Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 52


__ADS_3

Mobil pun sampai di pantai.


Hamparan pasir putih,deru ombak,semilir angin dan bau khas laut langsung menyambut kedatangan mereka.


Nia begitu bahagia,dia langsung melepas alas kakinya dan menentengnya menuju pasir putih. Berlarian layaknya anak kecil yang bahagia mendapat mainan baru.


Alex menyunggingkan senyumnya melihat Nia yang begitu bahagia.


"Kak...sini.." Nia memanggil Alex untuk ikut bermain pasir bersamanya.


Alex pun mendekati Nia. Dia duduk disebelah Nia yang sedang bermain pasir.


"Seneng banget mukanya.." Alex menoel dagu Nia.


"Iyalah...aku tuh suka banget sama pantai.."


"Kapan loe terakhir ke pantai?"


"Entah lupa..udah lama banget kayaknya.."


"Terus kenapa loe suka pantai?"


"Suka aja,liat lautan biru yang luas." Nia menatap penuh makna lautan biru itu


Alex pun sama,ia ikut menatap lautan biru itu.


"Kalau loe suka ke sini,kita bisa tiap weekend kesini.." kini matanya melihat Nia.


Nia menoleh sesaat ke Alex dan kembali menatap lautan biru.


"Hari ini hari terakhir aku di negara ini kak.."


"Maksudnya?"


Nia memang tidak memberitahukan pada Alex tentang kepergiannya ke Inggris.


"Aku mau ngelanjutin sekolah aku di Inggris kak. Papa juga udah ngurus semuanya disana. Dan malam ini aku berangkat."


Deg..


Jantung Alex berdegup.sangat kencang. Entah kenapa ia merasa tidak rela calon pacarnya itu pergi darinya sebelum dia menyatakan perasaannya.


"Loe serius?? Terus gue gimana?"


Nia mengernyitkan keningnya.


"Emang kakak kenapa?" Tanya nya polos.

__ADS_1


"Kalau loe ke Inggris,terus nasib gue gimana?"


"Apa hubungannya nasib kakak sama kepergian aku ke Inggris?"


"Ya adalah Nia...kalau loe ke Inggris,berarti sebagian hati dan jantung gue juga loe bawa kesana. Lah kalau hati dan jantung gue cuma setengah,nanti gue mati donk.." Alex berseloro,padahal hatinya begitu perih.


"Ish kirain apaan.." Nia mendorong tubuh Alex pelan.


Alex langsung menangkap tangan Nia. Mata mereka saling bertemu.


"Nia....gue tau kalau gue gak pantes ngomong ini sekarang. Tapi gue gak mau sampe nyesel karena gak ngomong ini ke loe.."


Alex makin menggenggam.erat tangan Nia.


"Nia...gue suka sama loe,bahkan gue udah sayang sama loe.. Mau gak loe kasih kesempatan untuk gue bisa mencintai loe. Izinkan gue untuk membuat loe jatuh cinta sama gue.." Alex makin memperdalam tatapannya.


"Kak....tapi aku..." ucapan Nia terpotong.


"Gue tau loe belum.siap buka hati loe. Dan gue juga gak maksa. Tapi bisa gak loe izinin gue untuk berusaha membuat loe jatuh cinta ke gue?"


"Kak...aku gak mau php in kakak. Aku tau rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.Dan itu sakit banget. Aku gak mau kakak sampe sakit hati karena aku. Apalagi status aku yang.." lagi-lagi kata-kata Nia dipotong Alex.


"Gue gak peduli status loe,bahkan sekalipun loe udah gak perawan. Yang gue butuh sekarang hati loe.. Plis kasih gue kesempatan untuk bisa ngebuka hati loe buat gue."


Nia menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Dia rasa akan percuma bicara dengan Alex sekarang.


"Terserah kakak aja.."


"Ikh apaan sih jangan meluk-meluk akh..!" Nia mendorong tubuh Alex pelan,dia mengerucutkan.bibirnya.


"Hehehe" Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gue akan nunggu loe sampai loe bisa buka hati loe buat gue." Lanjut Alex lagi.


