
Gebi mengendarai mobilnya dengan santai . Selain jalannya yang tidak begitu baik , dia juga masih lelah .
Naasnya meski sudah berhati-hati tetapi kemalangan masih menghampirinya . Saat ditikungan dari arah berlawanan ada mobil yang melaju kencang dan menyerobot mobil lainya.
" Gebi ... awas !"
Karena panik Gebi membanting setir kearah kiri yang ternyata ada jurang , tetapi tidak terlalu dalam . Tetapi mobil itu ringsek karena menabrak pohon . Selanjutnya dia sudah tidak sadar apa yang terjadi padanya.
Kendaraan lain yang melihat hal itu langsung menghentikan kendaraan mereka . Mereka langsung bergerak untuk membantu Gebi dan juga kawan-kawan.
Bagaimana dengan Brayen dan mobi satu lagi yang dikendarai oleh enam karyawan Gebi yang lain?
Brayen dan teman-teman yang semobil dengannya sudah melaju terlebih dahulu . Sedang satu mobil lain berada di belakangnya. Kebetulan mobil Gobi berangkat terakhir.
Jadi mereka tidak tahu dengan tragedi yang terjadi pada Gebi dan tiga orang yang lain .
Proses evakuasi Gebi dan teman-temannya agak sulit . Mobil yang Gebi kendarai terjepit diantara pepohonan. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi .
Sopir mobil yang menerobos tadi langsung diamankan oleh warga yang melihat.
" Gebi !" teriak Sandra dari belakang Aryan .
Sandra bisa melihat kondisi Gebi yang memprihatinkan. keningnya berdarah . Begitupun dengan kakinya. Ternyata Gebi dan juga teman-temannya baru selesai di evakuasi.
Polisi dan juga ambulance sudah datang . Meraka melakukan tugasnya dengan baik .
" Apa nona kenal dengan korban kecelakaan?" tanya salah satu polisi yang mendengar teriakannya.
" Kenal pak ... mereka saudara dan juga teman saya ," jawab Sandra dengan airmata bercucuran. Bagaimana pun dua hari ini dia sudah dekat dengan Gebi dan karyawannya.
" Kalau begitu nona bisa ikut dengan kami ," ujar polisi itu .
" Baik pak ... saya dan kakak saya akan ikut ."
" Kakak ?" tanya polisi itu dengan bingung .
" Ini kakak saya ," tunjuk Sandra pada Aryan yang masih membatu ditempat.
Tak lama kemudian Aryan langsung pingsan . Membuat Sandra dan polisi itu kaget . Begitupun dengan orang-orang yang masih berkerumun.
" Loh kok malah pingsan ?" tanya sang polisi linglung .
" Jangan bicara doang dong pak . Bantu kakak saya naik mobil bapak . Biar sekalian ikut ke rumah sakit ," ucap Sandra dengan panik .
Dengan dibantu orang-orang, Aryan dimasukkan kedalam mobil polisi tadi . Kemudian mengikuti ambulance yang sudah melaju terlebih dahulu . Mereka sampai melupakan sang sopir yang melihat kepergian mereka dengan bingung .
" Lah ... kok aku malah ditinggal?"
__ADS_1
" Memangnya mas kenal sama mereka ?'
" Saya supir dari orang yang pingsan tadi ."
" Oh ... lebih baik mas ikuti saja mereka ."
" Gimana caranya?" tanya sang sopir mendadak linglung.
" Ya pakai mobil dong mas . Katanya tadi sopir . Memangnya mau ikutin dengan jalan kaki . Yang ada kaki tepar nggak nyampe-nyampe ."
" Iya .. ya kok bodoh banget aku . Tapi bagaimana lewatnya. La wong mobil nggak bisa lewat ."
" Ya nanti to mas . Kalau udah nggak keburu , nanti langsung saja cari di rumah sakit terdekat . Kalau tidak ya ... dirumah sakit pusat . Jika dilihat dari kondisi korban yang terakhir di evakuasi si kondisinya mengkhawatirkan."
" Waduh ... terimakasih mas ."
" Sama-sama."
Akhirnya sopir tadi kembali ke mobilnya. Sedangkan orang yang tadi diajak bicara hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa .
Gebi di bawa kerumah sakit terdekat. Begitupun dengan teman-temannya. Tetapi karena kurangnya alat medis membuat Gebi dibawah ke rumah sakit pusat di kota malang .
Ketiga karyawan Gebi mempunyai luka yang tidak serius . Jadi mereka tidak dipindahkan ke rumah sakit pusat .
Aryan yang sudah sadar ikut serta mengiringi Gebi bersama Sandra . Sebab mereka lah yang akan mewakili keluarga.
Aryan dan juga Sandra berada di depan ruang ICU . Mereka menunggu Gebi yang masih tahap pemeriksaan.
Keduanya duduk di kursi yang tersedia disana .
" Bagaimana ini kak ?" tanya Sandra dengan penuh kekhawatiran.
" Apanya ?"
" Apakah kita harus menghubungi orangtuanya?"
" Memangnya kamu tahu nomer mereka ?"
Sandra menggelengkan kepalanya. Karena memang tidak pernah dekat dengan keluarga Gebi .
" Kalau kamu punya nomer karyawan yang lain kamu hubungi . Kasihan mereka tidak ada yang mendampingi."
" Oke !"
Untung Sandra memiliki nomer salah satu karyawan yang tadi satu mobil dengannya. Dia segera menghubungi nomer itu .
" ...."
__ADS_1
" Wa alaikum salam warahmatulloh."
" ..."
" Bisa kamu datang ke rumah sakit terdekat dari ngliyep?"
" ...."
" Entah ... aku juga tidak tahu namanya ."
" ..."
" Mobil yang dikendarai Gebi mengalami kecelakaan."
" ..."
" Saat ini saya ada di rumah sakit pusat . Karena kurangnya alat medis buat Gebi ."
" ..."
" Tidak ... hanya Gebi yang ada disini . Kondisinya terparah dari yang lain ."
" ..."
" Oke ... assalamualaikum."
Sandra mematikan ponselnya. Kemudian menghampiri Aryan yang sedang mengintip para dokter di ruang ICU .
" Kakak ngapain?"
" Kamu sudah menghubungi mereka?"
Bukanya menjawab pertanyaan Sandra . Aryan malah memberikan pertanyaan lain .
" Sudah ."
Mereka menghentikan pembicaraan saat dokter yang yang memeriksa keadaan Gebi keluar dari ICU . Mereka menghampirinya untuk mengetahui kondisi Gebi .
" Bagaimana kondisi teman saya Dok?"
" Untuk kepalanya masih harus menunggu hasil CT scan . Sedangkan untuk kedua kakinya harus segera di operasi. Untuk itu kami membutuhkan tanda tangan dari walinya. Apakah anda bisa menghubungi keluarganya?"
" Akan saya usahakan Dok... Tolong berikan perawatan terbaik untuk teman saya ," ucap Aryan .
" Kami akan berusaha sebaik mungkin tuan . Bisakah anda mengurus administrasinya?"
" Tentu Dok."
__ADS_1