Mengejar Cinta Mantan Istri

Mengejar Cinta Mantan Istri
Perhatian Aryan


__ADS_3

Sudah seminggu Gebi berada di rumah sakit . Selama ini Aryan dengan setia menemaninya. meskipun harus sering bolak-balik ke hotel .


Sandra sudah kembali ke Jakarta bersama orang tuanya. Orang tua Aryan menemani Gebi selama dua hari .


Sebenarnya Gebi merasa tidak enak dengan Aryan . Dia sudah menyuruh Aryan untuk ikut bersama mereka. Namun Aryan menolak .


Aryan berkata dirinya masih ada urusan di hotel . Jadi selama urusannya belum selesai, dia yang akan menjaga Gebi . Hal itu disetujui oleh orangtuanya.


" Loh mas kok sudah datang. Katanya ada tamu penting yang datang ke hotel ?" tanya Gebi begitu Aryan datang .


" Bukankah kamu mau pulang sekarang?"


" Iya sih ... memangnya pekerjaan mas sudah selesai?"


" Sudah ."


" Beneran?"


Aryan mencoba meredam emosinya. Sudah diluangkan waktunya kok malah banyak bertanya.


" Sudah . Ada yang kesini tidak ?"


" Nggak ada . Teman-teman lagi ada banyak pesanan jadi tidak bisa kesini ."


" Oh .."

__ADS_1


Aryan dengan telaten memasukkan barang-barang kedalam tas . Semua ia masukkan tanpa ada yang tertinggal.


Gebi tidak bisa membantu , karena memang kondisinya masih belum pulih benar . Dia masih belum bisa berjalan. Gebi memandang Aryan sendu .


" Maaf ya mas ..." ucap Gebi dengan lirih .


Aryan menghentikan gerakannya. Dia meletakkan tas itu begitu saja dilantai dan menghampiri Gebi .


" Maaf kenapa ?" tanya Aryan dengan lembut . Sangat berbeda dengan sikapnya yang dulu .


" Sudah banyak merepotkan mas Aryan ," jawab Gebi sambil menundukkan kepalanya.


" Ya .... itung-itung buat menebus kesalahan yang sudah mas perbuat ."


" Mas kan nggak salah . Aku yang salah sudah _"


" Mas sudah nggak benci Gebi lagi ?" tanya Gebi agak ragu . Padahal sudah sejak Aryan menunggunya, dia ingin bertanya . Baru sekarang bisa ia utarakan.


" Memangnya kamu membenciku?" tanya balik Aryan .


Gebi menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak membenci Aryan . Apalagi dia sadar semua berawal dari dirinya .


" Seperti kamu yang tidak membenciku. Aku pun sudah tidak membencimu. Semua sudah menjadi takdir , mau bagaimana lagi ."


" ..."

__ADS_1


" Eh ... kok malah ngobrol. Dim !" teriak Aryan .


" Saya bos ," jawab Dimas yang sedari tadi menunggu di luar langsung masuk kedalam ruangan .


Gebi yang tidak mengetahui ada orang di depan ruangannya langsung kaget .


" Bawa barang-barang ini ke mobil !"


" Baik bos ."


Setelah itu Aryan mengambil kursi roda . Lalu dia mengangkat Gebi dan mendudukkannya di kursi roda itu .


" Terimakasih..." ucap Gebi dengan lirih . Meskipun sudah berkali-kali diangkat tetapi dia masih gerogi.


" Hmm ."


Kemudian Aryan mendorong kursi roda itu keluar . Banyak pasang mata yang melihat kearah mereka . Maklum pesona Aryan tidak bisa dielakkan lagi .


Aryan berjalan dengan cuek tanpa menghiraukan pandangan mereka. Dimas yang menjadi sopir pribadinya selama tinggal di kota malang berjalan dibelakang mereka.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di mobil . Kebetulan Dimas sudah menaruhnya di depan . Jadi mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh .


Dimas meletakkan semua barang yang ia bawa kedalam bagasi. Kemudian membukakan pintu belakang mobil .


Aryan mengangkat Gebi kedalam mobil . Kemudian mendudukkannya dengan lembut . Setelah itu meletakkan kursi roda kedalam bagasi .

__ADS_1


Gebi melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Tidak menyangka jika dia bisa menerima perhatian tulus dari orang yang sampai saat ini ia cintai. Katakanlah dirinya bodoh. Tetapi bisa apa jika perasaan itu tidak pernah berubah . Cintanya pada Aryan tidak pernah berubah .


__ADS_2