
" Ini sebenarnya ada apa sih ?" tanya Laila begitu diruangan ini tersisa empat orang .
" ..."
" ..."
" Terus apa maksudmu tadi Ar ... kamu sudah melamar Gebi ?" tanya Gebi dengan semangat . Dia tidak marah namun kaget .
" Tidak," ucap Aryan dan Gebi kompak . Keduanya sontak saling pandang sebelum Gebi mengalihkan pandangannya.
" Terus tadi apaan?"
" Refleks ," jawab Aryan jujur.
Sedangkan Gebi hanya diam . Sebab dirinya memang tidak mengetahui alasan Aryan mengaku sebagai calon suaminya.
" Memangnya mereka siapa sih ?"
Ceklek
" Pagi sweety..." sapa Brayen dengan riang. Ditangannya ada bunga dan juga buah .
Keempat orang itu menatap Brayen dengan pandangan berbeda-beda.
" Kok pada ngeliatin Brayen gitu amat sih . Tahu sih ganteng tapi nggak gitu amat kali ," ucap Brayen dengan pedenya.
" Eh ... pasti Tante , mamanya Gebi ya ?
Kenalin Tante calon pacar putri Tante ," lanjut Brayen sambil mengulurkan tangannya pada Laila .
Laila yang masih terkejut , diam saja saat tangannya dikecup oleh Brayen .
" Ini biang masalahnya ma ," ucap Sandra kemudian .
" Enak saja ... ganteng-ganteng gini dibilang biang masalah. Kamu tuh yang masalah !'
" Kan emang bener kamu tuh _"
" Sandra !"
" Maaf ma ... tapi bener loh . Ni orang yang sudah disebutkan oleh wanita tadi ."
__ADS_1
" Benarkah?" tanya Laila pada Gebi . Gebi mengangguk sebagai Jawaban.
" Ada apa sweety?" tanya Brayen yang merasa ada yang salah dengan kehadirannya.
" Ayo kita keluar dulu . Biar Gebi bisa berbicara berdua dengannya."
" Nggak bisa gitu dong ma . Mama harus ingat ... kita tidak membiarkan dia orang yang berbeda jenis berada dalam satu ruangan . Karena yang ketiga itu setan ."
" Terus kamu mau jadi setannya ?" sindir Brayen .
" Enak saja ... kamu tuh setan."
" Kok jadi kalian yang bertengkar sih ?" tanya Laila sambil geleng-geleng kepala .
" Baiklah... kamu bertiga akan duduk di sofa sana . Kalian berdua selesaikan masalah kalian ."
" Tante pasti salah paham . Saya sama my sweety nggak pernah punya masalah Tante . Kalau sama tuh anak sih mungkin ," ucap Brayen sambil menunjuk Sandra dengan dagunya .
" Ha ... Tante tahu kamu tidak ada masalah dengan Gebi . Tapi apakah kamu tahu yang dilakukan mamamu pada Gebi ?"
" Mama ?"
" Apa itu benar sweety?"
" Benar Bray... lupakan perasaan mu padaku . Kita tidak akan pernah bisa bersatu ."
" Sweety...."
" Aku tahu perasaan mu tulus. Aku hargai itu . Tapi .... alangkah baiknya kamu menerima orang yang benar-benar mencintai mu . Karena aku .... maaf ."
Ruangan itu langsung sunyi . Gebi tidak berani menatap wajah Brayen yang murung . Kasihan ... siapa yang tidak kasihan . Dia sangat tahu rasanya mencintai tetapi tidak dicintai.
" Aku sangat berharap akan kebahagiaanmu . Tapi bukan dengan ku . Wanita itu sangat mencintaimu. Kamu tahu itu kan ?" lanjut Gebi dengan lirih .
Brayen mengepal kan kedua tangannya dengan erat . Dia berlutut di depan Gebi . Hingga keempat orang yang ada diruangan itu kaget . Bahkan Gebi berusaha untuk bangun sayang kondisinya tidak mendukung.
" Bray ..."
" Apakah kita memang tidak bisa bersama ? Kamu tahu... aku mencintaimu sejak pertama bertemu. Tidak bisakah kamu melihatnya?" ucap Brayen dengan tangis yang menyayat hati .
Gebi langsung menangis . Andai tidak ada perbedaan diantara mereka pasti dengan senang hati Gebi menerimanya. Siapa yang tidak ingin dicintai segitu besarnya.
__ADS_1
Sandra pun ikut menangis . Ternyata bukan hanya dia yang menangis karena cinta .
" Tuhanku dan tuhan yang kau sembah berbeda . Mungkin jika hanya kebencian mamamu aku bisa menerima . Tetapi aku tidak akan kuat menerima kebencian dari Tuhanku. Aku dengan agamaku dan kamu dengan agamamu ."
" Apakah apabila aku ikut keyakinanmu kita bisa menikah ?"
" Aku tidak ingin kamu mengikuti keyakinanku hanya karena aku ."
" Terus apa yang harus aku lakukan geb ?" tanya Brayen dengan frustasi.
" Terimalah gadis itu . Dia sangat dicintai oleh orang tuamu . Terimalah dia sebagai baktimu pada orang tuamu . Ingatlah perjuangan mamamu saat mengandung dan melahirkan kamu . Aku bukanlah siapa-siapa tetapi mamamu ..."
Brayen terhenyak mendengar penuturan Gebi . Dia ingat cerita Omanya . Mamanya harus mengalami koma hingga beberapa hari setelah melahirkannya. Bahkan mamanya juga pernah tertabrak sepeda motor hanya untuk menolongnya.
Akhirnya Brayen mengusap air matanya. Dia tatap Gebi dengan senyum lembut .
" Terimakasih... kamu telah menyadarkan aku . Aku memang mencintaimu . Tetapi aku lebih mencintai mamaku . Terima kasih.... sudah mengingat kan aku yang belum pernah sekalipun membahagiakan orang tuaku."
Gebi ikut tersenyum mendengarnya.
" Jadi ?"
" Aku akan kembali ke orang tuaku . Aku akan berusaha untuk menerima wanita pilihannya. Aku harap ... kamu selalu bahagia . Mendapatkan lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu. "
" Terimakasih..."
" Kalau begitu ... izinkan aku untuk memelukmu untuk yang pertama dan terakhir.'
" Ha ?"
" Enak saja pakai peluk-peluk ," ucap Aryan yang tiba-tiba menarik kerah baju Brayen hingga Brayen tak jadi memeluk Gebi .
" Kamu itu sama adikmu sama . Suka banget merusak kebahagiaanku ," cebik Brayen tak terima .
" Jangan pernah memeluk calon istriku tahu ?"
" Calon istri calon istri .... bukan kan mantan istri ?"
" Kamu ..."
" Berisik !'
__ADS_1