
"Kampret loe yah!! Dulu aja waktu cere loe nyusahin gue,sekarang mau balikan gue juga yang loe susahin!!"
"Tenang aja,gue bayar mahal deh.."
"Jangan cuma bayar mahal,loe juga harus promosiin gue ke kolega-kolega loe!!"
"Iya..iya. Tapi hari ini juga harus kelar tuh surat yah."
"Nge gas banget sih loe!!"
"Ya ngegas lah,semakin lama tuh surat jadi,semakin lama gue ketemu sama bini gue. Gue mana tahan Ris!!"
"Cih..bini..!! Nanti ketemu wewe gombel yang mulus,loe lupain tuh bini.!! Gue lagi yang disusahin!!"
"Gak akan. Nia yang terakhir untuk hidup gue!! Udah cepet loe kerjain tuh surat,gue tunggu loe jam pulang kantor di kafe gue."
Irlan pun mengakhiri panggilannya pada Haris,dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Berbeda dengan Irlan,Nia nampak sangat gelisah. Ia mondar/mandir di depan meja kerjanya,sesekali ia duduk dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Pikirannya terus memikirkan apa yang sudah papa nya lakukakan pada Irlan.
"Tadi waktu video call mukanya kak Irlan gak bengep kok,berarti papa gak mukulin kak Irlan. Apa jangan-jangan papa udah ngancam kak Irlan,atau....Aaaaarrrrgghh!!" Nia mengacak-acak rambutnya sendiri,frustasi memikirkan apa yang sudah papa Niko lakukan pada Irlan.
Tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi,Nia memutuskan untuk menanyakan langsung pada papanya. Tak peduli jika nanti papanya memarahinya karena kembali berhubungan sama Irlan.
Nia melangkahkan kakinya menuju ruangan papanya.
Ceklek. Nia membuka pintu ruangan papa Niko.
Mata Nia membulat melihat orang yang ada di dalam ruangan papanya.
"Papi Tian???!!" Lirih Nia.
Papi Tian dan papa Niko menoleh ke arah pintu saat Nia membuka pintu.
"Nia.." kata papa Niko dan papi Tian serentak.
"Sini.." kata papa Niko sambil menepuk sofa kosong yang ada disampingnya.
Nia pun mendekat ke arah papa Niko dan duduk di sofa yang ditunjuk papa Niko.
"Ada apa? Kenapa wajah mu kelihatan cemas?" Tanya papa Niko setelah Nia duduk.
"Kok ada papi Tian disini?" Bukannya menjawab Nia malah balik bertanya pada sang papa.
__ADS_1
"Papi sama papa mu lagi membicarakan kerjasama untuk masa depan." Jawab papi Tian.
"Kerjasama untuk masa depan? Maksudnya?" Tanya Nia penasaran.
"Udah lah,nanti kamu juga tau." Jawab papa Niko yang makin membuat Nia penasaran.
"Ada apa kamu ke ruangan papa? Apa ada masalah?" Tanya papa Niko.
Nia menggeleng. Dia ingin menanyakan apa yang sudah papanya lakukan pada Irlan,tapi dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu,karena sekarang ada papi Tian.
Jadi Nia memilih untuk kembali ke ruangannya.
Setelah Nia keluar dan pintu ruangan papa Niko tertutup. Papa Niko dan papi Tian kompak tertawa,mereka tau apa yang membuat Nia mendatangi papa Niko,tapi mereka pura-pura tidak tahu.
"Mau sampai kapan kamu mengetest Irlan Nik? Tuh liat muka anak kamu,cemas banget tadi."
Papa Niko menggedikkan bahunya.
"Jangan lama-lama Nik,nanti kalau mereka sampe nekat,kita juga yang dibuat pusing."
"Iya,kamu bener. Apalagi dengan sikap Irlan yang keras kepala,pasti dia akan mencuci otak Nia untuk berbuat nekat." Kata papa Niko.
Papi Tian tertawa mendengar mantan besannya yang sebentar lagi akan menjadi besannya kembali mengatakan tentang keburukan anaknya.
