
Dia pun melakukan panggilan ke nomor Andrew. Karena hanya Andrew lah yang bisa ia andalkan saat ini.
"Halo" jawab Andrew diseberang sana.
"Kak..tolong,aku pendarahan" kata Nia dengan suara rintihan menahan sakit pada perutnya.
Mata Andrew pun terbelalak.
"Ok aku kesana. Inget Nia kamu harus tetap sadar."
"Kode apartemen ku xxxxxx" Nia memberitahu kode apartemennya pada Andrew.
Sepuluh menit kemudian Andrew sudah sampai di unit apartemen Nia.
"Nia..." teriak Andrew saat baru memasuki apartemen itu.
"Kak" Nia menjawab dari dalam kamar dengan suara lirih. Sesuai dengan perkataan Andrew dia berusaha sekuat tenaga menjaga kesadarannya.
Andrew masuk ke dalam kamar Nia,di lihatnya wajah Nia yang sudah sangat pucat,dan darah segar yang sudah tergenang di selangkangannya.
Andrew langsung mengangkat tubuh Nia. Ia berlari secepat mungkin dari unit apartemen Nia sampai parkiran mobil.
Ia melajukan mobilnya sudah seperti orang kesurupan. Untung saja lalu lintas sore itu tidak begitu padat.
Jadi hanya dalam waktu lima belas menit mobil yang Andrew kendarai sudah terparkir tepat didepan pintu masuk rumah sakit.
Andrew menggendong tubuh Nia.
"Suster..darurat.." Andrew berteriak membuat suaranya begitu menggema.
Para suster pun berdatangan sambil membawa brankar. Nia pun dibaringkan di atas brankar.
Dokter pun datang memeriksa kondisi Nia.
"Cepat siapkan ruang operasi." Perintah dokter pada salah satu perawatnya.
Dokter menghampiri Andrew yang menunggu di luar.
"Maaf tuan,istri anda harus segera di operasi. Kami akan melakukan upaya sebaik mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Banyak-banyak berdoa." Dokter menepuk pundak Andrew sebelum berlalu dari hadapan Andrew.
Andrew terduduk lemas di kursi. Ia takut terjadi hal buruk pada Nia dan anak dalam kandungannya. Walaupun itu bukan anaknya,tapi Andrew sudah menganggap anak yang ada di kandungan Nia adalah anaknya. Apalagi selama beberapa bulan ini,dia yang selalu mengantarkan Nia kontrol dan selalu mengingatkan Nia untuk minum vitamin dan makan makanan bergizi.
Andrew mengambil hp yang ada di kantong celananya. Dia melakukan panggilan ke nomor mama Dena. Memberitahukan tentang kondisi Nia.
Mama Dena yang mendapat kabar buruk tentang putrinya tak menyangka,pasalnya belum ada satu jam yang lalu mereka bertukar cerita melalui panggilan telpon.
__ADS_1
Mama Dena langsung menghubungi papa Niko dan memberitahu kabar yang baru saja ia dapatkan dari Andrew.
Papa Niko langsung menyuruh asistennya menyiapkan tiket ke London.
Kurang lebih tujuh belas jam perjalanan,akhirnya papa Niko dan mama Dena tiba di London. Mereka langsung menyuruh supir taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat Nia dirawat.
Andrew yang mendapat kabar kalau orangtua Nia sudah sampai London dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit langsung menunggu mereka di lobi.
"Andrew.." panggil mama Dena melihat Andrew di depan pintu rumah sakit.
Andrew pun menghampiri mama Dena dan papa Niko.
"Bagaimana keadaan Nia?" Tanya mama Dena panik.
"Lebih baik paman dan bibi melihatnya langsung. Mari ikut saya."
Andrew pun berjalan didepan untuk menunjukkan kamar perawatan Nia.
Bayi Nia sudah di lahirkan. Bayi nya berjenis kelamin laki-laki. Karena dia lahir prematur,maka dari itu bayi yang belum diberi nama oleh ibunya masih dirawat di ruang NICU.
Andrew menunjuk sebuah kamar yang ditempati Nia. Kamar yang hanya bisa di masuki dengan pakaian steril.
