
" Dimana yang harus kami cat terlebih dulu ,mbak ?" tanya pekerja bangunan yang di panggil oleh Gebi .
" Yang bagian sini dulu saja pak , agar bisa segera dipakai ." Gebi menunjuk bagian yang perlu dicat terlebih dahulu .
" Baik mbak ."
Sudah seminggu Gebi tinggal di ruko . Dia juga sudah berkenalan dengan tetangga kanan kiri . Bahkan atas saran dari tetangganya dia akan membuka usaha toko kue.
Tetangga Gebi sangat ramah . Mereka menerima kehadiran Gebi dengan baik .
Ruko yang yang Gebi tempati berlantai dua . Di lantai bawah ada satu ruang cukup luas untuk membuka toko kue. Satu ruang untuk kamar , dapur dan kamar mandi .
Di lantai dua ada tiga kamar. Masing-masing kamar tersedia kamar mandinya.
Semalam dia menghubungiku si pemilik kontrakan untuk mencari tukang . Dinding rumah warnanya agak kusam , jadi dia ingin mengecatnya. ternyata pagi-pagi mereka sudah datang .
" Jadi ingat sama teman-teman deh . Gimana ya kabar mereka sekarang ?" gumam Gebi.
Tidak ingin larut dalam kesedihan Gebi memutuskan untuk membuat makanan buat para pekerja. Sebelum itu dia pergi berbelanja terlebih dahulu .
Menggunakan mobil kesayangannya dia melesat pergi ke pasar. Dia berbelanja di pasar tradisional dekat dengan rumahnya .
Gebi memarkirkan mobilnya di sisi jalan . Setelah itu dia berjalan kedalam pasar . Suasana pasar sudah tidak terlalu ramai . Karena dia memang datang sudah agak siang .
" Daging ayamnya satu kilo berapa Bu ?"
" Tiga puluh enam ribu neng ," jawab penjual dengan ramah .
" Tidak boleh kurang Bu ?"
" Ini sudah saya kurangi neng , tadi pagi malah tiga puluh delapan ribu . Tinggal ini saja , jadi saya kurangi harganya."
" Tinggal berapa kilo Bu , biar saya beli semua ?"
" Satu kilo setengah neng ."
" Baik Bu ... saya ambil semua saja ."
" Ini neng semuanya lima puluh empat ribu ," kata pembeli itu sambil memberikan bungkusan daging ayam itu kepada Gebi .
" Terimakasih."
" Sama-sama neng , ibu yang terimakasih."
" Mari Bu !"
" Silahkan!"
Setelah membeli ayam , Gebi pergi ke penjual sayur . Dia membeli wortel , kentang , tomat , cabai , buncis , dan bumbu dapur .
Kemudian Gebi beralih ke penjual buah . Dia membeli buah semangka , melon , mangga dan juga pisang .
__ADS_1
" Apalagi ya yang kurang ?" gumam Gebi sambi berjalan ke parkiran.
" Lagi belanja nih mbak ," sapa seseorang menghentikan langkah Gebi .
" Oh ... mbak Dina . Iya nih mbak , mbak sendiri ngapain?"
" Ya belanja lah ...emangnya ke pasar mau ngapain?"
" Kirain mau liburan gitu ."
" Mbak bisa saja ."
" Ya kan mbak bilang tidak suka pergi ke pasar ."
" Iya juga sih mbak . Sebenarnya sih terpaksa . Ibu mertua saya yang ingin kesini . Jadi ya saya anterin ," jawab Dina sambil berbisik .
" Oalah ... sekarang mana beliau ?"
" Didalam ."
" Mbak nggak ikut ."
" Ya ikutlah . Ni baru mau nyusul . Bisa repot nanti kalau nggak nyusul . Ya udah deh ... aku masuk dulu ya ."
" Sip ... aku juga sudah mau pulang kok .'
" oke !"
Gebi membeli beraneka ragam kue untuk ia sajikan pada para pekerja. Setelah itu dia pun pulang .
