Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Makan Siang Aryan dan Tania


__ADS_3

Aryan membawa Nia ke restoran yang cukup terkenal . Hanya orang-orang yang berdompet tebal yang bisa reservasi di restoran ini.


" Wah ... bukankah ini tempat yang lagi viral kan ?" tanya Tania sambil menatap kedepan .


" Benar ... bagaimana suka tidak ?"


" Suka dong , tetapi bukankah untuk masuk kesini harus pesan terlebih dahulu . Benar tidak ."


" Benar sih ... tapi kamu tidak usah khawatir, kita makan disini tanpa reservasi terlebih dahulu."


" Benarkah?"


" Iya dong ... ayo masuk ," ucap Aryan sambil menggandeng tangan Tania .


" Selamat datang ... apakah anda sudah memesan tempat ?" sapa pelayan dengan ramah .


" Muhammad ar rayyan Mahendra... bilang saja itu pada atasanmu," jawab Aryan singkat .


" Baik ... tunggu sebentar ya !"


Pelayan itu mengambil ponsel yang ada di sakunya . Kemudian melakukan panggilan pada sang majikan .


" Selamat siang pak ..."


" ..."


" Maaf mengganggu waktu bapak . Ada pelanggan yang bernama Muhammad Ar Rayyan Mahendra."


" ... "


" Baik pak ."


" ..."


Pelayan itu menaruh kembali ponselnya yang sudah mati . Kemudian menatap Aryan dan juga Tania dengan ramah .


" Maaf atas tidak kenyamanannya tuan .. nona , silahkan mengikuti saya ."


Pelayan itu mengantar ke tempat yang sudah ditujukan oleh sang atasan . Sedangkan Aryan dan Tania mengikutinya dari belakang .


" Silahkan tuan ... nona ," ucap pelayan dengan sopan . Saat ini mereka sudah tiba di ruang spesial yang ada di restoran ini .


" Terimakasih."


Pelayan itu meninggalkan Aryan dan Nia . Nia sangat senang karena Aryan membawanya kesini .


" Terimakasih sayang ... ini istimewa sekali ." Nia memegang tangan Aryan yang ada di atas meja .


" Untuk orang istimewa harus istimewa dong , honey, " jawab Aryan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


" Honey ?"


" Ya ... mulai saat ini aku akan memanggil honey , apakah kamu suka ?"


" Tentu ... dan aku akan memanggilmu bunny ."


" Boleh juga ... honey ... bunny ... tidak buruk ."


" Memangnya restoran ini punya siapa sih ?"


" Rahasianya dong ... pokoknya buat honey bahagia apapun akan aku lakukan ."


" Thanks my bunny ... terus bagaimana dengan Gebi ?"


" Alhamdulillah... kami sudah berakhir."


" Benarkah?"


" Benar dong ... apa honey ingin hubungan kita berlanjut?"


" Tentu saja mau ...tetapi tunggu setahun dua tahun dulu . Bukankah aku masih baru jadi model ?"


" Lama amat !"


" Mau bagaimana lagi .... bukankah bunny juga baru bekerja."


" Betul juga , baiklah mari kita bersama menggapai impian kita masing-masing."


" Silahkan... makanannya tuan ," ucapan pelayan membuat Aryan tak jadi menjawab ucapan Nia .


" Terimakasih."


" Wah lobster!!! you are the best bunny!" pekik Nia kegirangan.

__ADS_1


Dia Memang menyukai menu satu ini . Dia yang berasal dari keluarga sederhana tidak bisa menikmati menu satu ini . Tetapi Aryan sering membelikan untuknya .


" Senang ?"


" Tentu sayang ... thanks!"


" Ayo dicoba dulu ... enak tidak ."


Aryan menyuapi Nia dengan lobster yang sudah ia kupas . Tanpa malu Nia dengan senang hati menerima suapan itu .


" Its delicious .... yummy !"


Aryan sangat senang melihat kegembiraan kekasihnya. Meskipun dia masih kepikiran dengan keberadaan Gebi .


Nia yang melihat Aryan hanya menatapnya makan membuatnya gugup.


" Kamu juga makan dong honey ... jangan cuma ngeliatin aku doang !" rengek Nia dengan cemberut.


" Kamu cantik !" goda Aryan , membuat wajah Nia merona . Hal itu membuat Aryan senang menggodanya.


" Ih ... disuruh makan malah gombal ."


" Siapa yang gombal kamu beneran cantik kok ."


" Sudah ... dari pada gombal lebih baik nih aku suapi ."


Nia menyuapi Aryan dengan tangannya. Dengan senang hati Aryan terima .


" Honey benar ...ini enak banget 👍!"


Setelah makan mereka juga nonton . Mereka benar-benar menikmati hari mereka .


Disisi lain Gebi kini sudah tiba di wilayah Jawa timur . Dia tidak menyangka bisa sampai ke kota malang.


Gebi memarkirkan mobilnya di bahu jalan . Perutnya sudah meronta-ronta ingin segera diisi .


