
"Gak pah. Jangan pah." Kata Irlan ketakutan sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus apa? Kamu mau pulangin Nia lagi karena kamu punya wanita simpanan baru?"
"Astagaaa. Yah enggak lah pah. Irlan kan udah janji gak akan begitu lagi."
"Jadi apa? To the point aja lah,saya banyak kerjaan.!!"
Irlan menarik nafasnya untuk mengisi oksigen ke dalam paru-parunya.
"Irlan mau minta izin ke papa,kalau bisa mulai hari ini Nia gak usah ke kantor lagi. Soalnya....."
"Apaaa!!!" Teriak papa Niko memotong perkataan Irlan.
"Maksud kamu,kamu ngelarang Nia bekerja lagi? Kamu kan tau Nia satu-satunya ahli waris kerajaan bisnis papa!! Dan kamu kan juga setuju kalau Nia tetap bekerja,kenapa sekarang kamu ngelarang Nia bekerja?? Ngelunjak kamu yah.!!!" Bentak papa Niko.
"Bukan gitu pah,denger dulu penjelasan Irlan." Irlan mengehela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Nia sedang hamil pah. Makanya...." lagi dan lagi papa Niko memotong perkataan Irlan.
"Apaaaa!!! Nia hamil??? Kamu serius??" Tanya papa Niko yang terlihat sangat excited.
Irlan mengangguk.
"Kok kamu gak bilang dari tadi sih??!"
"Lah gimana mau bilang,orang dari tadi mukanya udah kayak megalodon." Gerutu Irlan dalam hati.
"Dari tadi juga Irlan mau ngomong pah,tapi Irlan bingung mau ngomongnya gimana." Bohong Irlan mencari alasan.
"Cih..kamu waktu minta papa ngerestuin kamu cepet banget ngomonngnya,lah ini cuma bilang 'pah..Nia hamil' aja pake bingung segala!!"
Irlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi Nia dimana sekarang?!"
"Ada dirumah pah,makanya Irlan datang kesini minta izin ke papa supaya Nia untuk sementara gak ke kantor paling gak sampe Nia melahirkan. Irlan juga minta izin supaya bik Imah nemenin Nia di apartemen."
Papa Niko sejenak berpikir.
__ADS_1
"Kenapa kalian gak tinggal sama kami aja,atau tinggal di rumah orangtua kamu?"
"Em...itu..."
"Akh...ya sudah nanti kita pikirin gimana baiknya. Kamu sudah kasih tau kabar bahagia ini sama orangtua kamu?"
Irlan menggeleng.
"Belum pah,rencananya habis dari sini Irlan mau kerumah ngasih tau mami-papi sekalian minta izin sama papi supaya kerjaan Irlan di bawa kerumah aja. Biar Irlan bisa intens ngejaga Nia."
Papa Niko mengangguk setuju dengan ide Irlan. Papa Niko juga takut kejadian enam tahun lalu terulang lagi.
"Kalau begitu,suruh papi dan mami kamu datang ke apartemen kamu nanti malam,biar kita bicarakan nanti disana."
Irlan pun mengangguk.
Setelah urusan minta izin dengan papa mertuanya selesai,Irlan keluar dari gedung Dirgantara Group dan melajukan mobilnya menuju rumah orangtuanya untuk menyampaikan berita bahagia serta menyampaikan pesan dari papa Niko ke papi-mami Irlan.
🍀🍀🍀🍀🍀
Papa Niko,mama Dena,papi Tian dan mami Nita sudah berada di apartemen Irlan dan Nia. Setelah mendengar kabar dari Irlan tentang kehamilan Nia,para calon kakek dan nenek itu tak sabar untuk cepat-cepat datang. Sangking excited nya,mama Dena dan mami Nita sampai membawa banyak jenis makanan yang pastinya Nia sukai.
Papa Niko dan papi Tian geleng-geleng kepala melihat kelakuan Irlan,karena saat ini dengan tidak tahu malunya Irlan membaringkan kepalanya di paha Nia sambil mencium-cium perut Nia.
Sebenarnya mulut papa Niko dan papi Tian sudah sangat gatal ingin menegur Irlan,namun mama Dena dan mami Nita melarangnya,mungkin saja itu bawaan debay yang ada di perut Nia.
"Sayang...perasaan sebelum kita tau kamu hamil perut kamu masih rata. Kok sekarang agak buncitan yah.." tanya Irlan sambil mengusap perut sang istri.
"Kakak ngatain aku buncit?" Tanya Nia tak senang.
"Bukan gitu sayang,coba deh pegang. Gedean kan?" Irlan pun menarik tangan Nia agar Nia memegang perutnya.
"Ih..iya kak. Perasaan kemaren masih rata,kok ini agak melendung." Kata Nia yang terkejut dengan bentuk perutnya.
Mama Dena dan mami Nita yang sedari tadi mendengar pembicaraan Nia dan Irlan pun ikut berkomentar.