Ditempat lain Irlan kembali meyalurkan rasa frustasi dan bersalahnya ke minuman alkohol.


Kini dia berada di club malam bersama Igo dan Yordan.


Igo dan Yordan menatap heran ke arah Irlan yang sudah menghabiskan satu setengah botol dalam waktu belum satu jam.


"Dia kenapa?" Igo bertanya pada Yordan hanya dengan tatapan mata.


Yordan yang mengerti arti tatapan mata Igo hanya menggedikkan bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu kenapa.


Bosan dengan suasana seperti ini Yordan mencoba beranjak dari ruangan itu.


"Gue mau liat-liat mangsa dulu deh.." Yordan pun berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Irlan menoleh ke arah Yordan.


"Berani loe keluar dari sini,gue patahin kaki loe" ucap Irlan dengan tatapan membunuhnya.


Yordan pun kembali duduk. Sedangkan Igo ia hanya cekikikan melihat Yordan yang menurut saja.


"Loe juga jangan kemana-mana. Loe berdua harus temenin gue minum disini." Kini mata Irlan menuju ke arah Igo.


Sudah tiga botol minuman alkohol Irlan habiskan sendiri.


Kini Irlan sudah terkapar. Kalau sudah begini Igo dan Yordan yang repot.


"Gimana sekarang?" Tanya Igo malas.


"Kita buang aja deh ke laut yuk.." Yordan memberikan ide gila.


"Bagus kalau langsung di makan hiu,lah kalau masih hidup terus terdampar di pulau terpencil,kan kasihan penduduk pulaunya harus nampung manusia model beginian." Igo menolak ide Yordan.


"Udah kita bawa pulang aja ke rumah bokapnya,biar mampus dia di gebukin bokapnya karena mabok-mabokan mulu.." ide Yordan lagi


"Kita juga nanti yang repot kalau dia digebukin bokapnya." Tolak Igo lagi.


"Yah terus gimana?" Tanya Yordan putus asa karena semua idenya di tolak Igo.


Igo hanya menjawab dengan menggedikkan bahunya.


"Sebenernya nih anak ada masalah apa sih? Gak biasanya dia kayak gini. Waktu di tinggal Melda aja dia gak begini.." Igo penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ica bilang si Nia kekeh mau cere. Kalau Irlan batalin gugatan si Nia yang bakal gugat Irlan dan nunjukin bukti perselingkuhan Irlan sama Melda." Jawab Yordan.


Igo menganggukan kepala seolah paham dengan yang Yordan katakan.


"Eh tunggu.. Ica temennya Nia yang kita kenalan di resepsinya si kunyuk.." Igo malah salfok dengan nama Ica yang Yordan sebutkan.


Kini Yordan yang menganggukkan kepala.


Igo memicingkan matanya menatap Yordan,seolah sedang menyelidiki sesuatu.


"Loe punya hubungan sama si Ica?" Tanya Igo menyelidik.


"Enggak..." Yordan menggeleng sambil membuang asap rokoknya.


"Gue pernah nolongin dia waktu dia nyariin adeknya ke sini. Dia hampir dikerjain sama anak-anak kemaren sore yang baru nginjek club." Yordan menyesap rokok yang dia jepit di sela-sela tangannya.


"Serius loe gak punya hubungan apa-apa?" Igo mengulang pertanyaannya,sepertinya dia masih penasaran.


"Kalau gue sih serius gak nganggep dia apa-apa,cuma sebatas temen. Kalau dia gue gak tau.." kini kepalanya sudah ia sandarkan ke sandaran kursi.

__ADS_1


Melihat gaya Yordan yang seperti ini,Igo yakin ada yang disembunyikan Yordan. Tapi Igo tidak mau lebih dalam bertanya,biarlah itu menjadi privasi Yordan. Lain halnya kalau Yordan yang membuka cerita duluan.


Igo dan Yordan akhirnya sepakat membawa Irlan ke rumah yang Irlan dan Nia tinggali.


__ADS_2