
"Kalian berdua itu yah bener-bener satu DNA. Kalau udah kerja lupa sama waktu. Lihat nih udah jam berapa,udah waktunya makan siang sekarang." Protes mama Dena sambil menunjukkan jam tangannya ke arah anak dan suaminya.
"Bentar lagi mah,tanggung." Jawab papa Niko yang masih sibuk memeriksa dokumen.
Mama Dena menghela nafasnya.
"Gak ada nanti-nanti,kalau udah waktunya makan yah makan,kalau waktunya istirahat yah istirahat. Kalau kalian sampai sakit,gak ada artinya uang yang kalian cari selama ini kalau gak bisa kalian nikmatin." Mode ceramah mama Dena on.
"Udah sekarang kita makan dulu,mama udah capek-capek masak buat kalian berdua. Masa pekerjaan kalian lebih penting dari pada masakan mama." Mama Dena menutup paksa berkas yang sedang Nia dan papa Niko pegang. Lalu menarik duo ayah dan anak itu ke sofa yang ada didepan meja kerja.
"Ayo kita berangkat." Kata mama Dena.
Mereka kini telah selesai makan siang. Mama Dena langsung mengajak putrinya untuk pergi membeli gaun yang akan dia pakai nanti malam.
"Nanti sore aja lah mah,kalau cuma nyari gaun doang kan cuma sebentar kenapa harus dari sekarang sih." Papa Niko kembali protes.
"Kita bukan cuma mau nyari gaun pah,tapi mama mau quality time sama Nia. Mau nyalon,shoping,kulineran,akh banyak lah pokoknya."
"Weekend kan bisa."
"Gak,pokoknya harus hari ini. Karena mulai besok Nia pasti akan dikuasai oleh pekerjaan menumpuk dari kamu"
Papa Niko menghela nafasnya,percuma berdebat dengan istrinya pikirnya.
Sedangkan Nia hanya menjadi pendengar yang baik dari perdebatan menggemaskan kedua orangtuanya itu.
Mama Dena langsung menarik tangan Nia melangkah keluar dari ruang Presdir.
🍀🍀🍀🍀🍀
Kini Nia,mama Dena dan papa Niko sudah bersiap berangkat ke resepsi pernikahan anak pak Rafly yang akan di adakan di salah satu hotel berbintang.
Mobil yang dikendarai supir pribadi keluarga Nia pun sampai di depan pintu masuk lobi hotel.
Papa Niko turun lebih dulu,kemudian di susul mama Dena dan terakhir Nia.
Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam tempat resepsi. Tamu-tamu yang hadir sudah banyak memenuhi tempat resepsi. Ada dari kalangan pengusaha,pejabat,model dan artis papan atas.
Sambil menyapa dan bersalaman dengan rekan bisnis papa Niko sekalian memperkenalkan Nia pada mereka.
Niana.
__ADS_1
Penampilan Nia yang begitu cantik dan elegan,membuat mata para pengusaha muda tak henti-hentinya menatap Nia. Banyak yang ingin berkenalan langsung dengan Nia dan ada juga yang minta langsung dijodohkan dengan Nia melalui papa Niko.
Nia yang merasa lelah karena harus mengikuti papanya sedari tadi,memilih untuk beristirahat. Dia melangkahkan kaki nya di salah satu bangku kosong.
Kalau mama Dena jangan ditanya keberadaannya,karena begitu masuk ke tempat resepsi,mama Dena sudah dipanggil oleh teman-teman sosialitanya untuk bergabung dengan mereka.
Tanpa Nia sadari,ada sepasang mata yang terus mengikuti langkah kaki Nia.
Ya,sepasang mata itu adalah milik Irlan. Irlan yang melihat kedatangan Nia dari lobi terus saja mengikuti Nia dari tempat berjauhan agar Nia tidak menyadari kehadirannya.
Hati Irlan berdegup kencang saat melihat Nia untuk pertama kalinya dalam waktu hampir empat tahun.
"Kamu makin cantik dan seksi." Gumam Irlan sambil menyesap minumannya,sorot matanya masih tak henti memandang Nia.
