
"Nia mana? Istri saya mana?" Tanya Irlan sambil matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah mencari keberadaan Nia.
Tak melihat ada tanda-tanda Nia di lantai satu,Irlan pun berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
Tapi lagi-lagi langkahnya harus terhalang oleh satpam dan supir keluarga papa Niko.
"Minggir kalian,gue gak mau berbuat kasar sama kalian tapi kalau kalian menghalangi gue terus,gue bakalan main kasar sama kalian!!!" Irlan sudah emosi.
"Pak Irlan jangan begini pak,jangan merugikan diri bapak sendiri." Kata si satpam.
"Gue gak peduli,gue cuma mau ketemu sama Nia istri gue!!!" Irlan kembali menaiki anak tangga.
Namun langkahnya terhenti bukan karena hadangan dari satpam dan supir,melainkan dari suara bariton yang sangat ia kenal.
"Berhenti kamu!!!" Teriak papa Niko dari ruang keluarga yang melihat Irlan sedang menaiki anak tangga.
"Ngapain kamu kesini. Bukannya sudah jelas,kamu dilarang memasuki area rumah ini!!! Apa setelah hidup bersama dengan jalang mu itu membuat otak mu jadi gak berfungsi hah????!!!" Teriak papa Niko lagi.
Papa Niko yang baru keluar dari rumah untuk menemui pengacara yang mengurus perceraian anaknya itu mendapat telepon dari mama Dena kalau Irlan datang menerobos masuk langsung memutar arah menuju rumahnya kembali.
Sedangkan mama Dena,dia memilih tetap didalam kamar sambil melihat dari cctv. Bukan karena takut Irlan akan berbuat macam-macam. Tapi mama Dena masih tidak sanggup melihat wajah laki-laki yang telah membuat anaknya patah hati sampai harus pergi ke Inggris.
"Saya cuma mau ketemu sama Nia. Saya mau bawa dia pulang,dia masih istri sah saya. Dan papa gak ada hak melarang saya membawa istri saya pulang." Irlan ikut berteriak seolah menantang papa Niko.
"Hahahahaha..." papa Niko tertawa menertawakan Irlan.
"Otak kamu bener-bener udah tersumbat!! Kamu lupa hari ini sidang pertama perceraian kamu sama Nia? Jadi kamu gak usah sok-sok bilang kalau kamu masih punya hak atas Nia. Kamu gak inget diruangan itu kamu sudah memulangkan Nia sama saya?" Papa Niko menunjuk ruang keluarga yang menjadi saksi bisu ketika Irlan mengatakan mencintai wanita lain dan akan menceraikan Nia demi wanita itu.
__ADS_1
Irlan mengeraskan rahangnya. Ia sadar betul akan hari itu. Dan sekarang ia menyesal.
Irlan menuruni lima anak tangga yang sudah ia naiki. Ia berjalan ke arah papa Niko dan.....
Ia berlutut dihadapan papa Niko.
"Maafin Irlan pah..maafiin Irlan. Irlan menyesal,tolong kasih Irlan kesempatan sekali lagi,Irlan janji akan membahagiakan dan menjaga Nia seperti yang sudah papa lakukan untuk Nia. Irlan akan mengganti kesedihan Nia dengan berjuta-juta kebahagiaan. Tolong pah,izinkan Irlan memperbaiki kesalahan Irlan.." Irlan memohon sambil menangis.
Hati papa Niko berdenyut melihat laki-laki yang ada dihadapannya ini sedang berlutut dan minta pengampunan.
Disatu sisi papa Niko ingin memberikan kesempatan pada Irlan,biar bagaimanapun Irlan hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah. Namun akan menjadi manusia luar biasa jika dia mengakui dan menyesali perbuatannya.
Tapi disis lain,hatinya masih belum menerima Irlan menduakan anaknya. Walaupun sebenarnya menurut papa Niko dari sudut pandang laki-laki,Irlan adalah laki-laki yang sangat setia terhadap wanita yang dia cintai. Mungkin pada saat Irlan menikah dengan Nia,Irlan belum mencintai Nia dan masih sangat mencintai Melda. Makanya dia ingin bercerai dari Nia dan mengejar kembali cintanya.
