Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Bab 73


__ADS_3

"Apaan lagi sih??!!" Nia sudah terlihat kesal.


Susah payah ia menata hatinya selama kurang lebih empat tahun,tapi hanya dengan waktu semalam hatinya kembali berdegup kencang pada Irlan.


Nia tidak benar-benar tidak ingin masa lalu itu terulang lagi,makanya dia berusaha pergi dari hadapan Irlan. Tapi ini... Irlan malah yang selalu menahannya.


"Udah lama gak ketemu kamu jadi galak banget sekarang."


Nia memutar bola matanya jengah.


"Sebenernya mau kamu itu apaan sih?!" Nia semakin kesal. Tangannya ia hentakkan agar terlepas dari tangan Irlan.


"Jangan buang-buang waktu aku deh." Lanjutnya.


"Kita duduk dulu disitu yah,ada yang mau aku omongin" Irlan menunjuk bangku yang tadi mereka duduki.


"Sini.." Irlan menarik tangan Nia untuk duduk di bangku.


"Lepas ah,jangan pegang-pegang.!" Lagi dan lagi Nia menolak tangannya di pegang sang mantan suami.


"Iya iya galak.." Irlan melepaskan tangan Nia.


Kini Irlan sudah duduk di bangku,sedangkan Nia masih berdiri disamping Irlan dengan jarak hampir dua meter.


"Duduk sini Nia,kamu apa gak capek berdiri disitu?" Irlan menepuk sisi bangku yang kosong.


"Udah cepet mau ngomong apa?" Tanya Nia ketus.


Irlan menghela nafasnya,Nia nya yang sekarang bukan seperti Nia nya yang dulu,yang selalu ceria dan tersenyum dihadapannya. Nia yang sekarang terlihat galak dan jutek.


Tak ingin memaksa Nia untuk duduk disampingnya,Irlan pun mengalah.


"Selamat yah,udah jadi Presdir di Dirgantara Group." Kata Irlan basa-basi memulai pembicaraannya.


"Hemh..makasih." jawab Nia masih dengan nada ketus.


"Kamu enak yah sekarang udah jadi Presdir. Gak kayak aku,walaupun papi udah bolehin aku kerja di perusahaan,tapi tetap aja papi belum bisa percayain aku buat gantiin dia."


Mata Nia sedikit melirik ke arah Irlan yang sedang menatap lurus dengan raut wajah kasihan.


"Itu mah urusan kamu sama papi kamu,gak hubungannya sama aku." Mata Nia ikut menatap lurus.


Gantian kini Irlan yang melirik Nia.


"Nia...apa kamu masih benci sama aku?" Tanya Irlan,kini kedua matanya sudah menatap lekat ke arah Nia.

__ADS_1


"Untuk apa aku benci sama kamu,emang ada untungnya?" Nia membalas tatapan Irlan.


"Kalau kamu gak benci sama aku kenapa kamu baru muncul sekarang? "


"Aku sibuk nimba ilmu,biar bisa cepet gantiin papa. Aku gak ada waktu untuk mikirin hal-hal gak penting."


"Termasuk aku?"


"Iya,termasuk kamu."


Jawaban Nia benar-benar membuat hatinya tertohok.


"Aku udah gak penting lagi buat dirinya." Lirih Irlan dalam hati.


"Apa aku masih bisa menjadi sesuatu yang penting itu buat kamu?"


Nia kembali menoleh ke arah Irlan.


"Ngomong apaan sih? Gak jelas!!! Udah akh aku mau turun. Gak ada yang harus kita omongin lagi." Nia menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Dan satu lagi,aku harap ini pertama dan terakhirnya kita bicara berdua kayak gini. Kalau suatu saat kita bertemu lagi,aku minta sama kamu gak usah nyapa-nyapa aku,anggep aja kita gak saling kenal. Karena aku juga akan ngelakuin hal yang sama. Paham kan??" Lanjut Nia.


Nia memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya.


Irlan membiarkan Nia pergi dari tempat itu.


Sedangkan di dalam lift Nia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.


Jujur di satu sisi hatinya yang terdalam,masih ada sedikit rasa untuk mantan suaminya tersebut,tapi di sisi hati nya yang lain,luka akan masa lalu bersama Irlan dan kesedihan atas kehilangan anaknya masih belum begitu kering.


