Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 39


__ADS_3

"Mi..Pi.." panggil Irlan ketika melihat orangtuanya diruang makan.


Mami Nita dan Papi Tian menengok ke arah suara yang memanggil mereka.


Papi Tian mengeraskan rahangnya,emosinya meradang melihat kedatangan anaknya.


"Ngapain kamu kesini hah?!" Sinis papi Tian.


"Ada yang ingin Irlan bicarain."


"Kalau yang mau kamu bicarain tentang perceraian kamu dengan Nia,mending kamu keluar dari rumah papi.." suara papi Tian mulai meninggi.


Irlan menghela nafasnya.


"Mih.." kini Irlan menatap maminya.


Sedangkan maminya membuang pandangannya dari anaknya,beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.


Mami Nita juga belum bisa menerima keputusan anaknya yang ingin menceraikan wanita yang sudah dipilihkannya.


"Mih..dengerin Irlan dulu.." Irlan menarik tangan maminya.


Mami Nita langsung menghempaskan tangannya dari Irlan.


"Jangan kamu panggil saya mami kalau kamu belum bisa merubah keputusan kamu." Sinis mami Nita sambil melangkahkan kaki nya menjauh dari anaknya.


"Keluar kamu dari sini..Saya gak punya anak pecundang kayak kamu." Papi Tian mengusir anaknya.


"Kalian semua gak adil!!! Aku yang anak mami-papi tapi aku yang kalian hujat,bahkan papi memboikot aku dari perusahaan.!!" Irlan meluapkan kekesalannya yang sedari tadi ia tahan.


"Apa kamu bilang,gak adil??? Kamu mikir gak apa kesalahan mu hah??!!" Bentak papi Tian,suaranya tak kalah keras dari anaknya.


"Buka mata kamu Irlan,perempuan itu udah manfaatin kamu. Papi tau perempuan itu selalu menghambur-hamburkan uang kamu,apa dari situ kamu belum sadar juga?" Papi Tian mengambil nafas dalam-dalam,mengisi oksigen ke dalam paru-parunya.


"Apa yang udah dia kasih kamu sampai kamu nurut gini sama dia,hah?? Kepuasan ranjang,iya???" Lanjut papi Tian lagi.


"Kamu punya istri tapi kamu lebih memilih meniduri wanita yang gak jelas,bisa jadi sudah banyak laki-laki di luar sana yang menikmati tubuh ja*ang mu itu..cih.!!" Papi Tian menatap bengis sang anak.


"Jangan sembarang ngomong pih,Melda gak gitu..Dia perempuan baik-baik!!" Sekali lagi Irlan membela Melda didepan papinya.


Yang mana membuat papi Tian semakin naik pitam.


"Dari segi mananya dia perempuan baik-baik?? Apa mendekati suami orang bisa dibilang perempuan baik-baik? Apa meminta uang kepada suami orang itu bisa di kategorikan perempuan baik-baik,apa perempuan yang hobinya keluyuran malam dan pulang dalam keadaan mabuk itu disebut perempuan baik-baik?" Papi Tian tersenyum sinis karena anaknya tak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Papi tidak akan pernah mengizinkan mu menginjak perusahaan sebelum kamu menyadari siapa perempuan yang selama ini kamu bela-bela itu. Papi yakin sebentar lagi perempuan itu akan menunjukkan belangnya karena kamu tidak bisa lagi memberikan uang padanya." Papi Tian menepuk pundak sang anak sebelum berlalu.


Irlan hanya mematung di tempatnya.


"Apa benar yang dikatakan papinya,apa Melda wanita seperti itu..??!" Hatinya berkecamuk.


Disatu sisi dia menyetujui perkataan papinya,tapi disisi lain ia tetap membela Melda.


Dia pun keluar dari rumah mewah orangtuanya. Dia melajukan mobilnya ke kafe miliknya.


Kepalanya pusing,memikirkan Melda yang menghilang di pagi hari saja sudah membuat moodnya berantakan ditambah lagi harus mendapat kemarahan orangtuanya. Pupus sudah harapannya untuk kembali ke perusahaan.


Drt drt drt. Bunyi telpon di hp Nia.


Nia yang sedang asik membaca novel langsung menutup novelnya dan mengambil hp yang ada di atas nakas.


