Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 110


__ADS_3

Nia menarik tangan Irlan sampai mereka masuk ke dalam lift. Nia memencet tombol ke lobi.


Didalam lift tidak ada satu pun yang membuka suara.


Ting. Pintu litf terbuka.


Nia kembali menarik tangan Irlan menuju parkiran. Nia membuka pintu depan sebelah kiri untuk Irlan.


"Masuk." Kata Nia menyuruh Irlan.


Irlan mengernyitkan keningnya.


"Ini maksudnya gue yang disetirin??!" Tanya Irlan dalam hati.


"Gak. Sini aku aja yang nyetir." Irlan mengambil kunci mobil yang ada di tangan Nia.


"Masuk." Irlan mendorong Nia untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah Nia masuk dan menutup pintu mobil,Irlan berjalan ke sisi kanan dan masuk ke dalam mobil.


Irlan menyalakan mesin mobil. Dan menjalankan mobil Nia keluar dari gedung Pratama Group.


"Kita mau kemana ini?" Tanya Irlan saat mobil Nia sudah keluar dari gedung Pratama Group.


"Kerumah." Jawab Nia singkat.


Irlan mengernyitkan keningnya.


"Kerumah siapa?"


"Ke rumah papa lah."


Tak bertanya lagi,Irlan pun fokus mengemudikan mobilnya ke rumah papa Niko.


Jalanan yang cukup renggang membuat mereka hanya membutuhkan waktu setengah jam sampai di rumah papa Niko.


Mobil Nia yang di kendarai Irlan pun memasuki halaman rumah papa Niko.


Begitu mobil terparkir mulus,Nia langsung keluar dari dalam mobil. Sedangkan Irlan masih berdiam diri di dalam mobil.


"Kok jadi dia yang ngambek? Kan harusnya gue yang ngambek karena dia udah nyimpen rahasia besar dari gue." Lirih Irlan yang melihat Nia keluar dari dalam mobil dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Melihat Irlan yang tak kunjung turun dari dalam mobil,membuat Nia semakin kesal.


"Ngapain masih disitu??? Turun!!!" Teriak Nia dari teras rumah.

__ADS_1


Dengan malas Irlan turun dari dalam mobil. Ia mengikuti langkah Nia dari belakang. Irlan mengernyitkan keningnya saat menapaki anak tangga,karena Irlan tau kemana arah Nia membawanya.


"Kamu mau kita ngamar??!" Tanya Irlan tanpa dosa. Huft mungkin efek sudah lama gak merasakan syuuuurga dunia,jadi bentar-bentar pikirannya ke arah sana.


Nia membalik tubuhnya dan menatap tajam Irlan yang ada di belakangnya.


Irlan menelan slivanya susah payah melihat tatapan tajam dari Nia.


Nia kembali berjalan menapaki anak tangga.


Ceklek. Nia membuka pintu kamarnya.


"Masuk." Kata Nia pada Irlan.


Irlan pun masuk menuruti kemauan Nia. Setelah Irlan masuk,Nia pun masuk ke dalam kamar. Ia tidak menutup kembali pintu kamarnya.


"Duduk dulu,ada yang mau aku kasih liat ke kakak." Nia menyuruh Irlan duduk di sofa yang ada di kamar Nia.


Lagi dan lagi Irlan menuruti kata-kata Nia untuk duduk di sofa yang ditunjuk Nia.


Nia melangkahkan kakinya menuju ruang ganti. Mata Irlan yang mengikuti pergerakan Nia semakin membulat ketika Nia berjalan ke ruang ganti.


Di pikiran Irlan,Nia akan mengganti pakaiannya dengan pakaian berbahan tipis dan seksi. Dengan cepat Irlan beranjak dari duduknya dan menutup pintu kamar Nia dan menguncinya,lalu kembali duduk di tempatnya semula.


Tak lama Nia pun keluar dari dalam ruang ganti dengan pakaian yang sama dan masih lengkap. Wajah berbinar Irlan berubah menjadi kisut karena ternyata yang ia pikirkan tak sesuai kenyataan.


Nia duduk di pinggiran ranjang,tepat di depan sofa yang Irlan duduki.


"Ini,kakak buka." Nia menyerahkan amplop putih itu pada Irlan.


"Ini apa?!" Tanya Irlan sambil memegang amplop putih itu.


"Buka dulu."


Irlan pun membuka amplop putih itu. Mengeluarkan isinya.


Mata Irlan membelalak,karena isi dari amplop putih itu adalah foto-foto Nia yang sedang hamil. Dan enam lima lembar foto usg anak Nia. Serta foto Mosha yang sudah terbujur kaku yang sempat diabadikan mama Dena.


"I...iiini apa?!" Tanya Irlan terbata-bata. Tiba-tiba hatinya sangat sakit begitu melihat foto-foto itu.


"Itu Mosha,anak aku,anak kita. Hasil perbuatan kamu malam itu."