Namun sekarang Irlan saat Nia sudah melepaskan Irlan ke pangkuan Melda,Irlan baru menyadari bahwa dirinya sudah menyimpan rasa cinta untuk Nia.
"Bangun lah,percuma kamu berlutut seperti ini semua sudah terlambat. Karena Nia sendiri yang ingi melanjutkan perceraian ini. Jangan membuang-buang waktu mu hanya untuk menyesali perbuatan mu." Papa Niko yang tidak tega melihat anak dari kakak angkatnya itupun memilih pergi dari tempat Irlan berlutut menuju kamarnya.
Irlan masih mematung di tempatnya,mencerna setiap kata-kata papa Niko.
Dirinya pun hanya menurut saja ketika satpam dan supir itu membawa Irlan keluar dari dalam rumah.
Tapi begitu sampai halaman rumah dirinya tersadar kembali.
Dia menghempaskan tangan satpam dan supir itu dari tubuhnya.
"Lepas!!!"
__ADS_1
Dia berteriak dari halaman rumah papa Niko.
"Nia...aku akan nunggu disini sampai kamu keluar..Aku akan buktiin ke kamu kalau aku bener-bener nyesel dan akan memperbaiki semuanya. Tolong kasih aku kesempatan Nia..." Dia pun berlutut di halaman itu.
Papa Niko dan Mama Dena yang mendengar Irlan berteriak di halaman rumahnya,mengintip dari jendela balkon.
"Pah...sebaiknya kita bilang aja kalau Nia udah gak disini lagi..Kasihan Irlan kalau harus nunggu Nia begitu." Sisi lembut mama Dena tak tega melihat Irlan yang berlutut menunggu anaknya keluar.
"Biar aja gitu mah..apa yang Irlan rasain sekarang belum seberapa dari yang Nia rasain. Dan jangan pernah memberitahu Irlan ataupun Tian dan Nita tentang keberadaan Nia sekarang. Kalau memang Irlan mencintai Nia,pasti dia akan berusaha mengejar cinta Nia." Ada sebuah kepedihan di hati papa Niko melihat Irlan yang sedang berlutut.
Biar bagaimanapun Irlan adalah keponkakannya walaupun hanya keponakan angkat.
Waktu Irlan lahir,papa Niko yang siap siaga membantu mami Nita menjaga Irlan dirumah kakek Dirga. Karena papi Tian sibuk bekerja merintis usahanya.
Tapi sekarang,melihat laki-laki itu begitu rapuh menyesali perbuatannya,ingin sekali papa Niko memeluk dan memberi kekuatan pada anak itu. Tapi niat itu papa Niko urungkan karena wanita yang disakiti oleh laki-laki itu adalah putri semata wayangnya.
Jadi papa Niko membiarkan Irlan berlutut disitu. Dan menelpon ke pos satpam untuk membiarkan Irlan disitu. Anggap saja dia tidak ada.
Papa Niko juga menelpon asisten pribadinya dikantor untuk mengirimkam sepuluh bodyguard untuk menjaga istri dan rumahnya,agar Irlan tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Agar papa Niko tenang meninggalkan istrinya dirumah selama dia ke kantor.
Setelah para bodyguard datang,papa Niko pun berangkat ke kantor. Sebenarnya papa Niko sudah malas ke kantor apalagi ini sudah jam satu siang,tapi karena hari ini ada meeting jam tiga jadi mau tidak mau papa Niko harus berangkat ke kantor.
Papa Niko pun berpamitan pada istrinya.
Saat keluar dari rumah menuju halaman dimana si supir sudah memarkirkan mobilnya,papa Niko melirik sekilas ke arah Irlan yang sudah berlutut kurang lebih satu jam disana.
__ADS_1
Rasa iba kembali datang,tapi langsung ditangkis oleh papa Niko. Ia langsung menaiki mobilnya.