
"Maaf pak,tapi bu Nia melarang saya memberitahu keberadaannya sekarang." Vera menunduk takut.
"Saya bisa pastikan atasan kamu gak akan tau kalau kamu yang kasih informasi sama kami,jadi tolong kasih tau dimana atasan kamu sekarang."
Vera menatap Dimas,jujur dia sangat ragu dengan ucapan Dimas.
"Kamu gak percaya sama saya?" Tanya Dimas yang mengerti dengan tatapan mata Vera.
"Kalau kamu gak kasih tau keberadaan atasan kamu, penyakit atasan saya bisa kumat. Kamu tau atasan saya itu punya gangguan jiwa. Kalau sudah kumat,dia bisa ngamuk-ngamuk bahkan mau sampai membunuh. Jadi lebih baik kamu kasih tau saja dimana atasan kamu sekarang,biar nyawa kamu selamat." Ancam Dimas masih dengan suara yang lembut.
Mendengar ancaman Dimas,nyali Vera seketika menciut.
Vera berjalan ke arah meja kerjanya,dia menuliskan hotel tempat Nia menginap di kota B di secarik kertas.
"Bu Nia baru pergi jam sembilan tadi" sambil memberikan secarik kertas ke Irlan.
Sesaat Irlan melirik tajam ke Vera,lalu meninggalkan Vera setelah membaca tulisan yang Vera tulis.
"Mas,kita kebandara sekarang." Kata Irlan ke Dimas saat berada dalam lift.
Saat sudah sampai di bandara,Dimas langsung membeli tiket first class untuk Irlan.
"Pak,apa perlu saya ikut ke kota B dengan bapak?" Tanya Dimas sambil menyerahkan tiket pada Irlan.
Irlan menatap tajam Dimas.
"Loe mau ngintilin gue honeymoon??" Jawab Irlan sinis.
"Cih honeymoon,diterima juga gak!!! Yang ada mengejar cinta mantan istri,itu baru bener!!" Ingin sekali Dimas meneriakki kalimat itu,tapi nyatanya kalimat itu hanya terpendam dalam hatinya.
"Loe disini aja,cari uang yang banyak buat gue. Nanti gue bawain oleh-oleh gantungan kunci,oke!!" Irlan menepuk pundak Dimas sebelum melangkahkan kakinya ke ruang tunggu.
Bibir Dimas mencebik.
Melihat punggung Irlan sudah tak terlihat,Dimas pun meninggalkan tempat itu menuju parkiran.
🍀🍀🍀🍀🍀
Alex duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangannya di kantor papa nya.
Entah sudah berapa kertas ia remas-remas dan robek-robek,karena beberapa calon investor tidak jadi menanamkan modalnya diperusahaan papanya.
Membuat papa Alex kembali mengamuk pada anaknya.
"Aaarrrggghhh...!!!" Teriak Alex frustasi,ia menjambak rambutnya.
Lalu mengambil hp nya dan menghubungi Clara.
"Loe dimana?" Tanya Alex saat Clara sudah menerima panggilannya.
"Di apartemen darl." Jawab Clara dengan nada dibuat menggoda.
"Gue butuh bantuan loe"
__ADS_1
"Bantuan apa lagi sekarang darl? Kalau menyangkut mantan suami cewek loe,gue ogah. Dia nyeremin darl.."
"Bukan. Tugas seperti biasa. Ngerayu calon investor."
"Oh..oke darl. Kirimin aja profilnya. Tapi seperti biasa juga yah,sebelum gue...."
"Iya-iya gue tau. Kita ketemuan di hotel biasa jam delapan."
Alex langsung mengakhiri sambungan telponnya dengan Clara.
🍀🍀🍀🍀🍀
Irlan kini sudah sampai di hotel tempat Nia menginap di kota B.
Dia langsung menuju resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Nia dan mengaku sebagai suami Nia.
Sang resepsionis tidak langsung percaya dan memberikan kunci itu.
Karena tidak mendapatkan kunci itu dari resepsionis,Irlan terpaksa menelpon pemilik hotel itu yang tak lain adalah papa Igo.
Dan cara itu berhasil,manajer hotel langsung turun menemui Irlan dan memberikan kunci cadangan kamar Nia. Namun sebelumnya Irlan memastikan terlebih dulu kalau yang menginap di kamar itu adalah Nia.
Ceklek. Pintu terbuka.
Mata Irlan langsung melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Nia. Tapi sepertinya Nia sedang tak berada di dalam kamar.
