
Sudah seminggu Gebi berada di rumah sakit . Selama ini Aryan dengan setia menemaninya. meskipun harus sering bolak-balik ke hotel .
Sandra sudah kembali ke Jakarta bersama orang tuanya. Orang tua Aryan menemani Gebi selama dua hari .
Sebenarnya Gebi merasa tidak enak dengan Aryan . Dia sudah menyuruh Aryan untuk ikut bersama mereka. Namun Aryan menolak .
Aryan berkata dirinya masih ada urusan di hotel . Jadi selama urusannya belum selesai, dia yang akan menjaga Gebi . Hal itu disetujui oleh orangtuanya.
" Loh mas kok sudah datang. Katanya ada tamu penting yang datang ke hotel ?" tanya Gebi begitu Aryan datang .
" Bukankah kamu mau pulang sekarang?"
" Iya sih ... memangnya pekerjaan mas sudah selesai?"
" Sudah ."
" Beneran?"
Aryan mencoba meredam emosinya. Sudah diluangkan waktunya kok malah banyak bertanya.
" Sudah . Ada yang kesini tidak ?"
" Nggak ada . Teman-teman lagi ada banyak pesanan jadi tidak bisa kesini ."
" Oh .."
__ADS_1
Aryan dengan telaten memasukkan barang-barang kedalam tas . Semua ia masukkan tanpa ada yang tertinggal.
Gebi tidak bisa membantu , karena memang kondisinya masih belum pulih benar . Dia masih belum bisa berjalan. Gebi memandang Aryan sendu .
" Maaf ya mas ..." ucap Gebi dengan lirih .
Aryan menghentikan gerakannya. Dia meletakkan tas itu begitu saja dilantai dan menghampiri Gebi .
" Maaf kenapa ?" tanya Aryan dengan lembut . Sangat berbeda dengan sikapnya yang dulu .
" Sudah banyak merepotkan mas Aryan ," jawab Gebi sambil menundukkan kepalanya.
" Ya .... itung-itung buat menebus kesalahan yang sudah mas perbuat ."
" Mas kan nggak salah . Aku yang salah sudah _"
" Mas sudah nggak benci Gebi lagi ?" tanya Gebi agak ragu . Padahal sudah sejak Aryan menunggunya, dia ingin bertanya . Baru sekarang bisa ia utarakan.
" Memangnya kamu membenciku?" tanya balik Aryan .
Gebi menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak membenci Aryan . Apalagi dia sadar semua berawal dari dirinya .
" Seperti kamu yang tidak membenciku. Aku pun sudah tidak membencimu. Semua sudah menjadi takdir , mau bagaimana lagi ."
" ..."
__ADS_1
" Eh ... kok malah ngobrol. Dim !" teriak Aryan .
" Saya bos ," jawab Dimas yang sedari tadi menunggu di luar langsung masuk kedalam ruangan .
Gebi yang tidak mengetahui ada orang di depan ruangannya langsung kaget .
" Bawa barang-barang ini ke mobil !"
" Baik bos ."
Setelah itu Aryan mengambil kursi roda . Lalu dia mengangkat Gebi dan mendudukkannya di kursi roda itu .
" Terimakasih..." ucap Gebi dengan lirih . Meskipun sudah berkali-kali diangkat tetapi dia masih gerogi.
" Hmm ."
Kemudian Aryan mendorong kursi roda itu keluar . Banyak pasang mata yang melihat kearah mereka . Maklum pesona Aryan tidak bisa dielakkan lagi .
Aryan berjalan dengan cuek tanpa menghiraukan pandangan mereka. Dimas yang menjadi sopir pribadinya selama tinggal di kota malang berjalan dibelakang mereka.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di mobil . Kebetulan Dimas sudah menaruhnya di depan . Jadi mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh .
Dimas meletakkan semua barang yang ia bawa kedalam bagasi. Kemudian membukakan pintu belakang mobil .
Aryan mengangkat Gebi kedalam mobil . Kemudian mendudukkannya dengan lembut . Setelah itu meletakkan kursi roda kedalam bagasi .
__ADS_1
Gebi melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Tidak menyangka jika dia bisa menerima perhatian tulus dari orang yang sampai saat ini ia cintai. Katakanlah dirinya bodoh. Tetapi bisa apa jika perasaan itu tidak pernah berubah . Cintanya pada Aryan tidak pernah berubah .