
Nia masih saja tertawa.
"Yah jelas gak ada lah kak kalau di hp. Orang aku ngirim pesannya lewat hati."
Alex langsung menyebik kesal. Dia langsung memiting gemas leher Nia.
"Loe tuh yah makin hari makin gemesin."
"Ampun kak..ampun.."
Alex pun melepaskan pitingannya.
"Kok kakak tau aku disini?" Tanya Nia.
"Dari siapa lagi kalau bukan dari calon papah mertua.." Alex terkekeh geli mengucapkan papa Niko sebagai calon papa mertuanya.
Nia melengoskan wajahnya mendengar kata-kata Alex yang kelewat PD.
"Ayo ikut gue." Alex menarik tangan Nia.
"Ekh...mau kemana? Jangan main tarik-tarik dong aku pake heels nih.." Nia memukul-mukul tangan Alex agar Alex melepaskannya.
Alex tidak memperdulikan kata-kata Nia. Dia tetap menarik tangan Nia sampai ke dalam mobil Alex.
"Ish kebiasaan deh.." cebik Nia.
"Kita mau kemana sih jangan yang aneh-aneh yah.."
"Ish si eneng,emangnya tampang abang suka yang aneh-aneh yah." Jawab Alex bercanda.
"Au ah...beneran nih kita mau kemana?" Tanya Nia lagi.
"Mau nyari makan neng,emangnya perut eneng gak laper?"
Mendengar jawaban Alex yang mengajak makan,Nia pun merasakan perutnya yang lapar.
"Mau makan dimana?" Tanya Nia.
"Loe maunya dimana?"
"Terserah... asal jangan makan-makanan Jepang,western,chinese,pokoknya yang begituan la."
"Lah terus mau makan apa?" Alex mengernyitkan keningnya.
"Makan pecel ayam aja,ditempat favorite aku."
"Kalo gitu ngapain di awal loe bilang TERSERAH Iyem..." Alex memasang tampang malas.
__ADS_1
Nia terkekeh geli mendengar kata-kata protes Alex.
Selama Nia di London,komunikasi Alex dan Nia tak pernah terputus. Bahkan Alex pernah mendatangi Nia kesana. Alex sudah tau tentang kejadian yang telah Nia alami. Dan Alex tidak perduli. Toh status Nia memang bukan gadis lagi.
🍀🍀🍀🍀🍀
Kini Irlan sudah sampai di Apartemennya.
Irlan sudah tidak tinggal lagi dengan orangtuanya,alasannya dia ingin memiliki privasi.
Rumah yang dulu ia tinggali bersama Nia juga sudah ia jual. Sedangkan apartemen Melda,Irlan tidak memperpanjang sewanya.
Irlan juga sudah tidak tahu dan tidak mau tau tentang Melda. Hanya kabar terakhir yang Irlan dengar,Melda sudah tidak ada di kota ini.
Irlan mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di kamarnya.
Ia memandangi foto pernikahannya dengan Nia yang sengaja ia cetak sebesar tv 88 inch.
Memandang foto itu lekat-lekat,hanya foto itu yang Irlan punya untuk melepaskan rasa rindunya pada Nia.
Bodoh memang Irlan,dulu waktu mereka masih berstatus suami istri, Irlan tak memperdulikan Nia,bahkan foto Nia pun ia tak punya. Foto pernikahan ini pun Irlan dapat kan di rumah orangtuanya. Untung orangtua Irlan masih menyimpan foto pernikahan mereka. Karena semua foto pernikahan mereka telah Nia bawa,karena memang Irlan dulu tak memperdulikan hal itu.
"Nia..loe apa gak bosen di tempat persembunyian loe. Ini udah hampir empat tahun,apa loe masih gak mau maafin gue. Plis Nia udah cukup empat tahun loe ngehukum gue dengan penyesalan,pliss kasih gue kesempatan sekali aja,gue ingin ngebuktiin sama loe kalau gue bener cinta sama loe."
Hampir empat tahun kehilangan Nia,Irlan pun menyadari kalau rasa yang ada dihatinya bukan hanya obsesi semata,melainkan memang benar-benar cinta.