Setibanya dirumah , Gebi langsung membawa barang belanjaannya kedapur . Dia menata kue yang tadi ia beli ke atas piring . Dia juga membelah semangka menjadi beberapa piring dan menyajikannya kedalam piring .
Setelah selesai dia membawa semua itu ke tempat tukang yang sibuk dengan pekerjaannya.
" Ini ada kue pak ... silahkan dimakan ."
" Waduh ... terimakasih mbak . "
" Jangan sungkan pak . Saya tinggal dulu kedalam."
" Silahkan.."
Setelah itu Gebi kembali masuk ke dapur . Dia akan mengeksekusi semua yang sudah ia beli .
Gebi memasak makanan sederhana buat para pekerja . Sop ayam , perkedel kentang , sambal kecap , tempe goreng dan tidak lupa kerupuknya. Menurut Gebi makan tanpa kerupuk dan sambal kurang nikmat .
Ternyata Gebi masak cukup lama . Tau-tau sudah dhuhur. Biasanya di jam segini para tukang akan beristirahat. Jadi dia menghampiri para pekerja untuk menyuruh mereka makan .
" Makan dulu pak !"
" Alhamdulillah... perut aku dari tadi sudah keroncongan," celetuk salah satu pekerja.
__ADS_1
" Perut kamu keroncongan kalau perut aku ma sudah konser dari tadi ."
" Sudah-sudah malu tahu sama mbaknya . Bukankah kuenya tadi sudah kita habiskan."
" Eh ... mbak cantik pasti sudah faham . Betul kan mbak ? " tanya pekerja yang paling muda .
" Faham apa ya mas ?" tanya Gebi lugu .
" Kan emang waktunya makan , jadi perut kita emang pengen diisi gitu ," jawab pemuda itu malu malu meong.
" Oh ... gitu , silahkan langsung makan saja . Biar perutnya tidak demo lagi ."
" Kok mbak tahu kalau perut kita mau demo !"
" Itu ma sudah biasa ... kita aja yg para emak-emak kalau kurang belanja , pasti demo sama bapak-bapak."
" Mbaknya ini sudah nikah to ... Oalah bro kasihan dirimu , mau pedekate ternyata mbaknya sudah punya suami ," goda pekerja yang paling tua .
" Ndak masalah pakde ... siapa tahu mbaknya ini punya adik yang cantiknya sama , betul kan mbak !"
" Aduh mas sayang ... adik aku memang hampir mirip sama aku , sayangnya dia cowok gimana dong mas ."
" Ini ma pertanda harus mundur alon-alon kalau gitu ."
" Bagusan maju mundur cantik mas ... kayak lagunya si cantik cetar membahana ."
" Jangan bilang begitu , nanti kalau om barak malah gimana kita , ayo !"
" Kok malah jadi ngobrol sih ... katanya tadi mau makan , bisa-bisa demo beneran nih perut !"
" Ha ha ha ha "
" Silahkan menuju ruang makan ... maaf jika masakannya tidak enak ."
" Tidak masalah mbak . Apa mbak nggak ikut makan sekalian?"
" Tidak ... saya ma sudah kenyang . Silahkan... jangan sungkan !"
" Terimakasih."
Saat para pekerja makan , Gebi memeriksa hasil pekerjaan mereka . Dia sangat puas dengan hasilnya.
" Kami sudah selesai mbak ... terimakasih, makanannya enak banget jadi kami menghabiskannya , maaf ya !"
" Ndak masalah kok pak ... Alhamdulillah kalau begitu ."
" Mbak e ndak marah kan ?"
" Tidak lah ... ngapain juga marah , kalau makanannya habis saya bisa masak lagi kok . Jadi nggak usah khawatir."
" Syukurlah... habis makanan mbak enak , jadi kami makan lahap dan saat sadar makanannya sudah habis ," ucap pekerja yang paling muda dengan muka memerah.
__ADS_1
Padahal Gebi memasak dengan porsi yang sudah banyak .