi,hp Irlan berbunyi.


Ia mengambil hp dari dalam saku celananya. Ternyata ada pesan masuk dari kakaknya. Sambil berjalan,Irlan membalas pesan masuk dari kak Irna.



Nia otewe tempat praktek kak Irna.



Irlan yang lagi sibuk berbalas pesan dengan kak Irna.


🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Karena ini masih jam setengah lima sore,lalu lintas di kota itu belum terlalu padat. Jadi hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke tempat praktek kak Irna.


"Selamat sore pak Irlan." Sapa bidan asisten kepercayaan Irna saat mereka sudah masuk ke dalam tempat praktek.


"Sore juga. Kak Irna ada kan??" Tanya Irlan basa-basi.


"Iya pak,dokter Irna sudah menunggu bapak dan istri di ruangannya. Mari pak saya antar." Bu bidan pun berjalan lebih dulu menuju ruangan Irna.


Sedangkan Irlan dan Nia mengikuti dari belakang.


Tok tok tok. Bu bidan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka pintu ruangan Irna.


"Silahkan masuk pak." Bu bidan mempersilahkan Irlan dan Nia masuk.


"Lama banget sih." Protes Irna pada adiknya.


"Jalanan macet kak." Bohong Irlan.


"Halo sayang." Kini mata Irna tertuju pada sang adik ipar.


"Halo kak." Balas Nia sambil cepika-cepiki dengan sang kakak ipar.


"Ayo duduk."


Irlan dan Nia pun duduk di kursi depan meja kerja Irna.


"Jadi hasil tespek nya positive?" Tanya Irna langsung.


Irlan dan Nia mengangguk.


"Apa ada keluhan?" Tanya Irna pada Nia.


Nia menggeleng.


"Gak mual,muntah,pusing,lemes,gak nafsu makan.?"


Nia menggeleng lagi.


"Malahan makannya dia banyak banget kak." Irlan malah yang menjawab pertanyaan kakaknya dan mendapat anggukan setuju dari Nia.


"Kalau gitu kita langsung periksa. Ayo." Irna duduk dari kursinya menuju ranjang pasien yang di gunakan untuk melakukan usg.


Nia dan Irlan ikut berdiri dan berjalan mengikuti Irna dari belakang.


"Ayo tiduran disini." Pinta Irna pada Nia sambil menepuk ranjang.


Nia pun menurut.


Bu bidan yang menjadi asisten kepercayaan Irna pun membuka pakaian yang Nia kenakan sampai sebatas perut dan menuangkan gel di atas perut Nia.


"Istri aku mau di apain kak?" Tanya Irlan yang masih belum paham dengan prosedur usg.


"Mau di usg,jadi kita bisa lihat usia kandungan Nia dari ukuran janinnya."


"Oooo"


Irna menaruh alat usg ke atas perut Nia yang sudah di beri gel dan menggeser-geser untuk melihat janin yang ada di kandungan Nia.


"Tuh anak kalian.!" Tunjuk Irna pada layar monitor.


Nia dan Irlan menatap ke arah layar monitor yang di tunjuk Irna.


"Kepala dan tangannya udah terbentuk yah,telinganya juga udah hampir berbentuk. Kalau di lihat dari ukurannya,di perkirakan calon anak kalian udah berusia empat belas minggu." Irna menjelaskan sambil menatap layar monitor.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Irna,serta melihat bentuk janin yang Irna tunjukkan di layar monitor,air mata Nia tak kuasa di bendung. Ia menangis haru akan keajaiban yang luar biasa yang Tuhan berikan padanya.


__ADS_2