"Biasa itu. Ada yang udah lima bulan baru kelihatan perutnya." Kata mama Dena menjawab rasa penasaran anak dan menantunya yang diangguki oleh mami Nita yang sependapat dengan besannya.
Papa Niko melirik papi Tian memberi kode agar papi Tian membicarakan tentang keputusan yang sudah di buat oleh para calon kakeknya.
__ADS_1
"Lan.." panggil papi Tian. Tapi yang di panggil tak merespon,karena masih sibuk dengan kegiatannya mengelus-elus perut Nia.
"Kak..di panggil papi." Nia memukul pelan lengan sang suami.
Irlan mendongakkan wajahnya.
"Apa?" Tanya Irlan,sepertinya ia tak mendengar apa yang Nia katakan.
"Di panggil papi." Kata Nia sekali lagi.
Papa Niko dan papi Tian geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Sedangkan mama Dena dan mami Nita,tersenyum kecil melihat kelakuan calon bapak itu.
"Kenapa pi?" Tanya Irlan setelah mendudukkan tubuhnya.
"Masalah kata-kata kamu tadi pagi,papi dan papa mu setuju kalau Nia untuk sementara waktu bekerja dari rumah.Tapi kalau menurut papi,sebaiknya kalian untuk sementara tinggal di rumah papi atau papa mu? Kalau kalian tinggal di rumah papi atau papa,kan banyak orang yang akan menjaga Nia."
Irlan dan Nia saling berpandangan,seperti saling memberi kode siapa yang akan menjawab pertanyaan orangtua mereka. Irlan menghela nafasnya sebelum memberi alasan kenapa mereka tidak mau tinggal di rumah orangtua mereka.
"Makasih pi karena papi sama papa udah sangat perhatian sama kami,tapi dari awal Irlan dan Nia berumah tangga,papi kan sudah tau Irlan maunya tinggal terpisah dari orangtua kami,dan Nia pun setuju. Maaf pa,bukannya Irlan mau membuat Nia jauh dari papa,tapi Irlan hanya mau lebih bertanggung jawab atas keluarga kecil Irlan. Kalau kami tinggal di rumah papa atau papi,yang ada Irlan jadi gak tau arti tanggung jawab yang sesungguhnya. Begitupun sekarang saat Nia hamil,Irlan mau menebus kesalahan Irlan di masa lalu sama Nia dan calon anak kami. Irlan ingin memberikan seluruh waktu dan kasih sayang Irlan hanya untuk Nia dan calon anak kami. Irlan harap papa dan papi bisa mengerti keputusan Irlan."
Papa Niko dan papi Tian menganggukkan kepala,mereka cukup mengerti apa yang Irlan rasakan. Karena mereka pun pernah ada di posisi seperti Irlan,ingin menjadi kepala keluarga yang seutuhnya dan bertanggung jawab penuh untuk anak istrinya.
"Baik lah kalau memang itu keputusan mu,kami hargai karena kami juga pernah ada di posisi mu." Kata papa Niko.
"Papi juga mengizinkan permintaan mu untuk ikut bekerja dari rumah menemani Nia." Sambung papi Tian.
Nia membulatkan matanya,lalu memutar kepalanya untuk melihat suaminya.
"Kakak mau wfh juga? Kok gak bilang?" Tanya Nia terkejut.
Irlan memberikan cengiran kuda pada sang istri. Jelas lah dia tidak bicarakan ini dengan Nia,karena kalau sampai Nia tau,pasti Nia tidak akan setuju dengan ide Irlan.
"Kan aku udah bilang sayang,aku mau menebus semua kesalahan aku di masa lalu sama kamu dan anak kita. Aku mau memberikan semua waktu dan kasih sayang aku untuk kalian." Kata Irlan memberikan alasan.
Nia memutar bola matanya jengah setelah mendengar alasan Irlan. Satu kata yang terbesit di pikiran Nia,MODUS.!
"Iya sayang,apa yang di bilang suami mu itu betul. Memang ada baiknya kalau dia ikut wfh sama kamu. Bukannya mami gak percaya sama bik Imah yang akan membantu kamu mengurus apartemen dan menjaga kamu,tapi kalau suami kamu ada di rumah sama kamu kan jadi lebih gampang kalau nanti kamu ngidam sesuatu." Kini mami Nita yang membuka suara.
Mendengar kata ngidam,otak jahil Nia langsung mengeluarkan ide cemerlang untuk mengusili suaminya. Jujur,saat Ica bercerita tentang masa kehamilannya,ia sangat iri pada Ica. Karena Ica merasakan apa itu ngidam. Tidak seperti Nia yang hanya bertambah nafsu makan saja,bahkan sampai detik ini pun Nia sama sekali tidak merasakan kepengen sesuatu yang sangat ia ingini.
__ADS_1
Nia pun menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan sang mertua. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk mengerjai suaminya.