Duuuuaaar..


Serasa ada ledakan di hati dan kepala Irlan.

__ADS_1


"Tapi sekarang dia udah gak ada di sini. Dia udah tenang disana." Kata Nia lagi sambil menahan tangisnya.


Irlan menatap dalam wajah Nia.


"Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku kalau kamu hamil? Kenapa kamu malah ingin meneruskan perceraian kita waktu itu? Seandainya waktu itu aku tau kamu hamil,aku gak akan nyerah sama ancaman papa Niko!!!" Tanya Irlan yang sudah mulai emosi. Mengingat ia terpaksa harus menyerah dengan pernikahannya hanya karena papa Niko mengancam akan menyebarkan bukti perselingkuhan Irlan dengan Melda.


"Aku juga gak tau kalau waktu itu aku hamil,aku baru tau setelah kita bercerai dan setelah kandungan aku tiga bulan."


"Masa iya udah tiga bulan kamu baru tau kamu hamil?? Memangnya kamu gak curiga waktu kamu gak dateng bulan??" Tanya Irlan masih mencoba menahan emosinya.


"Waktu itu aku sibuk kuliah,jadwal kuliah aku padat banget ditambah banyak tugas,jadi aku pikir aku telat karena kecapean dan stress. Karena waktu mau ujian sekolah dulu aku juga kayak begitu."


Irlan mengusap wajahnya kasar,tak tau harus berkata apalagi.


"Aarrrgghh!!!" Ia menjambak rambutnya frustasi.


"Terus setelah tau kamu hamil kenapa kamu gak kasih tau aku,kenapa papa Niko atau mama Dena juga nyembunyiin ini semua dari aku?"


"Aku yang suruh mereka untuk gak kasih tau kamu,karena aku pengen milikin anak itu sendiri. Karena hanya anak itu kenang-kenangan yang aku punya dari pernikahan kita dulu."


"Kamu pikir anak itu barang yang bisa kamu jadiin kenang-kenangan oleh satu pihak!!!" Teriak Irlan sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Karena keegoisan kamu,keegoisan keluarga kamu,anak aku harus pergi selama-lamanya tanpa merasakan perhatian dari aku saat dia masih di kandungan!!!" Lanjut Irlan masih dengan emosinya.


"Terus mau kamu,aku harus ngasih tau kamu kalau aku hamil anak kamu!!! Sedangkan kamu udah nyakitin hati aku dengan perselingkuhan kamu!!! Aku sengaja gak ngasih tau kamu,karena aku pikir percuma ngasih tau kamu toh kamu gak akan menganggap anak itu penting buat kamu!!! Karena pada saat itu selingkuhan kamu yang terpenting buat kamu,sampe-sampe kamu lebih memilih dia dari pada aku!!!" Nia membalas kata-kata Irlan dengan suara yang tak kalah kerasnya.


Irlan menghela nafasnya,ia sadar disini kesalahan bukan sepenuhnya ada pada Nia. Kesalahan terbesar terletak pada dirinya.


Tak ingin memperpanjang masalah ini,Irlan pun bangkit dari duduknya. Ia mendekati Nia dan duduk di sebelah Nia yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Irlan mengambil tangan Nia dan memeluk Nia.


"Maaf..aku salah. Aku tau kamu ngelakuin itu semua juga karena kesalahan aku. Maaf aku udah teriakin kamu kayak tadi." Irlan mengusap-usap punggung Nia. Ia juga mengecup puncak kepala Nia sebagai tanda permohonan maafnya.


"Bukan kamu aja yang marah,aku juga marah sama diri aku sendiri karena gak bisa jaga anak kita dengan baik. Aku pikir aku sanggup melewati ini semua tanpa kamu,ternyata aku salah." Tangis Nia semakin pecah saat dia mengungkap rasa bersalahnya.


Irlan semakin mempererat pelukannya.


"Kamu gak salah sayang. Aku yang salah,karena udah maksa kamu untuk ngelakuin itu padahal aku udah nyakitin kamu. Kalau aku jadi kamu,pasti aku juga akan ngambil keputusan yang sama kayak kamu. Tapi kalau jalannya anak kita harus kembali pada Nya,itu semua sudah takdir. Mungkin itu yang terbaik untuk kita semua." Kata Irlan menguatkan Nia.


"Tapi aku udah gagal menjaga dia" kata Nia sambil menangis.


Irlan melepaskan pelukannya,dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nia. Ia menyeka air mata yang ada di pipi wanitanya itu.


"Itu bukan gagal namanya sayang,itu namanya belum rejeki kita. Jangan sedih yah,nanti kalau kita udah nikah aku janji akan sering-sering usaha biar bisa di kasih gantinya lagi,biar kamu gak ngerasa bersalah terus."


Nia malah mencebik mendengar kata-kata Irlan.

__ADS_1


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI PARA READERS OTHOR TERCINTA DAN TERSAYANG. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


__ADS_2