"Kak Alex" lirih Nia menyebut nama si penelpon.


"Ya Halo.." sapa Nia saat mengangkat telponnya.


"Malam ini ada acara gak?" Tanya Alex diseberang sana.


"Gak ada,kenapa kak?"


"Mau ikut gak ke acara reunian temen-temen SMP kita?"


"Campur lah,ada angkatan kamu juga. Kamu inget gak temen seangkatan aku yang namanya Aldi,dia baru balik dari Belanda jadi dia ngajak reunian la kecil-kecilan."


"Gak akh kak,canggung nanti akunya.." tolak Nia halus.


"Ikut donk,aku udah terlanjur bilang sama anak-anak kalau mau ngajak kamu. Ada si Almira juga kok adiknya Aldi. Si Yogi sama si Ricad juga ada." Alex merayu Nia dengan menyebut nama teman-teman Nia waktu SMP.


Memang waktu SMP Nia tidak memiliki teman dekat perempuan,dia lebih suka bermain dengan anak laki-laki.


"Yah..yah..ikut yah.." pinta Alex sekali lagi.


"Ya udah deh,jam berapa?" Pertahanan Nia pun goyah.


"Nanti aku jemput jam tujuh.."


"Ok.."


"Dandan yang cantik yah,awas kalau sampe buluk. Aku udah bilang ke anak-anak kamu udah glowing sekarang."

__ADS_1


"Bodo amat!!"


"Ya udah sampe ketemu nanti honey.." pamit Alex sebelum mengakhiri panggilannya.


"Eh kak tunggu..." Nia berteriak sebelum Alex menutup telponnya.


"Apalagi,adinda masih kangen denger suara kakanda?" Seloroh Alex.


"Ih jijik...Aku cuma mau bilang,nanti jemput aku di alamat xxxx aja,jangan jemput ke rumah ku." Nia memberikan alamat orangtuanya.


"Rumah siapa tuh?" Tanya Alex penasaran.


"Rumah orangtua aku lah kak.."


"Oooh..oke oke.."


Panggilan pun berakhir.


Nia melihat jam yang ada di hp nya,masih pukul sebelas siang. Masih banyak waktu yang tersisa.


Dia melihat-lihat isi lemarinya,dia menepuk jidatnya hanya ada tiga dress disana.


"Separah ini gue ternyata..nyesel gue gak jadi cewek feminim,stok dress gue aja cuma tiga lembar. Terpaksa nih gue harus ke butik dulu nyari dress.."


Nia menyambar pakaian yang akan dia pakai untuk pergi ke butik langganan mamanya.


Dia pergi sendiri ke butik itu dengan membawa mini coopernya.


Sebenarnya Nia paling malas menyetir,tapi karena supir keluarganya sedang mengantar mama Dena ke kantor untuk mengantar makan siang papa Niko,jadi terpaksa dia menyetir sendiri.


Nia pun sampai di butik langganan mama Dena,dia langsung membeli tiga dress. Hitung-hitung stok kalau ada acara.


Dress pun sudah di tangan Nia. Saat Nia hendak keluar dari butik dia melihat seseorang yang dia kenal dengan seorang pria paruh baya. Siapa lagi kalau bukan Melda.


"Gue gak salah liat kan? Itu si Melda kok sama om-om? Pake acara rangkul-rangkulan lagi.." Nia bertanya-tanya dalam hati.


Matanya terus mengamati gerak-gerik Melda dan om-om itu.


"Apa jangan-jangan si Melda jadi simpenan om-om?" Hatinya kembali bertanya-tanya.


"Gak bisa dibiarin nih,kak Irlan harus tau nih kelakuan si Melda." Nia langsung mengambil hp nya dan memfoto Melda dan si om-om dalam berbagai pose.


Setelah mendapat cukup bukti dia pun pergi meninggalkan butik itu.

__ADS_1


Mobil Nia kini sudah terparkir di garasi rumahnya. Dia langsung naik ke kamarnya,mengambil hp dari dalam tasnya dan mengirim beberapa gambar ke no Irlan.


Gambar sudah terkirim,tapi sepertinya Irlan belum membacanya. Lama Nia menunggu sampai pesan itu menjadi centang biru,membuat Nia jadi mengantuk dan tertidur.


__ADS_2