
"Kalau gitu tinggalkan Nia."
Mata Irlan membelalak mendengarnya.
Irlan langsung berlutut di kaki papa Niko.
"Om Irlan mohon om jangan suruh Irlan meninggalkan Nia,Irlan gak sanggup om. Irlan bersedia melakukan apapun yang om mau,asalkan jangan menyuruh Irlan meninggalkan Nia. Irlan mohon om.."
Hati papa Niko merasa tak tega melihat Irlan yang seperti ini,apalagi papa Niko sudah tau tentang penyakit Irlan,papa Niko takut kalau penyakit Irlan tiba-tiba kambuh.
"Kamu tau,saya membesarkan Nia dengan penuh cinta dan kasih sayang,apapun saya lakukan untuk putri semata wayang saya. Bahkan saat saya menikahkan Nia dengan mu,saya tidak meminta kamu mengganti berapa biaya yang sudah saya keluarkan untuk Nia,saya juga tidak menagih pada mu semua kasih sayang yang sudah saya curahkan untuk Nia. Hanya satu pinta saya sama kamu waktu itu, BAHAGIAKAN NIA SEPERTI SAYA MEMBAHAGIAKAN NIA." papa Niko menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa yang malah kamu berikan pada Nia? Kamu membuatnya menangis,membuat harga dirinya sebagai seorang istri terinjak-injak dengan kamu mengatakan mencintai wanita lain,bahkan kamu memperkosa istri kamu sendiri disaat kamu sudah mengurus perceraian dengan Nia. Kamu pikir hati saya tidak hancur dengan perbuatan mu pada Nia. Saya adalah orang pertama yang hancur-sehancur-hancurnya saat melihat Nia menangis. Kamu tau kenapa saya dan mami kamu tetap melanjutkan perjodohan kamu dengan Nia saat itu,meski papa saya sudah meninggal?"
Irlan menggeleng.
"Bukan karena sekedar amanah,tapi karena saya percaya kamu bisa melanjutkan tugas saya sebagai laki-laki yang tulus mencintainya,laki-laki yang siap menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Tapi hanya dengan kalimat,kamu lebih mencintai wanita lain di banding anak saya,semua kepercayaan saya runtuh seketika."
Tak terasa air mata papa Niko mengalir saat mengatakan hal itu.
"Om..Irlan mohon kasih Irlan kesempatan sekali lagi om. Kali ini Irlan dengan sungguh-sungguh berjanji akan melanjutkan tugas om sebagai laki-laki yang tulus mencintai Nia,menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Irlan mohon om.." Irlan ikut menangis mengatakan hal itu.
Papa Niko menghela nafasnya.
Papa Niko sudah cukup merasakan ketulusan dari Irlan,dan dari semua informasi yang papa Niko dapatkan dari orang suruhannya tentang penderitaan yang Irlan alami.
"Apa jaminannya kalau kamu kembali menyakiti Nia.??!!"
"Nyawa saya jaminannya om kalau saya kembali melakukan hal bodoh seperti dulu lagi"
Papa Niko menarik nafasnya dalam-dalam.
"Serius kamu memberikan nyawamu sebagai jaminan?" Tanya papa Niko menyelidik.
Irlan mengangguk yakin.
"Kalau begitu tulis hitam di atas putih untuk melegalkan kata-kata mu. Jadi saat kamu kembali menyakiti Nia,saya akan langsung menjadikanmu makanan segar untuk para buaya di penangkaran.
Irlan menelan slivanya. Dilihat dari sorot mata papa Niko,sepertinya tidak main-main.
Tapi demi mendapat restu dari papa Niko,Irlan pun menyetujui permintaan papa Niko. Ia berani mempertaruhkan nyawanya karena memang ia sangat mencintai Nia.
"Bagus!! Sekarang kamu pulang,jangan pernah bertemu Nia sebelum kamu membuat surat pernyataan resmi seperti yang saya minta.
"Tapi om,apa saya bisa bertemu Nia untuk berpamitan? Sebentar saja om.." Irlan mengatupkan kedua tangannya memohon.
__ADS_1
Papa Niko menggeleng.
"Gak!! Sekarang kamu pulang,asisten saya akan mengantarkan kamu sampai lobi. Kalau kamu mau berpamitan,bisa lewat telpon atau sms."
