Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 86


__ADS_3

Alex menarik tangan Nia untuk masuk ke mobil. Setelah Nia masuk ke dalam mobil. Alex berlari kecil memutar dan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Alex menghentikan mobilnya saat mobil sudah sampai di taman.


Kini mereka tengah duduk di kursi panjang yang ada disudut taman.


"Kamu kenapa,kok nangis dipinggir jalan gitu?"


Nia tidak menjawab,dia masih menatap kosong ke arah depan.


"Apa ini gara-gara mantan suami kamu lagi?"


Nia langsung menoleh ke arah Alex.


"Kok kakak tau?"


"Cih..ya tau lah. Kerena cuma dia yang selalu bikin kamu nangis kayak gini. Dan sialnya,aku yang selalu ngasih pelukan aku untuk nampung air mata sama ingus kamu." Sindir Alex.


"Maaf." Lirih Nia sangat pelan tapi masih bisa Alex dengar.


Alex membawa Nia ke dalam pelukannya.


"Udah,cowok kayak gitu gak pantes buat kamu tangisin. Apalagi buat milikin hati kamu." Alex menepuk-nepuk punggung Nia.


"Coba mulai sekarang kamu buka hati kamu buat aku. Empat tahun aku udah sabar nunggu kamu,sekarang aku mau kamu fokus untuk melihat aku."


Nia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Alex.


"Maaf kak,tapi..."


"Plis Nia,jangan buat aku menunggu terlalu lama. Tolong buka hati mu buat aku, aku kasih kamu kesempatan seminggu untuk mikirin kata-kata aku.Oke.." kata Alex yang tidak ingin lama-lama lagi menunggu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Sampai di kafenya Irlan langsung mencari Dimas.


"Dimas mana?" Tanya Irlan pada salah satu waiters.


"Pak Dimas,di atas pak,di ruangannya."


Irlan langsung berlari ke lantai atas.


Braak..


Irlan membuka kasar pintu ruangan Dimas.


Dimas menoleh ke arah pintu.


"Buka cctv waktu perempuan yang bernama Clara itu dateng." Perintah Irlan.


"Apa ada masalah?" Tanya Dimas penasaran.


Irlan memberikan hp Nia ke Dimas.


Mata Dimas membelalak. Ternyata perempuan itu mempunyai niat buruk pada Irlan.


"Pantes aja kemaren dia maksa banget mau nunggu bapak di ruangan bapak."


"Tolong rekam cctv nya. Gue harus kasih liat Nia kejadian yang sebenarnya."

__ADS_1


Dimas pun mengangguk paham dan langsung mengerjakan yang Irlan perintahkan.


Sedangkan Irlan keluar dari ruangan Dimas menuju ruangannya.


Sampai diruangannya,Irlan langsung menjatuhkan tubuhnya kasar di atas sofa.


Dia menjambak rambutnya,mengingat kemarahan Nia padanya saat melihat foto-foto itu.


Seketika hatinya sakit,bayangan-bayangan Nia akan meninggalkannya seperti dulu kembali muncul di otaknya.


Nafas Irlan langsung sesak dan pandangannya menggelap. Irlan ambruk tak sadarkan diri.


Dimas yang sudah selesai menyalin rekaman cctv ke flashdisk,langsung menghadap ke ruangan Irlan.


Alangkah terkejutnya Dimas saat melihat Irlan yang sudah tak sadarkan diri di atas lantai dekat sofa.


"Pak Irlan..pak Irlan.." teriak Dimas sambil menggoyang-goyangkan tubuh Irlan.


Karena Irlan tak merespon,Dimas cepat-cepat menggotong tubuh Irlan dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit,Irlan langsung ditangani oleh dokter untuk pemeriksaan. Setelah di periksa Irlan langsung dipindah ke ruang rawat.


Dimas pun terpaksa menghubungi papi Tian yang di Singapore untuk memberi tahu keadaan Irlan.


🍀🍀🍀🍀🍀


Saat ini papi Tian dan papa Niko sedang berada di depan kamar rawat mami Nita. Saat sedang mengobrol,hp papi Tian berdering. Papi Tian dan papa Niko menjeda obrolan mereka. Papi Tian mengeluarkan hp nya dari dalam saku.


"Dimas?" Papi Tian mengernyitkan keningnya,bertanya-tanya dalam hati untuk apa asisten Irlan menelponnya. Apa ada masalah di kafe Irlan.


"Nik,aku terima panggilan ini dulu." Papi Tian permisi kepada papa Niko,lalu sedikit menjauh dari mantan besannya itu.


"Halo."


