
Irlan memantapkan hati untuk membatalkan perceraiannya dengan Nia,bukan karena takut kehilangan warisan atau karena sudah meniduri Nia. Tapi sejak tadi malam saat dia melihat Nia bergandeng tangan dengan Alex,ada gemuruh hebat di dalam hatinya. Ia cemburu tapi sayang dia belum menyadarinya. Hatinya sudah mulai mencintai Nia,tapi sayang logikanya selalu berkata cintanya hanya untuk Melda.
Dia melihat ke arah pintu kamar mandi.
"Apa dia di dalam? Kok gak ada suaranya dari tadi."
Irlan menurunkan kakinya,mengambil boxernya dari lantai kemudian melangkah ke arah kamar mandi.
Tok tok tok. Mengetuk pintu berharap ada jawaban dari dalam.
Irlan membuka pintu kamar mandi karena tidak kunjung ada jawaban.
Kosong. Nia tidak ada disitu.
Irlan mengernyitkan keningnya.
"Mungkin dikamarnya.."
Dia keluar dari kamar menuju kamar Nia.
Irlan melihat kamar itu pun kosong,dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar Nia,mengetuknya dahulu dan membukanya karena tak ada jawaban.
Irlan juga tak menemukan Nia disana,dia hanya melihat kemejanya yang sudah teronggok dilantai.
Hatinya mulai gelisah.
"Kemana dia?"
Irlan keluar dari kamar,mencari Nia disekeliling rumah,tapi tidak dia temukan.
Pikirannya mulai kacau. Dia berlari ke kamarnya,mengambil hp nya dan melakukan panggilan ke no Nia.
Tidak bisa dihubungi. Sepertinya Nia sudah memblokirnya.
"Aaaaaaaaaaakkh!!!!!" Irlan berteriak frustasi,ia menjambak rambutnya. Tak puas dengan menjambak rambutnya dia memukul cermin di hadapannya,membuat tangannya berdarah.
Kenapa hatinya sesakit ini,tidak sesakit saat Melda meninggalkannya dulu.
Apa karena dia sudah menidurinya makanya perasaannya jadi aneh begini. Begitu lah pikirnya.
Lagi dan lagi hati dan logika tak berjalan sama.
Irlan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dia harus segera mencari Nia,bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia akan membatalkan perceraiannya dengan Nia.
Kini Irlan sudah siap,dia keluar dari rumah dan menguncinya,membuka pagar sebelum mengeluarkan mobil dari garasi. Mobil sudah dia keluarkan dari garasi,ia menutup lagi pagar itu dan menggemboknya.
Dia melajukan mobilnya mencari Nia,tujuannya cuma satu rumah mertuanya.
Sampai lah Irlan didepan rumah Nia,masih ada rasa takut untuk menginjakkan kaki dirumah mertuanya tersebut. Tapi mau tidak mau Irlan harus memberanikan diri.
Dia mengklakson rumah itu agar satpam rumah Nia membuka pagar.
Begitu pagar dibuka,dan Irlan ingin melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah,pak satpam langsung menghadang.
"Maaf pak Irlan,bapak dilarang masuk sama Pak Niko."
"Kenapa? Saya kan menantu dirumah ini." Jawaban Irlan seperti orang tidak punya dosa.
"Saya tidak tau pak,saya hanya menjalankan perintah. Silahkan bapak keluar." Pak satpam mengusir Irlan secara halus.
Irlan mencengkram setir mobilnya.
"Ok saya pergi,tapi sebelumnya saya mau ketemu istri saya,Nia ada di dalam kan? Kalau ada suruh dia kesini biar kami bicara disini saja."
Pak satpam pun menelpon ke dalam rumah melalui telpon yang ada di posnya.
__ADS_1
Setelah menelpon,pak satpam kembali menemui Irlan yang berdiri disamping mobilnya tepat didepan gerbang rumah.
"Maaf pak,non Nia gak ada dirumah. Kata Surti dari semalam non Nia nginap dirumah di jln xxx." Pak satpam menyebutkan alamat rumah yang Nia dan Irlan tempati.
"Dia belum pulang.." Irlan berkata dalam hati.
"Oh..ok makasih pak. Saya pamit dulu."
Irlan pun melajukan mobilnya berlalu dari komplex perumahan mertuanya.
Dia menepikan mobilnya,berpikir sejenak kira-kira kemana tujuan Nia yang lain selain rumah orangtuanya..
"Ah..pasti rumah temannya" Dia menyalakan kembali mobilnya,tapi langsung mematikan lagi mesin mobil itu.
"Sial..gue mana tau dimana rumah temannya!!!"
"Sial sial sial sial!!!" Berkali-kali Irlan memukul setir mobilnya. Mengumpat dirinya sendiri karena tidak pernah peduli dengan hal terkecil sekalipun dari Nia.
