Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 87


__ADS_3

Setelah mendapat telpon dari papi nya,Irna yang baru saja sampai rumah,langsung bergegas kembali ke rumah sakit.


Tapi kali ini bukan untuk bekerja dan memakai jas putih kebesaran seorang dokter,melainkan menunggui adiknya yang menjadi pasien di rumah sakit tempat ia bekerja sebagai dokter kandungan.


Setelah sampai rumah sakit,Irna langsung menuju kamar rawat adiknya.


Ceklek. Pintu terbuka.


Terlihat lah Irlan yang sedang tidur di pembaringan,sedangkan Dimas sedang tertidur di sofa yang ada di dalam kamar.


"Mas..Dimas.." Irna menepuk pundak Dimas.


Dimas mengerjapkan matanya saat merasakan tepukan di pundaknya.


"Ah..bu Irna.." Dimas langsung mendudukkan tubuhnya saat melihat Irna yang sudah ada dihadapannya.


"Gak usah panggil bu..panggil kak Irna aja."


Dimas pun mengangguk.


"Kenapa Irlan bisa seperti ini lagi?" Tanya Irna yang penasaran penyebab penyakit adiknya itu kambuh.


"Ah itu...." Dimas pun menceritakan pada Irna tentang kejadian tadi sore.


Irna mengangguk paham.


"Jadi ini karena Nia yang marah sama Irlan. Dan pemicu penyakit Irlan kambuh karena Irlan takut Nia menghilang lagi dari hidup Irlan." Irna menyimpulkan sendiri setelah mendapat cerita dari Dimas.


"Sekarang kamu pulang,biar saya saja yang menjaga Irlan disini."


Dimas pun mengangguk.


Setelah Dimas keluar dari kamar Irlan. Irna duduk di kursi samping pembaringan Irlan.


Mengusap kepala adiknya.


"Kamu sudah membayar kesalahan kamu yang dulu dengan penyakit ini." Lirih Irna.


Sewaktu Irna tau kalau adiknya itu ingin menceraikan Nia karena perempuan lain,Irna marah besar,sebagai perempuan Irna sangat tau apa yang sedang dirasakan Nia saat itu.


Bahkan ia tak henti-hentinya merutuki kebodohan adiknya itu kalau adiknya itu datang ke rumahnya untuk membantunya mencari tau keberadaan Nia. Bahkan mendukung papa Niko yang menyembunyikan Nia,walaupun sebenarnya ia juga tak tahu dimana Nia di sembunyikan.


Tapi setelah melihat keadaan adiknya yang lemah tak berdaya karena takut kehilangan Nia,ia sekarang yakin kalau adiknya itu sangat mencintai Nia. Irlan sudah banyak belajar dari kesalahannya dulu.


Irna berharap kebahagiaan akan datang untuk adiknya itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Kamu udah bangun?" Tanya Irna saat melihat Irlan mengerjapkan matanya.


"Dimana ini?" Tanya Irlan yang masih setengah sadar.


"Di rumah sakit. Apa yang kamu rasain? Pusing?" Tanya Irna lagi.


Irlan mengangguk lemah.


"Berbaring aja dulu,biar kakak panggilin dokter."


Irna memencet tombol yang langsung terhubung ke pos perawat jaga.


Ceklek. Pintu terbuka.

__ADS_1


Perawat dan dokter masuk dan memeriksa keadaan Irlan.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya Irna kepada dokter yang memeriksa adiknya.


"Keadaannya sudah stabil,tapi tetap saja jangan membuat pasien berpikir terlalu keras."


Irna mengangguk paham.


Dokter dan perawat keluar dari kamar rawat Irlan.


"Mau kemana?" Tanya Irna saat melihat Irlan seperti ingin turun dari ranjang.


"Toilet."


Irna membantu adiknya turun dari ranjang.


"Kakak pulang aja,kasihan Faresha gak ada yang jaga." Kata Irlan setelah keluar dari toilet.


"Ada abang mu dan pengasuhnya yang jaga. Tapi kamu disini gak ada yang jaga."


Kini Irna sudah duduk di kursi samping ranjang,setelah membantu Irlan naik ke atas ranjang.


"Kapan Irlan bisa keluar dari sini?"


"Mungkin besok. Kenapa...?"


"Ada yang harus aku selesaikan"


"Masalah foto-foto itu?" Todong Irna.


"Kakak tau?"


"Dimas udah cerita. Kamu pulihin dulu mental kamu,takutnya kalau kamu datengin Nia dengan kondisi kayak gini yang ada kamu drop lagi."


Irlan menggeleng.


