
" Gebi ...." ucap Aryan dengan lirih .
Kaget ... tentu saja. Apalagi Aryan sudah lama tidak bertemu dengan Gebi .
Pandangan Aryan tidak lepas dari Gebi . Perempuan yang sudah tidak pernah ia tahu kabarnya sejak pertemuan terakhir kali saat kepulangannya dari Malaysia.
Gebi pun tidak bisa mengelak . Gebi yang saat itu menunduk langsung menegakkan tubuhnya. Sehingga pandangan keduanya bertemu.
deg ... deg
Setelah sekian lama ternyata perasaan itu belum hilang . Entah terbuat dari apa hati Gebi sehingga cintanya pada Aryan tidak pernah berubah .
" Hai ?" sapa Gebi dengan kikuk .
Pegangan Aryan terlepas . Tetapi pandanganya pada Gebi tidak berpindah . Dia memandang Gebi dengan tajam .
" Menatapnya nggak gitu juga kali bro . Dia ini calon bini gua tahu ," ujar Brayen dengan pedenya. Padahal ma sudah seringkali ditolak .
deg!
Entah kenapa apa rasa nyeri di hati Aryan . Aryan mengambil pergelangan tangan Gebi dan menariknya. Membuat Gebi mau tidak mau berdiri . Meskipun begitu ia menarik tangannya sampai pegangan itu terlepas .
" Jangan pegang-pegang napa ," ucap Gebi dengan cemberut . Enak saja pegang-pegang.
" Temenin cari mushola... aku mau sholat dulu ," ucap Aryan dengan lembut .
" Ha ?"
Bukan hanya Gebi yang kaget . Sandra dan semua karyawan Gebi pun kaget.
" Eh ... calon bini gua itu mah ," protes Brayen tidak terima . Dia ikut berdiri disamping Gebi .
" Masih calon ... gua mantan suaminya," jawab Aryan dengan pedenya.
Tentu saja semua langsung menatap kearah mereka berdua . Sedangkan Brayen ... bukanya mundur malah semakin semangat .
" Elu ma mantan ... udah nggak ada hak lagi . Selayaknya sampah ... mantan ma seharusnya dibuang ," celetuk Brayen membuat kedua tangan Aryan terkepal kuat .
Tidak ingin ada hal-hal yang tidak di inginkan, sandra menarik kakaknya menjauh .
" Kakak apa-apaan sih datang-datang malah bikin malu aja . Ngapain juga kesini ," omel Sandra begitu mereka sudah agak jauh dari kelompok Gebi .
" Emang kakak ngapain ?" tanya Aryan dengan emosi . Belum lega rasanya jika belum merobek mulut lemas Brayen .
" Sudahlah... katanya tadi mau sholat . Ayo Sandra anterin ."
__ADS_1
Sandra ingat kalau dia berdebat dengan sang kakak pasti dia kalah . Dari pada jadi tontonan orang-orang lebih baik mengalah .
Aryan menurut . Tetapi dalam hati ia berjanji untuk bicara berdua dengan Gebi .
" Tunggu Sandra disini. Jangan kemana-mana!" peringat Sandra sebelum mendekat kearah Gebi .
" Maaf ya ... aku mau nganterin kakak aku sholat dulu ," ucap Sandra tak enak hati . Khususnya kepada Gebi .
Gebi mengerti hal itu . Jadi dia memberikan senyum buat Gebi .
" Antar aja ... kamu masih mau ikut kita kagak ?"tanya Gebi .
" Ya ikut lah !"
" Nggak boleh ," sanggah Brayen .
" kenapa?"
" Pokoknya nggak boleh . Lebih baik bawah jauh-jauh tu kakak Lo dari my sweety."
Mendengar hal itu Sandra langsung menatap Gebi . Seakan mengerti arti tatapan Sandra , Gebi memberikan jawaban dan juga senyuman yang membuatnya lega .
" Nggak usah dengerin ucapan Brayen . lebih baik segera antar Mas ... eh , Aryan maksudnya," ucap Gebi dengan salah tingkah.
Akhirnya Sandra berlalu dari sana . Dia mengajak Aryan ke mushola yang ada di dekat situ .
Sedangkan Gebi ditatap oleh para karyawannya. Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin mereka sampaikan.
" Jadi?" tanya Brayen meminta kepastian. Begitupun dengan yang lain . Mereka menatap Gebi dengan raut wajah penasaran
" Jadi apa ?" tanya Gebi pura-pura tidak faham .
" Kamu beneran_"
Brayen bingung mau bilang apa . Jadi dia tidak meneruskan ucapannya.
" Ya ... saya seorang janda ," jawab Gebi singkat.
" Kenapa kalian bisa cerai ?" tanya Brayen lagi . Jika dilihat dengan baik keduanya cocok.
" Ya ... kan belum jodoh ," jawab Gebi santai .
" Betul ... jodohku kan my sweety ," ucap Brayen dengan pedenya.
" PD !" ucap semua karyawan Gebi dengan kompak .
__ADS_1
" Lah ... lihat saja nanti !"
Semua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepedean Brayen . Padahal sudah jelas Gebi hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang teman .
Sebenarnya ada alasan khusus yang membuat Gebi tidak bisa menerima perasaan Brayen . Kedua orangtuanya tidak pernah mau menerima Gebi .
Selain itu agama mereka berbeda . Sudah seringkali ia ingatkan akan perbedaan itu . Tetapi tidak membuat Brayen menyerah .
Brayen tidak pernah tahu jika orang tuanya seringkali melabrak Gebi . Sebab Gebi tidak ingin Brayen membenci orang tuanya .
Jadi dia hanya bisa menolak dengan alasan perbedaan. Sebab dia pun ingin memiliki suami yang seiman dengannya. Yang bisa membimbingnya kejalan yang lebih baik .
" Kita lanjut sekarang mbak ?" tanya Arini .
" Tunggu sebentar... kasihan Sandra, kan dia juga pengen bareng kita ."
" Sandra apa Sandra ?" tanya Brayen dengan cemberut .
" Terserah deh Bray ...."
Tak lama kemudian sandra dan Aryan datang .
" Maaf ya ... nunggunya lama ," ucap Sandra . Sedangkan Aryan seperti biasa , hanya cuek .
" Nggak masalah kok . Sekarang kita kemana nih ?'
" Bagaimana kalau ke teluk putri ?"
" Teluk putri ?"
" Ya ...."
" Kok bisa disebut teluk putri ?"
" Kata orang sih ... karena di teluk ini dilapisi pasir putih sangat bersih dan halus lembut sehalus kulit para putri ."
" Jauh nggak ?"
" Nggak kok . "
Apa yang dikatakannya memang benar . Untuk menuju ke teluk putri , pengunjung cukup berjalan ke sisi kiri kemudian naik ke bukit yang tak terlalu tinggi.
Hanya saja pengunjung di sini harus hati-hati karena terkadang gelombang bisa cukup besar. Oleh karena itu pengunjung tidak diperbolehkan mendekat sampai di bibir pantai. Pengunjung hanya boleh berada di pasir putih.
Mereka pun akhirnya berjalan ke teluk putri . Brayen selalu berjalan disamping Gebi . Sedangkan Aryan berjalan bersama Sandra .
__ADS_1