Yah mau gimana lagi memang benar yang dikatakan papa Niko kalau anaknya itu punya watak keras kepala.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jam pulang kantor pun tiba,Irlan buru-buru merapihkan meja kerjanya. Agar dirinya bisa pergi ke kafe miliknya untuk bertemu dengan Haris. Ia sudah tidak sabar menggenggam surat pernyataan yang Haris buat untuknya dan membawanya ke papa Niko.
Kini Irlan sudah tiba di kafe miliknya. Ia langsung masuk keruangannya dan duduk disofa.
Ia terlihat gelisah. Sesekali ia melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat ke rumah papa Niko dan memberikan surat pernyataan itu,agar bisa bertemu dengan Nia. Irlan sudah seperti orang gila sekarang karena menahan rindu pada wanitanya. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu.
Irlan bolak-balik melakukan panggilan ke nomor Haris,untuk menanyakan keberadaan Haris. Tapi yang dihubungi tidak menjawab panggilan telepon Irlan.
"Hiiiissshh!!! Kemana sih tuh si Haris!!" Gerutu Irlan.
Ia kembali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Satu jam Irlan menunggu kedatangan Haris sampai muka glowing Irlan lecek kayak pakaian yang belum kena setrika.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Dengan tampang tak berdosa Haris masuk keruangan Irlan dan menyapa si muka lecek.
__ADS_1
"Hai bro..".kata Haris sambil mendudukkan bokongnya di sofa tepat di hadapan Irlan.
Irlan menatap Haris malas.
"Lama banget sih loe!!"
"Sori bro klien gue banyak,bukan loe doang." Kata Haris sambil mengeluarkan surat yang Irlan minta.
"Cih..pengacara kagak laku aja sok bilang banyak klien."
Haris mencebikkan bibir nya,ingin sekali ia menyumpel mulut Irlan dengan sosis goreng berlumur sambel dengan tingkat kepedasan level mematikan.
"Nih yang loe minta. Inget sama bayaran yang loe janjiin,sama jangan lupa promosiin gue ke kolega loe!!" Haris menyodorkan surat yang diinginkan Irlan.
Irlan mengambil surat itu dari tangan Haris.
"Tenang aja,gue pasti promosiin loe!!" Sambil matanya membaca surat yang Haris buatkan untuknya.
"Loe yakin cuma dengan surat itu bokap si Nia mau nerima loe lagi?!" Tanya Haris penasaran.
Irlan mengangguk.
"Orang calon papa mertua gue yang minta bikin surat ini kok."
"Cih..calon papa mertua!!" Haris berdecih geli mendengar Irlan mengatakan calon papa mertua.
"Gak sekalian aja loe minta surat keterangan tidak mampu dari kelurahan??!" Lanjut Haris lagi.
"Buat apaan??! Loe kira gue orang miskin!! Sekalipun bokap gue nyoret gue dari ahli waris dia. Gue masih mampu yah nafkahin Nia lahir batin!!" Protes Irlan tak suka. Ternyata dia tidak mengerti apa maksud Haris.
"Bukan mampu itu bego!! Maksud gue surat keterangan tidak mampu untuk meninggalkan dan melulakan Nia..!!" Diiringi gelak tawa dari Haris setelah mengatakan itu.
Irlan nampak berpikir.
"Iya juga yah..emang bisa minta surat itu ke kelurahan??!" Tanya Irlan dengan polosnya.
Haris menepuk jidatnya.
"Astaga..gara-gara cinta otak orang yang ber.IQ tinggi pun bisa ngadet!!" Umpat Haris pada Irlan.
"Loe ngatain gue??!" Irlan menatap tajam pada Haris.
"Akh udah lah susah ngomong sama orang yang lagi puber. Gue balik aja!!! Inget transfer uang gue,dua kali lipat dari biasanya!!" Kemudian Haris beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan Irlan.
__ADS_1
Irlan pun sama,dia buru-buru keluar dari ruangannya sambil membawa map yang berisi surat pernyataan yang akan ia bawa ke rumah papa Niko.
"Nia...aku dataaaaaang" teriak Irlan bersemangat.