Ya,,pasca operasi untuk mengeluarkan bayi dan menghentikan pendarahan. Nia mengalami koma.
Nia sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Sus,apa boleh saya masuk melihat kondisi anak saya?" Tanya papa Niko kepada suster yang baru saja keluar dari kamar Nia.
"Boleh tuan,tapi tuan dan nyonya harus disterilkan terlebih dahulu." Jawab suster itu.
Suster pun menunjukkan jalan menuju tempat pensterilan.
Setelah disterilkan mama Dena dan papa Niko masuk ke ruangan Nia.
Mam Dena membungkam mulutnya dengan kedua tangannya,menahan tangis yang akan pecah di ruangan itu.
Papa Niko pun sama,berusaha tegar. Menarik nafas dan membuangnya pelan. Hal itu di lakukan berkali-kali seolah mengisi baterai kekuatan yang mulai melemah.
Hati orangtua mana yang tak hancur melihat anak semata wayangnya dalam keadaan kritis.
"Nia.." mama Dena menggenggam jari-jari anaknya.
"Mama disini sayang. Ayo bangun,apa kamu gak mau jalan-jalan sama kami lagi." Mama Dena berbisik di telinga Nia.
Katanya orang yang sedang koma,bisa mendengar apa yang kita bicarakan.
__ADS_1
"Sayang,kamu bilang ingin menjadi penerus perusahaan kakek Dirga,cepat lah bangun nak,papa tidak sabar melihat mu menjadi wanita dewasa yang mengagumkan" kini papa Niko yang berbisik memberi stimulasi kepada Nia.
"Anak mu sudah lahir,apa kamu tidak ingin melihatnya? Dia menanti mu Nia,sadar lah sayang." Mama Dena tak bisa lagi membendung air matanya.
Tak tahan melihat istrinya yang terpuruk,papa Niko membawa mama Dena keluar dari ruangan Nia.
Papa Niko membawa mama Dena duduk di kursi didepan ruangan Nia.
"Paman,bibi apa kalian tidak ingin melihat cucu kalian?" Tanya Andrew ditengah-tengah tangis pilu seorang ibu.
Mama Dena dan papa Niko sontak melihat ke arah Andrew.
"Ayo pah kita lihat cucu kita." Ajak mama Dena,sejenak melupakan kesedihan karena kondisi putrinya.
Papa Niko dan mama Dena hanya bisa melihat cucu mereka dari luar.
Keadaan bayi kecil itu tak kalah menyayat. Dipasangi alat-alat disekujur tubuhnya,tubuh mungil itu terlihat tidur dengan nyenyak.
"Keadaan bayi nyonya Niana semakin hari semakin membaik,dia anak yang kuat." Kata salah seorang suster.
"Iya,mama nya saja orang yang sangat kuat,jadi anaknya pun harus menjadi anak yang kuat juga." Papa Niko menimpali perkataan suster itu.
Tiba-tiba Andrew berlari ke arah orangtua Nia.
"Paman,bibi..Niana..." kata Andrew dengan nafas terengah-engah.
Melihat dari raut wajah Andrew ada sesuatu yang tidak baik. Mama Dena dan papa Niko langsung berlari menuju ruangan Nia.
Saat ingin masuk,salah seorang suster menghadang papa Niko dan mama Dena.
"Maaf,tuan dan nyonya dilarang masuk dulu. Biar kami tim medis bekerja melakukan yang terbaik. Banyak-banyak lah berdoa."
"Memangnya apa yang terjadi pada anak kami?"
"Kondisi nyonya Niana sedang tidak baik. Tiba-tiba dia drop."
"Kenapa bisa,tadi kondisinya masih baik-baik saja.."
"Maaf tuan nanti dokter yang menangani nyonya Niana akan menjelaskannya.Permisi." suster itu pun kembali masuk ke dalam ruangan Nia.
Seketika kaki mama Dena melemas tak kuat menopang tubuhnya,dadanya juga terasa sesak.
"Nia akan baik-baik saja kan pah?? Mama gak sanggup kalau harus kehilangan Nia." Mama Dena menangis histeris di pelukan suaminya.
Dokter yang menangani Nia belum keluar,tiba-tiba seorang perawat dari ruang NICU berlari ke arah mereka.
__ADS_1