"Halo pak,maaf mengganggu. Pak Irlan.." Dimas tak melanjutkan kata-katanya,merasa ragu apa iya harus memberitahu keadaan Irlan atau tidak.


"Irlan kenapa?" Tanya papi Niko penasaran.


"Anu..itu.."


"Apa? Kenapa? Jangan bikin penasaran,cepat bilang ada apa dengan Irlan.!" Marah papi Tian karena Dimas yang bertele-tele.


"Pak Irlan masuk rumah sakit pak." Dengan satu tarikan nafas Dimas memberitahu keadaan Irlan.


"Apa??? Kok bisa?!!"


"Sepertinya gangguan kecemasannya kambuh lagi pak." Dimas menjelaskan.


"Astaga..ya sudah,saya akan hubungi Irna dulu,biar dia lihat keadaan adiknya."


Panggilan pun berakhir.


Papa Niko yang melihat kecemasan papi Tian dari jauh,mendekati papi Tian.


"Tian.." papa Niko menepuk pundak papi Tian.


Papi Tian pun menoleh.


"Ada apa?" Tanya papa Niko.

__ADS_1


"Akh gak ada apa-apa." Papi Tian mencoba menutupi keadaan Irlan.


"Kamu yakin? Kalau memang ada masalah bilang saja manatau aku bisa bantu." Tawar papa Niko.


"Apa ada masalah dengan perusahaan mu?" Lanjut papa Niko.


Papi Tian menggeleng.


"Ini soal Irlan."


Papa Niko mengernyitkan keningnya. Apa Irlan membuat masalah lagi. Begitulah pemikiran papa Niko.


"Irlan kenapa?"


Papi Tian menarik nafas panjang sebelum memberitahu keadaan Irlan.


"Irlan masuk rumah sakit,sepertinya penyakit psikologisnya kambuh lagi." Akhirnya papi Tian memberitahu keadaan Irlan.


"Penyakit psikologis? Memangnya Irlan sakit apa?" Tanya papa Niko penasaran.


Papi Tian pun menceritakan keadaan Irlan yang sebenarnya. Tentang Irlan yang punya gangguan kecemasan semenjak berpisah dengan Nia.


Papa Niko kaget dengan pengakuan papi Tian. Dia merasa punya andil atas apa yang terjadi pada Irlan.


"Tolong jangan kasih tau Nita tentang kondisi Irlan. Aku takut dia kepikiran dan membuat kondisinya drop lagi."


Papa Niko mengangguk.


Tanpa mereka sadari mama Dena yang sedari tadi berdiri di belakang mereka,mendengar semua pembicaraan para lelaki itu.


"Kenapa kamu gak pernah bilang sama kami kalau Irlan sakit Tian?" Pertanyaan mama Dena berhasil membuat mereka kaget. Karena mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran mama Dena.


"Den..."


"Jadi selama ini Irlan sakit dan kamu gak kasih tau kami??! Walaupun aku kecewa sama dia karena udah menyakiti Nia. Tapi Irlan itu tetap keponakan kami. Aku yang urus dia dari umur Irlan lima tahun.." Sela mama Dena tak terima Tian dan Nita merahasiakan penyakit Irlan.


"Seandainya kamu kasih tau sama kami,pasti kami akan mempertemukan Irlan dengan Nia,karena sebenarnya Nia....." mama Dena tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Dia memeluk suaminya dan menangis di pelukan suaminya.


"Nia kenapa?" Kini papi Tian penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Nia.


"Nia hamil anak Irlan.." dengan berat hati papa Niko memberitahukan pada papi Tian.


"Tapi,anak Nia meninggal tiga hari setelah di lahirkan. Karena Nia pendarahan saat usia kandungannya enam bulan." Lanjut papa Niko.


Bagai tersambar petir di siang bolong. Papi Tian mematung mendengar penuturan papa Niko.


"Ternyata sikap egois kita, membuat anak-anak kita jauh lebih menderita.." sesal papi Tian.


Papa Niko mengangguk.


"Seandainya waktu itu aku memberikan Irlan kesempatan,mungkin anak Nia masih hidup sampai sekarang." Kini papa Niko yang menyesal. Karena dia tidak memberi Irlan kesempatan untuk membuktikan penyesalannya. Bahkan papa Niko mengancam akan membeberkan perselingkuhan Irlan jika Irlan menghentikan gugatannya.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya mama Dena.


"Sebaiknya mulai sekarang,biarkan saja mereka menentukan pilihan mereka. Kita tidak usah ikut campur lagi." Kata papa Niko.


"Kasihan mereka berdua pah.." mama Dena menangis lagi dalam pelukan papa Niko.

__ADS_1


__ADS_2