"Justru kalau aku gak segera ngejelasin ke Nia,nanti Nia menghilang lagi. Dan itu yang membuat aku makin drop. Aku gak bisa kehilangan Nia yang kedua kali kak."


Irna menghela nafasnya. Sifat adiknya yang keras kepala dalam hal mencintau ini memang tak bisa diragukan lagi. Jika sudah mencintai,akan ia pertahankan bagaimanapun caranya.


"Terserah kalau itu mau kamu. Tapi inget kamu harus bisa kontrol emosi kamu,buang semua pikiran-pikiran negative kamu,biar penyakit kamu gak kumat."


Irlan mengangguk.


🍀🍀🍀🍀🍀


Keesokan pagi nya saat dokter sudah mengizinkan Irlan untuk pulang,Irna segera mengurus administrasi.


Setelah mengurus administrasi,Irna kembali ke kamar rawat Irlan.


Ceklek. Pintu terbuka.


"Kamu mau kemana?" Tanya Irna heran karena melihat Irlan yang sudah memakai pakaian rapih.


"Mau temuin Nia,Irlan harus beresin semua masalah hari ini juga." Jawab Irlan.


"Tapi kondisi mu..."


"Kak,Irlan gak mau Nia berlama-lama salah paham sama Irlan. Irlan takut Nia menghilang lagi dari hidup Irlan." Kata Irlan lagi memotong kata-kata Irna.


"Oke terserah kamu aja,tapi kamu harus selalu bawa obat kamu."

__ADS_1


Irlan mengangguk.


Setelah perdebatan kecil dengan kakak nya berakhir,Irlan segera keluar dari kamar. Sebelumnya ia sudah meminta Dimas untuk menjemputnya di rumah sakit.


Saat Irlan sudah sampai di lobi, Dimas menelpon Irlan,mengatakan dirinya sudah ada di parkiran.


Irlan segera berlari menuju parkiran. Dan naik ke dalam mobil yang Dimas kemudikan.


"Loe bawa rekaman cctv nya kan?" Tanya Irlan saat sudah duduk di kursi penumpang.


"Sudah pak. Sekarang tujuan kita kemana?"


Irlan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tidak mungkin jam segini Nia masih ada dirumah.


"Kita ke Dirgantara Group" jawab Irlan.


Dimas pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena jalanan yang sudah lenggang,hanya dalam waktu dua puluh menit mereka sudah sampai di Dirgantara Group.


Dengan setengah berlari Irlan dan Dimas masuk ke dalam perusahaan mantan mertuanya itu.


Mereka menaiki lift. Setelah lift sampai di lantai ruangan Nia. Irlan langsung menanyakan keberadaan Nia pada sekretarisnya.


"Nia ada di dalam?" Tanya Irlan tak sabar.


"Bapak sudah bikin janji sebelumnya dengan bu Nia?" Vera bertanya balik.


Irlan menggeleng.


"Ini mendesak,saya butuh ketemu Nia sekarang."


"Maaf pak,bu Nia sedang tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Kalau belum membuat janji sebelumnya."


"Bilang saja presdir Pratama Group ingin bertemu." Dengan sombongnya Irlan menyebutkan identitas nya.


"Tapi pak..."


"Akh lama kamu.." Dengan tak sabaran,Irlan menuju ruangan Nia dan membuka ruangan itu kasar.


Ternyata Nia tidak ada diruangannya.


Irlan mencari disetiap sudut ruangan,bahkan kamar rahasia pun tidak luput dari pencariannya. Tapi Irlan tetap tak menemukan Nia.


Irlan menghampiri Vera. Ia mencengkram bahu Vera dengan keras.


"Dimana Nia?? Cepat katakan!!!" Teriak Irlan.


Bukannya menjawab,Vera malah mengaduh kesakitan karena cengkraman tangan Irlan di pundaknya yang sangat kuat.


"Pak Irlan lepas..dia kesakitan pak..!" Dimas mencoba menarik tubuh Irlan agar tangan Irlan terlepas dari pundak Vera.


Setelah terlepas,Dimas menjauhkan Irlan dari Vera dan berdiri di tengah-tengah Irlan dan Vera.


"Sekarang bilang Nia dimana!!!" Teriak Irlan masih emosi.


"Maaf pak,tapi..."


Dimas langsung menarik Vera agar menjauhi Irlan.


"Tolong kerjasamanya,kasih tau keberadaan atasan kamu." Dimas bertanya dengan nada lembut namun tegas.


"Maaf pak,tapi bu Nia melarang saya memberitahu keberadaannya sekarang." Vera menunduk takut.

__ADS_1


__ADS_2