Dan selama itu pula,Irlan selalu menjaga hatinya untuk Nia. Karena memang begitulah sifat Irlan,selalu setia dengan wanita yang ia cintai.
Lama ia menatap figura yang ada didinding. Merasa tubuhnya sudah sangat lelah dan mata nya pun sudah mengantuk,Irlan beranjak dari sofa dan naik ke pembaringan.
Tak butuh waktu lama Irlan pun sudah pergi ke alam mimpinya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan paginya Nia sudah bersiap berangkat ke kantor. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Merasa puas,Nia pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan di lantai bawah.
"Pagi mah-pah.." sapa Nia kepada orangtuanya yang telah menunggunya.
"Pagi sayang." Balas mama Dena.
"Tidur mu nyenyak kan tadi malam?" Tanya papa Niko.
Nia mengangguk.
"Emangnya kenapa pah?" Tanya Nia,karena tak biasanya papanya menanyakan tentang kualitas tidurnya.
"Cuma nanya,kan kasihan kalau sampai tidur mu gak nyenyak terus sampai kantor harus ketemu sama berkas-berkas yang menggunung." Papa Niko melirik sedikit ke arah Nia,seolah sedang menyindir Nia.
__ADS_1
"Ikh papa,,pokoknya Nia gak mau yah pah kalau papa langsung ngelepas Nia sendiri ngejalanin perusahaan."
"Terserah papa dong."
"Gak bisa gitu,kan sekarang aku presdirnya jadi aku perintahkan papa untuk tetap kerja sama aku sampai aku paham betul."
Papa Niko menganga mendengar penuturan anaknya.
"Wah wah wah..makin pinter aja kamu yah.."
"Iya dong..kan udah disekolahin ke luar negri,masa gak pinter sih.." jawab Nia santai.
Mama Dena yang sedari tadi menjadi pendengar setia,menggeleng-gelengkan kepala melihat perdebatan antara anak dan suaminya.
"Udah..udah,makan dulu. Nanti telat loh ke kantornya." Mama Dena menengahi perdebatan itu.
Meraka pun melanjutkan menyantap sarapan mereka.
"Kamu mau ikut papa atau bawa mobil sendiri?" Tanya papa Niko setelah menyelesaikan sarapannya.
"Bawa mobil sendiri aja deh pah." Kini Nia juga sudah menyelesaikan sarapannya.
"Oh iya jangan lupa nanti malam kamu ikut ke pernikahan anaknya rekan bisnis papa."
"Iya pah,Nia inget kok."
"Kamu punya gaun yang mau di pake nanti?" Tanya mama Dena.
"Punya sih,tapi..." Nia ragu menjawabnya pasalnya gaun yang ia maksud sudah hampir empat tahun yang lalu Nia beli.
"Akh mama ngerti. Nanti pas jam makan siang kita cari gaun untuk kamu pake nanti malam."
Papa Niko langsung menoleh ke istrinya.
"Pas pulang kerja aja lah mah,kerjaan Nia banyak dikantor." Protes papa Niko.
"Gak..pokoknya pas jam makan siang. Dan kamu gak usah protes." Mama Dena mendelik tidak suka pada papa Niko.
"Terserah nyonya besar aja lah." Jawab papa Niko pasrah.
Tak ingin berlama-lama merasakan hawa dingin yang di keluarkan istrinya,papa Niki mengecup puncak kepala mama Dena kemudian berangkat ke kantor.
Nia pun sama,setelah mencium punggung tangan sang mama,Nia pun berangkat ke kantor dengan menyetir sendiri mobilnya.
Sesampainya di kantor,papa Niko langsung mengajari Nia mempelajari berkas-berkas. Karena terlalu serius sampai membuat mereka lupa waktu.
"Ekhm" mama Dena berdehem membuyarkan konsentrasi duo ayah dan anak itu.
__ADS_1
Nia dan papa Niko menoleh sesaat kemudian kembali melanjutkan kegiatan mereka.
Merasa di abaikan oleh suami dan anaknya mama Dena menghampiri mereka.