Karena merasa tubuhnya lelah dan lengket,Irlan memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Oh Irlan kamu lupa kalau kamu tidak membawa pakaian dan pakaian dalam ganti..😅😅😅😅
Nia yang baru jalan-jalan menikmati keindahan pantai di kota B,memilih untuk merebahkan dirinya ditempat tidur.
Nia berjalan ke arah koper,dan mengambil baju untuk ia tukar dengan baju yang sedang dia pakai.
Karena merasa tidak ada orang di kamar itu selain dirinya dengan pedenya Nia membuka seluruh baju yang menempel di tubuhnya dan hanya menyisakan pakaian dalam nya saja.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
Sontak Nia menoleh ke arah pintu kamar mandi,dan....
"Aaaaaaaaaaaaaaa" teriak Nia dan Irlan bersamaan. Mereka berdua sama-sama kaget.
Nia kaget karena Irlan berada di kamarnya dan Irlan kaget karena melihat tubuh Nia yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Cepat-cepat Nia memakai baju yang sudah ia ambil dalam koper.
"Dasar laki-laki cabul!!! Mesum!!! Keluar kamu!!!" Teriak Nia sambil memukul Irlan memakai bantal.
Karena menghindar dari serangan Nia yang bertubi-tubi,membuat handuk putih yang melingkar di tubuh Irlan melorot seketika.
Dan...
"Aaaaaakkhh.." Nia berteriak lagi kala tak sengaja melihat senjata Irlan yang masih dalam keadaan off.
__ADS_1
Nia menutup matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Irlan langsung mengambil handuknya yang terjatuh di lantai dan melingkarkan di pinggangnya.
"Udah..sekarang buka mata kamu." Kata Irlan setelah melingkarkan handuk di pinggangnya.
Terlihat jelas rona merah di pipi Nia.
"Kamu kok bisa masuk kesini?!" Protes Nia kesal.
"Ya bisalah,aku tinggal bilang ini kamar istri aku,langsung deh dapet kunci cadangannya." Jawab Irlan enteng. Kini ia sudah duduk di sofa.
"Cih...istri kepala mu!!" Nia mencebik tak suka.
Nia melangkahkan kakinya melewati Irlan menuju pintu. Namun tangan Irlan langsung menahan tangan Nia saat baru melewatinya.
"Mau kemana?"
"Lepas!!!" Nia menghentakkan tangan Irlan hingga tangan itu terlepas.
"Aku mau komplen ke manajer hotel. Bisa-bisanya mereka langsung ngasih kunci cadangan tanpa ngecek dulu kebenarannya." Lanjut Nia.
"Percuma Ni.. hotel ini milik papa nya Igo. Aku tadi nelpon langsung sama pemilik hotel ini. Makanya aku langsung dikasih kunci." Irlan menjelaskan.
Mata Nia melotot mendengar kata-kata Irlan.
"Kalau gitu sekarang kamu keluar,cepetan!!" Usir Nia.
"Masa kamu nyuruh aku keluar begini." Jawab Irlan sambil menunjukkan tubuhnya yang hanya terbalut handuk.
"Pake baju kamu yang kamu pake tadi lah!!!"
"Mana enak lagi lah"
"Itu urusan kamu,bukan urusan aku.cepetan kamu keluar!!"
Melihat Nia yang semakin kesal membuat Irlan semakin gemas dengan Nia.
"Kamu kalau galak-galak terus,nanti aku buka nih handuk.." ancam Irlan. Kini ia sudah berdiri,bersiap membuka handuknya.
Mata Nia membulat seketika mendengar ancaman Irlan.
"Jangan gila kamu!!" Nia memalingkan wajahnya dari Irlan.
"Makanya jangan galak-galak. Aku udah jauh-jauh nyamperin kamu kesini,kok malah di usir sih."
"Emangnya ada aku suruh kamu kesini?? Kan kamu sendiri yang mau kesini.!!"
"Kamu kesini kan karena kamu ngambek sama aku. Itu sama aja kamu nyuruh aku nyusul kamu kesini."
"Cih...siapa juga yang ngambek!!"
"Yah kamu lah,habis ngeliat foto-foto aku sama cewek lain kamu langsung marah-marah sama aku." Irlan berbicara seolah itu bukan masalah yang besar.
__ADS_1
"Itu urusan kamu,aku gak peduli. Aku marah sama diri aku sendiri,karena aku ngerasa jadi perempuan bodoh yang masuk ke dalam perangkap kamu lagi."