
Di Singapore.
Setelah melakukan panggilan dengan Nia,papa Niko dan mama Dena langsung keluar dari kamar hotel. Perjalan mereka kali ini bukan untuk berlibur seperti yang mereka katakan pada Nia,melainkan untuk menjenguk mami Nita yang sedang sakit.
Flashback On
Papa Niko berlari menelusuri lorong rumah sakit setelah mendapat kabar dari mama Dena kalau mami Nita dirawat di rumah sakit.
"Pah.." mama Dena menghampiri suaminya yang terlihat sangat cemas.
"Gimana keadaan Nita,Tian?"
Untuk pertama kalinya papa Niko berbicara dengan papi Tian dengan tidak formal setelah kurang lebih empat tahun lamanya. Atau lebih tepatnya saat kejadian Irlan mengakui mencintai wanita lain dan ingin menceraikan Nia dihadapan papa Niko dan mama Dena.
Mulai hari itu juga,hubungan dua keluarga itu merenggang. Kalau pun papa Niko dan papi Tian bertemu karena urusan pekerjaan pun,papa Niko seperti menjaga jarak dengan papi Tian. Mungkin karena pada saat itu hati papa Niko masih sangat kesal dengan Irlan.
"Masih sama seperti kemarin,hasil laboraturium juga belum keluar."
Papi Tian mendudukkan tubuhnya di kursi depan kamar rawat mami Nita.
"Mulai kapan dia sakit,kenapa kamu gak kasih kabar ke aku. Kalau bukan karena Irna yang cerita ke Dena mungkin sampe saat ini aku gak akan tau kalau kakak aku sakit." Papa Niko agak meninggikan suaranya karena kesal.
"Pah.." mama Dena mengelus tangan suaminya agar suaminya itu tenang.
"Ini rumah sakit pah,pelanin suara mu." Kata mama Dena lagi.
"Kami gak mau ngerepotin kalian Niko."
"Ngerepotin apanya,dia kakak aku Tian. Aku berhak tau kondisinya."
Papi Tian diam saja tak mau membalas kata-kata papa Niko.
Tak lama perawat memanggil papi Tian untuk menemui dokter diruangannya.
Papi Tian pun mengikuti perawat tersebut dari belakang.
Begitu sampai di dalam ruangan dokter papi Tian langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter.
Sang dokter mengeluarkan amplop yang berisi hasil laboraturium mami Nita. Dan dokter menerangkan bahwa mami Nita terkena kanker getah bening stadium dua.
Dunia papi Tian seakan runtuh mendengar penjelasan dokter kalau istri yang sangat ia cintai terkena kanker.
Dokter pun menjelaskan pada papi Tian cara-cara untuk menyembuhkan mami Nita.
Setelah dokter menjelaskan panjang lebar,papi Tian keluar dari ruangan dokter dan kembali melangkahkan kakinya dengan gontai ke kamar rawat istrinya.
"Gimana,dokter bilang apa?" Tanya papa Niko penasaran.
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi ditahan papi Tian,akhirnya tumpah juga.
Didalam pelukan papa Niko,papi Tian menumpahkan seluruh kesedihannya saat ini atas apa yang menimpa istrinya.
"Nita_Nik..Nita...Dia...dia...dia kena kanker getah bening Nik.."
Duuuuuaaaaarr
Reaksi papa Niko tak kalah terkejutnya dengan papi Tian saat pertama kali mendengar kabar dari dokter tadi.
Mama Dena yang berdiri disamping dua pria yang sedang berpelukan itu juga sama terkejut.
"Udah stadium berapa?" Tanya mama Dena.
Papi Tian melepaskan pelukannya pada papa Niko dan menjauhkan tubuhnya. Kini matanya menatap mama Dena.
"Stadium dua."
Mama Dena mendekat ke arah papi Tian,dan menepuk pundaknya.
"Masih bisa disembuhkan,ayo kita cari pengobatan yang terbaik. Kita gak boleh larut dalam kesedihan. Kesedihan hanya akan membuat otak kita tidak bisa berpikir jernih."
"Iya Tian,kalau kita lemah siapa yang akan menguatkan Nita. Sekarang kamu masuk,temui Nita bicarakan pelan-pelan tentang kondisinya. Biar kami cari informasi tentang pengobatan yang terbaik."