Irlan.
Makin malam tamu yang datang semakin banyak. Membuat Nia semakin sesak melihat banyak orang.
Nia menghampiri papa Niko dan mama Dena,meminta izin untuk keluar mencari udara segar.
Papa Niko yang sedang asik berbincang pun mengiyakan saja.
Betapa terkejutnya Nia.saat melihat siapa yang menahan pintu lift.
Mata Nia membulat sempurna. Saat si pria masuk,Nia memutuskan untuk keluar dari lift itu,tapi sayang baru hendak melangkah tangan kokoh si pria sudah menahan tangan Nia untuk tetap berada dalam lift yang sama dengannya. Kini mereka berdua dalam lift yang sama menuju rooftop hotel.
"Lepas" Nia menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman si pria itu.
Tapi si pria tak memperdulikannya.
"Ini sakit kak.." lirih Nia.
Melihat Nia yang kesakitan pria itu pun melepaskan genggaman tangannya dari Nia.
Nia mengusap-usap tangannya yang memerah karena genggaman pria itu sangat kuat.
"Maaf,sakit banget yah." Tanya pria itu dengan lembut. Ia jadi merasa bersalah.
Nia mengangguk.
"Gak berubah. Masih kasar aja." Cibir Nia.
__ADS_1
Ya pria yang bersama Nia di dalam lift sekarang adalah Irlan.
Mendengar cibiran Nia pada dirinya,Irlan hanya tersenyum lemah. Kemudian mengelus rambut wanita yang sudah sangat ia rindukan itu.
"Maaf kalau perbuatan aku nyakitin kamu."
Pintu lift pun terbuka. Nia langsung ke luar dari dalam lift. Dia berjalan sedikit tergesa-gesa,agar dirinya bisa jauh dari Irlan.
Melihat Nia yang tidak ingin berdekatan dengannya,Irlan pun sedikit memberi jarak. Tapi matanya tetap memandang lekat wanitanya itu.
Mereka pun duduk di bangku kosong yang berbeda tapi bersebelahan.
Melihat Nia yang kedinginan karena memakai pakaian terbuka,Irlan berjalan ke arah Nia dan memberikan jas yang ia kenakan kepada Nia.
"Pake ini kalau dingin." Irlan memakaikan jasnya ke tubuh Nia.
"Gak usah,aku gak pa-pa" tolak Nia.
"Gak pa-pa gimana,orang dari muka kamu aja keliatan banget kedinginan."
"Aku bilang gak usah yah gak usah ngerti gak sih." Nia menyentakkan jas Irlan dari tubuhnya.
Irlan menghela nafasnya. Butuh kesabaran extra agar Nia mau berbaikan dengannya.
"Sekarang kamu pilih,mau pake ini atau aku peluk kamu biar hangatin tubuh kamu??" Irlan memberikan pilihan.
Merasa acara menyendirinya mendapat gangguan,Nia berdiri dari duduknya. Ia memilih pergi daripada harus menerima salah satunya.
"Mending aku balik aja ke bawah.".Nia memutar tubuhnya.
Tapi sayang belum sempat melangkah Irlan kembali memutar tubuh Nia dan memeluknya erat.
Nia yang kaget dengan perlakuan Irlan,langsung memukul-mukul dada Irlan dan mendorongnya. Tapi Irlan justru.semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarin gini dulu Nia,sebentar aja. Aku kangen banget sama kamu." Lirih Irlan tepat di telinga Nia.
Nia yang berada di pelukan Irlan,merasakan betul degup jantung Irlan yang begitu kencang dan aroma tubuh Irlan yang sebenarnya juga sangat ia rindukan.
Untuk sesaat Nia membiarkan Irlan memeluknya tanpa membalas pelukan Irlan.
"Udah abis waktunya." Nia mendorong tubuh Irlan agar menjauh darinya.
Kemudian memutar tubuhnya untuk pergi dari tempat itu,tapi lagi-lagi Irlan menangkap tangan Nia.
__ADS_1