
"Hei...sekalipun kamu hamil,kan yang melakukan itu suami mu. Yah..walaupun sekarang sudah jadi mantan. Jadi anak mu bukan lah anak haram,hanya saja dia hadir disaat yang tidak tepat. Pasti orangtua bisa mengerti." Andrew mendekati Nia,memegang kedua bahu Nia.
"Lagian kamu tinggal di negara yang tidak peduli dengan urusan orang lain. Yah..walaupun ada satu dua orang yang mungkin akan menggunjingnya. Tapi percayalah,seiiring berjalannya waktu mereka akan diam sendiri." Andrew mencoba memberi semangat pada Nia.
"Aku tidak peduli pada omongan orang,aku hanya memikirkan orangtua ku. Aku yakin pasti mereka akan kecewa pada ku."
"Hei..tidak mungkin. Percayalah pasti mereka akan senang. Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu okey. Sekarang lebih baik kamu beristirahat,agar pikiran mu lebih tenang. Besok pagi aku akan datang dan kita akan mengeceknya bersama. Sekarang aku pamit dulu."
Setelah berpamitan,Andrew langsung keluar dari unit apartemen Nia.
Keesokan paginya,sesuai dengan kata-kata Andrew. Dia pun sudah berada di apartemen Nia.
"Bagaimana apa sudah kamu celupkan alat itu ke dalam urine mu?" Pertanyaan Andrew seperti seorang suami pada istrinya.
"Sudah."
"Baiklah,kita tunggu lima belas menit." Andrew pun duduk di sofa ruang tamu.
Nia mengikuti Andrew dan duduk di sofa samping Andrew.
Jantungnya berdegup kencang,tangannya berkeringat. Dia sangat gugup sekali.
Mulutnya terus komat-kamit,berdoa agar hasilnya Negative.
Melihat Nia yang begitu gugup,Andrew menghampiri Nia. Ia memeluk Nia,menyalurkan rasa nyaman untuk Nia.
Dan tak dapat Nia pungkiri dia begitu nyaman dan tenang saat Andrew memeluknya.
"Sudah lima belas menit,coba kamu periksa." Andrew melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
Nia beranjak dari sofa tempat duduknya. Ia berjalan ke arah kamar mandi yang ada dalam kamarnya.
Dengan mata yang setengah tertutup Nia mengintip hasil yang keluar dari alat tersebut.
Dan...
"Aaaaaaaaaaaaa" teriak Nia.sekencang-kencangnya.
Mendengar Nia yang berteriak begitu kencang,membuat Andrew panik dan langsung berlari ke dalam kamar Nia.
"Ada apa?" Tanya Andrew didepan pintu kamar mandi yang terbuka.
Dan sudah melihat Nia berjongkok depan wastafel.
Nia tak menjawab pertanyaan Andrew. Dia hanya memberikan alat itu pada Andrew.
__ADS_1
Andrew mengambil alat itu dan melihat hasilnya.
"Garis dua. POSITIVE" Lirih Andrew.
Andrew melihat ke arah Nia yang masih berjongkok,jelas didengar telinga Andrew suara isak tangis pilu Nia.
Andrew menghampiri Nia,dia ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Nia. Memeluk Nia untuk menenangkannya.
Melihat Nia yang seperti ini,membuat hati Andrew ikut merasa sedih.
"Sudah jangan sedih..ada aku disini. Walaupun aku bukan ayahnya,kalau kamu izinkan aku siap menggantikan laki-laki itu menjadi ayahnya." Bukannya Andrew ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi semalaman Andrew memikirkan hal ini. Dia tulus mencintai Nia.
Mendengar kata-kata Andrew,Nia melepaskan dirinya dalam pelukan Andrew. Dia menatap lekat dua mata biru itu. Tak ada kebohongan,yang ada hanya ketulusan. Ingin sekali Nia menganggukan kepala dan menerima Andrew menggantikan Irlan sebagai ayah dari anak yang dikandungnya.
Tapi Nia langsung menepis perasaannya,dia tidak ingin melibatkan Andrew dalam masalahnya. Andrew adalah pria baik. Dia tidak ingin memanfaatkan ketulusan Andrew padanya hanya untuk mempertanggung jawabkan hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
Nia menjauhkan tubuhnya dari Andrew. Dia berdiri dan memutar tubuhnya. Ketika dia melangkahkan kaki nya untuk keluar dari dalam kamar mandi,pandangannya langsung menggelap dan dia langsung ambruk seketika.