Papi Tian pun mengangguk,mengelap air mata yang membasahi wajahnya. Dan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar rawat mami Nita.
Flashback Off
Papa Niko dan mama Dena masuk ke ruang rawat mami Nita.
"Kamu udah dateng Nik.?" Tanya mami Nita dengan suara lemah saat melihat papa Niko dan mama Dena masuk.
"Iya"
"Kamu gak kasih tau Nia kan?"
"Enggak,tenang aja. Nia taunya kita pergi berlibur."
"Nik,kamu masih marah sama Irlan?"
Papa Niko menarik nafas panjang. Sebenarnya ia malas membicarakan hal ini. Mau bilang marah,tapi Irlan anak kakak angkatnya,mau bilang tidak tapi sebenarnya dia masih sangat marah.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh dulu Nit. Kata dokter pikiran juga mempengaruhi proses kesembuhan."
"Tapi aku belum bisa tenang Nik,kalau kamu belum bisa memaafkan Irlan. Aku tau kesalahan Irlan benar-benar fatal,karena sudah mengkhianati janji sucinya. Tapi apa kamu gak bisa lihat gimana menyesalnya Irlan setelah Nia pergi. Tolong maafkan dia Nik.."
"Aku belum bisa ambil keputusan untuk itu. Maaf."
__ADS_1
Melihat suasana semakin tidak baik,mama Dena yang mendengar pembicaraan mereka akhirnya buka suara.
"Sudah..jangan karena masalah anak-anak kita,kita malah jadi ikut bertengkar. Cukup hampir empat tahun ini kita seperti orang lain. Irlan tetap keponakan kami,terlepas dari semua kesalahannya pada Nia. Sekalipun kami marah itu wajar,coba kalian yang berada di posisi kami apa kalian terima anak perempuan kalian disakiti? Jadi biar lah waktu yang mengobati luka kami karena perlakuan Irlan."
Mami Nita pun terdiam,benar apa yang dikatakan mama Dena,tak ada orangtua yang ingin anaknya disakiti apalagi karena perselingkuhan.
🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Irlan bangun lebih cepat dari biasanya,dia sudah siap dengan kemeja dan stelan jasnya untuk berangkat ke kantor.
Tapi sebelum berangkat ke kantor,tujuan Irlan adalah rumah Nia. Dia ingin menjemput Nia.
Kini Irlan sudah sampai di depan gerbang rumah Nia.
Irlan melakukan panggilan ke nomor Nia.
Nada dering di hp Nia berbunyi,Nia baru sedang memoleskan make up ke wajahnya pun beralih ke arah hp nya. Begitu melihat nama Kesayangan Ku,Nia memutar bola matanya malas.
"Ish ngapain sih nih orang,masih pagi juga udah gangguin orang aja." Nia ngedumel.
Sudah lima lima kali Irlan melakukan panggilan tapi Nia terus mengabaikannya.
"Uh..nih orang maunya apa sih!!" Lama-lama Nia jengkel sendiri. Mau tidak mau dia menggeser tombol hijau.
"Apa?" Teriak Nia saat panggilan itu tersambung.
"Sudah siap?"
"Maksudnya?"
"Aku udah didepan gerbang,kalau udah siap cepet turun."
"Gak mau,aku mau berangkat sendiri."
"Ya udah aku bikin rusuh nih disini." Ancam Irlan.
"Bikin aja,gak takut." Nia langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Tak lama suara klakson mobil Irlan terdengar sangat berisik di luar pagar. Bahkan Irlan juga memakai pengeras suara untuk memanggil Nia.
"NIA....NIANA..AYO KELUAR. KALAU KAMU GAK MAU KELUAR JUGA AKU BISA LEBIH GILA DARI INI..." teriak Irlan dengan pengeras suara itu.
Sontak Nia berlari ke arah jendela kamarnya,dia melihat kelakuan Irlan yang sangat memalukan. Membuat para tetangga ikut keluar melihat kelakuan Irlan.
"OMAIGAT,malu-maluin banget sih nih orang!!!" Nia langsung bergegas turun ke bawah.
Namun sebelum Nia turun,pak satpam sudah lebih dulu keluar untuk menghentikan aksi Irlan.
__ADS_1