"Mosha...tolong berikan kekuatan buat bunda. Hati bunda benar-benar lemah jika berurusan dengan ayah mu." Nia menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.


Pintu lift terbuka. Nia menarik nafasnya dan membuangnya,menampilkan senyum termanisnya sebelum masuk ke tempat resepsi.


Ia melihat kanan kiri untuk mencari keberadaan orangtuanya.


"Nia.." panggil mama Dena yang melihat anaknya seperti sedang mencari keberadaannya.


Nia menoleh ke sumber suara. Dia mendekat ke arah sang mama.


"Kamu dari mana?" Tanya mama Dena.


"Cari angin mah.."


"Kok angin di cari,nanti masuk angin loh."

__ADS_1


"Kan tinggal minum tolak angin"


"Ck..bisa aja kamu. Sini,kenalin nih temen-temen mama." Mama Dena memperkenalkan Nia pada teman-teman sosialitanya.


Melihat Nia yang berparas cantik,tak ayal membuat para ibu-ibu sosialita itu ingin menjodohkan anaknya dengan Nia.


"Eh tapi bukannya Nia udah merit yah?" Tanya salah seorang teman mama Dena.


Mendengar kalimat itu,sontak saja para ibu-ibu yang tadi ingin menjodohkan anaknya dengan Nia jadi merubah raut wajahnya menjadi tidak suka.


"Masa sih,terus suami kamu mana?" Tanya teman mama Dena yang satu lagi.


Mama Dena melihat ketidak nyamanan dalam diri anaknya. Mama Dena sangat tahu Nia sangat tidak percaya diri kalau sudah membahas masalah status.


"Suaminya..."


"Saya udah cerai tante." Dengan cepat Nia memotong kata-kata mamanya.


Nia tau mama Dena pasti ingin menyembunyikan statusnya. Dan menurut Nia itu hanya akan menjadi boomerang untuk dirinya dan keluarganya kelak.


Jadi lebih baik jujur di awal tentang statusnya. Nia tidak peduli dengan pandangan miring kebanyakan orang tentang statusnya. Menurut Nia,kalau memang laki-laki itu serius menjalani hubungan dengan Nia,mereka tidak akan mempermasalahkan statusnya.


Mama Dena membulatkan matanya,karena dengan lantangnya Nia menyebutkan statusnya. Bukannya mama Dena malu,justru mama Dena merasa bangga pada anaknya yang tidak lagi merasa rendah diri dengan statusnya.


Para ibu-ibu sosialita itu pun terkejut mendengar pengakuan Nia.


"Kamu serius? Kok bisa? Padahal kamu masih muda banget loh?"


"Iya,apa mantan suami kamu ketahuan selingkuh...?"


Pertanyaan bertubi-tubi ditanyakan pada Nia.


"Mungkin batas waktu untuk kami berjodoh memang cuma sampai segitu tante." Jawab Nia dengan senyuman.


Para ibu-ibu itu tergelak mendengar perkataan Nia.


Obrolan mereka tentang masa lalu Nia pun di akhiri,mungkin karena tidak ingin menyinggung perasaan mama Dena,kini para ibu-ibu sosialita itu kembali mengobrol hal-hal yang tidak penting. Tidak tau lah kalau setelah ini mereka akan menggunjing Nia dibelakang.


Malam semakin larut,para tamu juga sudah banyak yang berpulangan,sebelum pulang papa Niko,mama Dena dan Nia tidak lupa menghampiri sang empunya acara untuk memberi selamat.


Setelah itu keluarga kecil itu pun keluar dari tempat resepsi menuju keluar gedung.


Setelah melihat keluarga Nia keluar baru lah Irlan menghampiri pak Rafly.


ยคยคยค Ayo dong mampir ke project othor yang baru,judulnya Penantian Sang Casanova. Kalau udah mampir tinggalin jejak kalian dengan kasih jempol dan komen-komen kalian yang banyak. Dan kalau ada yang punya vote dan buket bunga lebih boleh lah kasih buat MCMI dan PSC. Terimakasih. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1



Jangan lupa singgah yah ke PSC.


__ADS_2