Kalau sudah begini dia yang pusing harus kemana mencari Nia.
Tak tau harus kemana lagi,dia pun melajukan mobilnya ke kafe miliknya.
Drt drt drt..
Getaran hp Nia diatas nakas yang berulang-ulang kali sanggup membangunkan Nia dari tidurnya.
Tangannya meraba-raba nakas disebelah ranjangnya. Matanya terbuka,melihat siapa yang sudah menghubunginya.
"Tia.." lirihnya.
"Emm" Nia menjawab dengan suara khas orang bangun tidur.
"Loe beneran lagi di hotel? Kok bisa? Ngpain loe disana?" Tanya Tia bertubi-tubi.
"Open BO.." jawab Nia singkat.
"Tau akh..udah cepetan kesini dulu bawain baju sama makanan. Nanti gue ceritain,males gue nyeritainnya di telpon.."
"Ok..ok..ok.."
Nia mengakhiri panggilan tersebut,kembali memejamkan matanya,malas bergerak. Tubuhnya masih sangat lelah karena keganasan Irlan.
Satu jam kemudian...
Drt drt drt
Bunyi getar dari hp Nia,panggilan dari Tia.
"Gue udah di lobi nih,turun donk loe.." kata Tia setelah Nia mengangkat telponnya.
"Udah naik aja sendiri,gue dikamar ooo." Nia menyebutkan nomer kamarnya.
"Hemh dasar males!!!" Kesal Tia langsung mengakhiri sambungannya.
Tak lama kemudian pintu kamar Nia terketuk.
"Itu pasti Tia.." batin Nia.
Dengan langkah yang masih tertatih-tatih Nia berjalan ke arah pintu.
Ceklek. Pintu terbuka.
Memang benar Tia yang datang.
"Loe sendiri..?" kata Nia sambil melangkahkan kakinya ke arah sofa.
"Ya iyalah.." Tia menjawab sambil menutup pintu kamar itu.
__ADS_1
Tia berjalan ke arah ranjang,duduk ditepi ranjang yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Nia.
"Ica mana?" Tanya Nia lagi.
"Gak tau gue,gue telponin gak diangkat-angkat."
Tia memberikan dua papper bag ke Nia,yang satu berisi makanan dan yang satu berisi pakaian dan pakaian dalam yang Nia minta.
"Maaciiih Tia tayang.." Nia membuat nada suara seperti anak kecil.
"Ish jijik gue.." Tia mecebik melihat Nia yang sok imut itu.
"Sekarang loe cerita sama gue kenapa loe bisa disini,terus mama Dena tau loe di sini.?"
"Nanyanya satu-satu donk..kan gue udah bilang tadi gue open BO." Jawab Nia sambil tangannya mengeluarkan makanan yang dibawa Tia.
"Serius bego!!" Tia menoyor kepala Nia.
"Nanti dulu akh ceritanya,gue laper,mau makan dulu."
Mulut Nia mulai mengunyah.
Drt drt drt hp Nia berbunyi lagi.
Nia mengambil hp nya melihat siapa yang menelponnya.
"Ica.." kata Nia sambil memberikan hp nya ke Tia supaya Tia mengangkat panggilan Ica.
"Halo Nia loe beneran di hotel,gak lagi ngprank kan loe.." Cerocos Ica.
"Beneran,kesini loe cepetan. Gue udah sejam disini nungguin loe.." bohong Tia.
"Kok loe yang ngangkat telponnya? Nia mana?"
"Nih ada lagi makan.." Tia meloudspeaker kan telponnya.
"Wooi cepetan loe kesini,dari pagi gue kirim chat baru sekarang loe nongol!! Kini Nia yang menjawab.
"Sabar,gue lagi di jalan nih.."
"Lo langsung naik aja,kamar gue no ooo."
"Ok."
Panggilan pun berakhir.
Lima belas menit kemudian pintu kamar terketuk.
"Itu pasti Ica..bukain gih.."
Tia pun beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
Benar saja Ica yang datang.
"Mana Nia?" Tanya Ica setelah pintu terbuka. Tia menjawab hanya dengan melirik ke arah Mia berada.
Ica menerobos ke dalam,melihat Nia yang duduk manis di sofa.
"Loe ngapain sih pake di hotel segala?"
"Open BO"
"Njiir...loe open BO sendiri,kok gak ngajak-ngajak sih..!!" Ica menjawab dengan lebih absurd.
"Loe lagi satu sama aja errornya!! Emang cuma gue yang paling waras diantara loe berdua!!" Tia menoyor kepala Ica.
Mereka berdua pun duduk ditepi ranjang berhadapan dengan Nia.
__ADS_1
"Sekarang loe cerita kenapa loe bisa disini." Tia bertanya dengan raut wajah serius.