Untung Andrew langsung sigap menangkap tubuh Nia,sehingga tubuh itu tidak sempat jatuh ke lantai.
Andrew mengangkat tubuh Nia,dan membaringkannya di atas ranjang.
Andrew langsung menelpon temannya yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Mungkin karena panik,ia lupa kalau dirinya juga adalah calon dokter. Memeriksa tanda vital pasien seharusnya dia juga bisa melakukannya sendiri.
"Bagaimana John?" Tanya Andrew.
"Siapa wanita ini.Apa dia kekasih mu?" John malah balik bertanya.
Andrew mengangguk. Ia terpaksa berbohong,padahal dirinya dan Nia belum memiliki hubungan apa-apa.
"Apa wanita ini hamil anak mu?" Selidik John.
"Ayo lah John,kamu ini dokter atau intel sih? Jawab saja pertanyaan ku bagaimana kondisinya." Andrew mulai jengah dengan pertanyaan John.
"Dia baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan. Sekarang jawab pertanyaan ku,apa wanita ini hamil anak mu?"
"Iya. Tapi aku mohon jangan bocorkan ini pada siapa pun dulu.okey."
"Kenapa? Apa kamu menyuruh wanita ini menggugurkan kandungannya?"
"Hei.!!! Apa wajah ku terlihat seperti laki-laki tak bertanggung jawab hah!! Kami hanya perlu waktu,mungkin dia masih terkejut dengan kehamilannya."
"Apa kau sengaja menghamili wanita ini,makanya dia terkejut mengetahui dirinya hamil?" John memicingkan matanya.
"Aish kamu terlalu banyak bertanya. Cepat bereskan alat-alat mu dan pulang."
__ADS_1
"Hahahaha...aku rasa tebakan ku benar,secinta itu kah diri mu sampai-sampai kamu melubangi ****** mu,agar wanita ini hamil.." John mengejek Andrew.
Andrew semakin jengah,ia langsung menarik tangan John setelah John membereskan peralatanya.
Ia membawa John keluar dari unit apartemen Nia.
"Hei..tunggu,,apa kamu tidak ingin minta resep vitamin?" Tanya John saat Andrew ingin menutup pintunya.
"Tidak perlu. Sekarang pergilah,dan ingat jangan beritahu siapa pun. Awas kamu kalau sampai ada yang tahu." Andrew mengancam John.
Dan..
Braaak. Andrew menutup pintu apartemen Nia dengan sangat kencang.
"Hahahaha.." John tertawa geli melihat tingkah temannya.
Nia mengerjapkan matanya.
"Kamu sudah bangun." Kata Andrew yang sedari tadi duduk di kursi samping ranjang Nia.
"Aku kenapa?" Tanya Nia.
"Kamu tadi pingsan. Apa ada yang sakit,bilang sama ku." Andrew sangat khawatir dengan kondisi Nia.
"Hanya kepala ku saja yang terasa pusing. Mungkin karena aku belum makan dari pagi." Jawab Nia sambil berusaha menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
Melihat Nia yang sedikit kesulitan,Andrew pun membantu Nia menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
Kemudian melihat jam dinding yang ada di kamar Nia. Ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesan kan." Tanya Andrew.
Nia menggeleng.
"Gak usah,aku bisa masak sendiri." Nia ingin beranjak dari ranjang,dengan cepat tangan Andrew menahan pundak Nia agar tidak turun dari ranjang.
"Jangan keras kepala,kondisi mu masih lemah,apa kamu tidak kasihan pada dia?" Andrew menunjuk perut rata Nia.
"Biar aku pergi beli. Kamu istirahat saja dulu. Okey." Andrew melangkahkan kaki nya menuju pintu kamar.
"Ingat,jangan memasak. Dan jangan turun dari ranjang sebelum aku pulang." Andrew memperlihatkan sisi posesive nya pada Nia. Seolah-olah dia adalah suami yang tidak ingin istri dan anaknya kenapa-kenapa.
Nia menganggukkan kepala.
Andrew pun keluar dari unit apartemen Nia.
__ADS_1