Irlan pasrah. Dia pun keluar dari ruangan papa Niko dengan di dampingi asisten papa Niko.
Asisten papa Niko mengantarkan Irlan sampai lobi. Irlan pun melangkahkan kakinya menuju parkiran,kemudian masuk kedalam mobilnya.
Sebelum ia menyalakan mesin mobil,Irlan melakukan panggilan video ke nomor Nia.
Irlan tersenyum saat Nia menerima panggilan videonya.
"Kakak gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Nia khawatir.
"Aku gak pa-pa sayang,nih buktinya aku masih utuh,wajah ku juga masih tampan."
"Narsis."
Irlan terkekeh.
"Aku ke kantor dulu yah,sori gak bisa langsung pamit. Papa Niko ngelarang aku buat ketemu kamu lagi.." Irlan menggantung kata-katanya.
Karena kata-kata Irlan yang menggantung,membuat Nia menjadi salah paham.
"Jadi kita gak akan ketemu lagi? Kakak bilang akan berjuang buat hubungan kita,kenapa kakak diem aja saat papa misahin kita??!" Kesal Nia.
"Ternyata cinta kakak ke aku terlalu dangkal.!!" Lanjut Nia lagi.
Irlan tak tahan menahan tawanya. Ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Emangnya ada aku bilang kalau kita gak bisa ketemu lagi selamanya? Gak ada kan?"
Nia berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Tadi aku bilang,kalau papa Niko ngelarang aku buat ketemu kamu lagi sekarang karena ini jam kantor. Jadi papa Niko ngelarang aku buat ngeganggu kamu." Bohong Irlan,ia tak menceritakan kalau papa Niko memintanya mempersiapkan surat pernyataan resmi yang mempertaruhkan nyawanya.
"Maksud kakak,jadi papa bolehin kita balikan?" Tanya Nia antusias.
Irlan mengangguk. Melihat senyum bahagia terbit di pipi Nia,Irlan pun ikut tersenyum.
"Kakak lagi gak bohongin aku kan?" Nia memicingkan matanya curiga.
"Gak sayang,aku gak bohong kalau gak percaya tanya aja papa Niko." Kata Irlan meyakinkan.
"Sayang...." panggil Irlan saat mereka sama-sama hening.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu bisa nyusul keparkiran gak?"
"Mau ngapain??"
"Cium" Irlan memonyongkan bibirnya.
"Ish...kirain apa!! Gak ada!! Nanti kalau papa Niko tau,bisa makin panjang urusannya." Tolak Nia.
"Huuuuffftt..padahal aku belum dapet semangat pagi hari ini." Kata Irlan pasrah.
"Gak usah kayak anak kecil deh!! Mending kakak sekarang balik ke kantor,nanti papi Tian tau kalau kakak suka telat ngantor,kakak bisa-bisa di boikot lagi dari perusahaan."
Irlan menghela nafasnya.
"Iya deh iya. Ya udah yah,aku jalan dulu. Daaah....Muaaah"
Panggilan video pun berakhir,Irlan menyalakan mesin mobil kemudian melajukan mobilnya ke kantor Pratama Group.
🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah sampai di kantornya. Irlan berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangannya.
Irlan berjalan menuju ruangannya. Sebelum masuk kedalam ruangannya,Irlan bertanya pada sang sekretarisnya tentang jadwalnya hari ini. Kemudian Irlan masuk ke dalam ruangannya.
Ia duduk di kursi kebesarannya. Mengambil hp dari dalam sakunya.
Ia melakukan panggilan ke nomor Haris,pengacara yang mengurus perceraiannya dulu dengan Nia.
"Halo Ris.."
"Iya,kenapa?"
"Gue butuh bantuan loe!!"
"Masalah apalagi yang loe buat sekarang?"
"Gue cuma minta loe buatin gue surat pernyataan doang."
"Surat pernyataan??"
Irlan pun menceritakan pada Haris detail kenapa ia ingin membuat surat pernyataan.
"Kampret loe yah!! Dulu aja waktu cere loe nyusahin gue,sekarang mau balikan gue juga yang loe susahin!!"
__ADS_1
"Tenang aja,gue bayar mahal deh.."