
" Bagaimana kalau kamu kembali ke hotel saja , San ?" saran Aryan yang melihat adiknya duduk bersandar ke dinding sambil sesekali memejamkan matanya.
Saat ini Sandra dan juga Aryan berada di depan ruang operasi. Keduanya menunggu Gebi yang sedang menjalani operasi kaki .
" Nggak lah kak ... lagian meski balek ke hotel pasti juga nggak bisa istirahat," tolak Sandra.
" Kenapa?" tanya Aryan heran .
" Gimana mau istirahat kalau Gebi masih dioperasi ," jawab Sandra malas .
" Kok sikap kamu bisa berubah. Apa karena dia bukan lagi istriku?" tanya Aryan .
Dia masih tidak menyangka jika adiknya itu bisa bersikap baik pada Gebi . Sebab sejak awal Sandra terlihat paling membenci Gebi .
" Sejak Sandra mengenal cinta ."
" What !" pekik Aryan sambil melotot kearah Sandra .
" Responnya biasa aja kali kak . Sandra udah besar jadi sudah pantas dong mengenal cinta ."
" Sudah besar kok masih manja ," cibir Aryan .
" Lah ... manja ma tidak peduli dia sudah besar atau kecil kak . Lagian apa yang Sandra omongin benar kok ."
" Apanya yang benar ?"
" Lah itu tadi . Dulu Sandra benci Gebi karena membuat kakak harus menikahinya secara terpaksa. Apalagi waktu itu kakak sudah memiliki kak Nia . Sandra sangat benci yang namanya pelakor ."
" Terus sekarang?"
" Sandra sadar ... bahwa cinta itu tidak pernah bisa memilih kepada siapa hati bisa berlabuh . Kita hanya harus bisa menyikapinya."
" Nggak mudeng dek ?"
" Maksud Sandra gini ya ... Sandra pernah mencintai dosen Sandra sendiri . Sandra senang banget saat bertemu dengannya. Kadang Sandra membuat dosen itu kesel agar Sandra mendapatkan perhatiannya."
" ..."
" Kakak tahu nggak ternyata dosen itu sudah memiliki istri dan juga anak ."
" What ... jangan coba-coba jadi pelakor loh dek !"
" Ish ... siapa juga yang mau jadi pelakor. Kakak dengerin dulu cerita Sandra baru berkomentar."
" Oke ... lanjut ."
__ADS_1
" Setelah mengetahui hal itu , Sandra sering galau loh kak ."
" Ngapain galau ?"
" Ya galau lah ... Sandra kan cinta benget sama tuh dosen ."
" Terus ..."
" Sandra sebenarnya masih pengen ngejar sih ... tapi Sandra keinget sama Gebi," ucap Sandra dengan sendu .
" ..."
" Seperti yang sudah kakak ceritain. Gebi mencintai kakak sejak kelas satu SMA. Dia juga tidak berhenti mengganggu kakak setiap ada kesempatan. Hingga yang terakhir menjebak kakak hingga kalian dinikahkan. Terus ... bagaimana akhirnya?"
" ..."
" Jadi karena itu lah Sandra lebih memilih menjauh . Takut jika nasib Sandra sama dengan Gebi . Dan kenapa Sandra bisa tidak membenci Gebi bukan karena dia sudah tidak lagi menjadi istri kakak . Melainkan Sandra tahu tidak seharusnya membenci Gebi seperti itu ."
" ..."
"..."
Suasana pun kembali hening . Keduanya larut dengan pikiran masing-masing. Hingga kehadiran ketiga orang yang membuat suasana kembali ramai .
" Bagaimana kondisi Gebi ?" tanya Brayen dengan panik. Terlihat sekali kekhawatirannya .
Tidak mungkin mengharapkan Aryan yang akan menjawab. Jawabannya tentu saja no ... kecuali dalam keadaan terdesak.
" Sebenarnya kejadiannya gimana sih kejadiannya kok bisa kecelakaan?"
" Lah ... situ nanya ? ...
Bukankah tadi kalian pergi dulu ?"
Skak ... ketiga orang yang baru saja datang tidak bisa menjawab. Sebab apa yang ditanyakan oleh Aryan benar adanya .
" Tapi kok kalian berdua bisa bersamanya?" tanya Brayen yang masih belum puas .
" Dari pada kamu nanya sama kamu lebih baik ... tanya aja langsung pada yang bersangkutan."
" Sudahlah Bray ... untung mereka mau menolong. Kalau tidak ..."
" Apa yang dikatakan Fitri benar . Lebih baik sekarang kita berdoa agar operasi Gebi berhasil dan sembuh seperti sedia kala," ucap Sandra .
" Amin ."
__ADS_1
Setelah mengucapkan tadi , Sandra kembali ke kursi yang tadi ia duduki . Begitupun dengan ketiga orang yang baru datang . Mereka mencari kursi yang bisa mereka duduki.
Ternyata operasi itu membutuhkan waktu yang lama . Hampir tiga jam .
Ceklek
Pintu ruang operasi terbuka . Dokter dan juga perawat yang melakukan operasi keluar dari ruangan itu . Aryan dan yang lain menghampiri mereka.
" Bagaimana operasinya Dok?"
" Alhamdulillah... operasinya berjalan lancar . Sebentar lagi bisa di pindahkan keruangan."
" Alhamdulillah.. terimakasih dok ."
" Sama-sama itu sudah menjadi tanggung jawab kami . Bagaimana dengan orang tuanya ?"
" Masih belum bisa kesini Dok. Maaf karena rumah mereka jauh ."
" Baiklah kalau begitu . Asal sudah diberi pemberitahuan. Mari ..."
" Silahkan Dok ... sekali lagi terimakasih."
Dokter itu tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Tak lama kemudian pintu ruang operasi kembali terbuka . Dia orang perawat mendorong ranjang dengan Gebi diatasnya.
Terlihat beberapa alat medis masih terpampang ditubuh Gebi . Membuat kelima orang tadi kembali bersedih . Mereka mengikuti langkah kedua orang perawat itu untuk sampai keruangan yang sudah diminta oleh Aryan.
Aryan memesan ruang VVIP yang ada dirumah sakit . Kebetulan masih ada ruang yang kosong.
" Tolong ... untuk berjaga cukup dua orang saja . Ini demi ketenangan pasien ," ucap salah satu perawat .
" Memangnya kami tidak boleh masuk semua sus ... kami janji deh nggak akan buat keributan. Lagian ini kan ruang VVIP jadi nggak ada pasien lain kan ?"
" Iya benar tetapi pasien butuh ketenangan. Nanti kalau kebanyakan orang _"
" Semalam ini saja loh sus . Ini kan sudah malam mau pulang juga nggak enak . Boleh kan sus ?" bujuk Fitri dengan memelas .
" Baiklah... tapi ingat , jangat berisik dan mengganggu ketenangan pasien !"
" Beres deh sus ... terimakasih."
" Kami tinggal dulu . Kalau ada sesuatu bisa tekan tombol di sini."
" Sip lah pokoknya."
" Kalau begitu selamat malam."
__ADS_1
" Malam ."
Akhirnya kedua perawat yang mengantar Gebi tadi keluar dari ruangan itu . Kini tinggallah lima orang yang saat ini berkerumun di ranjang Gebi .