Gebi membeli makan di warung yang berada di pinggir jalan . Meskipun dia lahir di keluarga kaya , untuk makan dia tidak pernah pilih-pilih. Apalagi setelah kondisinya seperti ini .


" Bade tumbas nopo nduk ?" tanya penjual pada Gebi .


" Nasi pecel saja Bu ... tambah telur baladonya satu ," jawab Gebi .


" Sekejap nggeh ."


Gebi menunggu penjual meracik makanan untuknya . Dia mengambil kerupuk yang ada di meja untuk dimakan .


" Kriuk kriuk ..."


" Monggo nduk ."


" Terimakasih Bu ..."


" Sami- sami ... wangsul sangking kuliah , nduk ?"


" Mboten Bu ... saya baru perjalanan dari Jakarta."


" Waduh kok yo adoh men ... ndaleme pundi ?"


" Ehm .... saya memang asli dari Jakarta Bu ."


" Oh ... ten mriki wonten derek ta ?"


" Derek itu apa ya Bu ?"


" Maaf ... maksud ibu disini ada saudara ?"


" Tidak punya Bu ."


" Lah ... terus mau kemana ?"


" Rencananya sih mau ngontrak disini Bu . Kalau ada sih ."


" Kalau mau sih tidak jauh dari sini ada ruko yang dikontrakkan ."


" Beneran bu ?"


" Bener dong ... kebetulan ruko itu masih punya saudara . Apakah berminat ? kalau berminat akan saya telpon saudara saya biar kesini ."


" Boleh Bu ."


" Kalau begitu mbaknya makan aja dengan tenang sambil menunggu saudara saya ."


" Baik Bu ."

__ADS_1


Gebi pun menyantap makanan dihadapannya dengan lahap . Sedangkan penjual nasi itu menghubungi saudaranya.


" Bagaimana nduk ... enak tidak masakan ibu ?" tanya penjual , maklum suasana sepi . Tidak ada pembeli lain selain Gebi .


" Enak Bu ," jawab Gebi singkat .


" Syukurlah kalau begitu . Sebentar lagi saudara saya kesini ."


" Kenapa saudara ibu mau mengontrakkan rukonya Bu ?"


" Katanya sih buat investasi gitu . Lek ne aku Wid tahu mudeng nduk ."


Gebi tersenyum mendengar ucapan campur-campur ibu penjual . Hal itu disadari oleh wanita paruh baya itu .


" Kok tersenyum ada yang lucu nduk ?"


" Maaf ya Bu ... kata-kata ibu yang lucu ."


" Pasti bahasanya ya ?"


" Ibu tahu saja ."


Mereka berdua berbincang-bincang dengan akrab sampai saudara wanita itu datang .


" Assalamualaikum..."


" Wa alaikum salam... ono endi iku mau ?"


" Neng omae koncoku . Sopo seng arep ngontrak ?"


" Lah Iki ."


" Saya Bu yang mau ngontrak ," ucap Gebi .


" Mau lihat rukonya sekarang ?"


" Boleh ... sebentar . Berapa semuanya Bu ?"


" Sepuluh ribu ."


" Ini Bu .... kembaliannya buat ibu saja ," ucap Gebi yang memberikan selembar uang lima puluh ribu ."


" Terimakasih... "


" Sama-sama Bu ... kalau begitu saya pergi dulu ."


" Silahkan."


Gebi pun pergi bersama saudara penjual nasi pecel . Mereka akan pergi ke ruko yang dikontrakkan.


Ternyata ruko itu terletak di dekat salah satu universitas terkenal di kota malang , yang tak lain universitas Muhammadiyah Malang .


" Bagaimana?"


" Boleh juga Bu ... berapa harganya ?"


" Sebenarnya sih dua puluh juta pertahun . Tapi untukmu lima belas deh ."


" Waduh ... beneran Bu ?"


" Bener dong ."


" Alhamdulillah... terimakasih Bu . Sekarang berapa nomer rekening ibu biar langsung saya transfer?"


" Xxxxxxx."


Gebi mengambil ponselnya dan mulai mentransfer sejumlah lima belas juta ke nomer rekening ibu itu .


" Sudah Bu ."


" Baiklah... mulai saat ini kamu bisa menempatinya . Kuncinya yang tadi . Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi nomer ini *******."


" Baik Bu ... sekali lagi terimakasih."


" Sama-sama."


Ibu itu keluar dari ruko . Tinggal Gebi sendiri disana . Dia mengambil kopernya yang ada di mobil . Kemudian membawanya ke kamar . Tidak lupa dia mengunci pintu depan .


" Alhamdulillah... ternyata masih ada uang untuk memulai usaha ," gumam gebi sambil berbaring di ranjang.


Gebi baru saja menghitung uang yang tersisa setelah membayar uang kontrakan selama satu tahun . Untung selama tiga tahun ini Gebi benar-benar berhemat .


" Bismillahirrahmanirrahim... semoga sua yang hamba lakukan mendapatkan ridho mu ya Alloh 🤲🤲🤲!"

__ADS_1


__ADS_2