
Ia juga memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
"Semangat berusaha." Kata pak Rafly menepuk pundak Irlan.
Irlan mengernyitkan keningnya bingung.
"Maksudnya pak?"
"Saya sudah mendengar semua dari pak Tian. Katanya anak pak Niko adalah mantan istri kamu kan,dan kamu menyesal telah mengkhianatinya."
Irlan tertunduk malu,untuk apa papinya menceritakan aib anaknya pada orang lain pikirnya.
"Saya sudah berteman dengan papi kamu sebelum kamu lahir,bahkan sebelum papi kamu ketemu sama mami kamu" kini pak Rafly sudah merubah gaya bicaranya.
Irlan mengangguk lemah.
"Saya malu dengan aib yang saya miliki pak." Irlan masih menunduk,rasanya ia sudah tidak punya wajah lagi jika harus membahas pengkhianatannya dulu.
"Gak usah malu,namanya juga manusia tempatnya salah dan penuh dosa. Dibalik semua kejadian pasti ada hikmahnya,mungkin hikmah dari kejadian yang kamu alami ini,kamu jadi lebih bisa berpikir dewasa dan menyadari tentang perasaan kamu yang terdalam." Pak Rafly menghela nafasnya sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Yang penting sekarang kamu sudah sadar,dan mengakui kesalahan kamu. Dan mau memperbaiki semua yang terjadi di masa lalu. Di luar sana juga banyak laki-laki yang terjerumus seperti kamu,tapi mereka bukannya sadar dan mengakui kesalahannya malah semakin menjadi-jadi. Tidak ada kata terlambat untuk berjuang Irlan. Kejar lah sekalipun rintangan yang ada dihadapan sangat lah besar. Anggap saja rintangan yang akan kamu lalui sebagai ujian cinta kamu ke mantan istri kamu" wejangan panjang diberikan pak Rafly untuk anak dari sahabatnya itu.
Irlan mengangguk paham. Kini batrei kepercayaan dirinya kembali terisi penuh setelah mendengar wejangan pak Rafly.
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
Nia sudah berada di ruang Presdir bersama papa Niko kembali memeriksa berkas-berkas yang harus di tanda tangani. Sekarang,tanda tangan Nia lah yang terbubuhkan disetiap berkas.
Papa Niko sedikit heran dengan perubahan Nia,karena dari semalam papa Niko sering mendapati Nia yang sedang melamun.
"Kamu gak Nia?" Tanya papa Niko membuyarkan lamunan Nia.
"Hah...apa pah?"
Papa Niko menghela nafasnya.
"Kamu ada masalah apa,kenapa dari semalam papa sering mergokin kamu melamun...?"
"Masa sih? Nia gak kenapa-kenapa kok pah.?" Nia pura-pura tersenyum untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Ya udah kalau kamu belum mau cerita. Tapi papa harap mulai sekarang kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu,kamu bisa cerita ke papa atau mama mu. Kami bukan hanya orangtua mu,tapi kami juga sahabat mu."
Nia tersenyum haru mendengar penuturan papa nya.
"Iya pah..makasih. Papa dan Mama adalah orangtua dan sahabat terbaik dalam hidup Nia" Kemudian Nia memeluk papanya.
Baru sebentar memeluk sang papa. Suara nada dering di hp Nia mengacaukan suasana yang sedang mengharu biru.
Nia melepaskan pelukan dari papanya dan mengambil hp nya dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Halo.." jawab Nia
"Halo neng Nia,cantiknya babang Alex." Balas Alex nyeleneh dari seberang sana.
Bibir Nia mencebik seolah Alex bisa melihatnya.
"Apaan sih..Kenapa nelpon-nelpon? Gak tau apa aku lagi sibuk banget."
"Justru karena kamu lagi sibuk makanya aku nelpon supaya saraf-saraf kamu gak terlalu tegang. Lagian ini udah mau makan siang,aku sekalian mau ngajak kamu makan siang."
"Cih..aku gak bisa karena mama bentar lagi juga dateng bawain makan siang buat aku sama papa." Tolak Nia.
"Wuih bagus dong,kalau gitu aku otewe ke kantor kamu,biar bisa makan siang bareng mertua. Hehehe" Alex terkekeh di akhir kalimatnya.
"Sinting."
"Sinting tapi ngangenin kan?"
"Apaan sih."
"Hahahaha..ya udah aku otewe yah. Jangan kangen dulu yah. Bye bye cantik."
Panggilan pun berakhir.
"Nak Alex?" Tanya papa Niko setelah Nia menaruh hp nya diatas meja.
Nia mengangguk.
"Pah...masih banyak yang harus Nia pelajari di perusahaan,jadi Nia belum mikir tentang hal-hal seperti itu."
"Jangan terlalu keras menutup hati mu Nia. Buka lah sedikit celah untuk merasakan ketulusan orang lain."
"Kalau sudah waktunya Nia juga akan membuka hati Nia kok pah.."
Papa Niko menghela nafasnya. Sangat sulit berbicara dengan Nia kalau sudah menyangkut lawan jenis. Nia seakan menutup dirinya dari hal-hal yang berbau asmara. Hanya ada dua prediksi papa Niko,yang pertama Nia masih trauma dengan rangkaian kejadian yang ia alami dan yang kedua masih ada nama mantan suaminya di hatinya. Entah lah papa Niko tidak berani menebak salah satunya.
Seperti biasa mama Dena selalu datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang. Kalau dulu hanya mengantarkan makan siang untuk suaminya,kalau sekarang untuk Nia juga.
Tamu tak tahu malu juga sudah duduk manis di sofa bersama Nia dan kedua orangtuanya.
"Ayo nak Alex kita makan bareng." Tawar mama Dena.
Hati Alex bersorak kegirangan,memang tujuannya datang ke kantor Nia adalah untuk makan siang bersama dengan keluarga Nia.
"Iya tante.."
"Jangan panggil tante dong,panggil mama aja."
"Apaan sih mah,kok musti panggil mama segala. Kan anak mama cuma aku."
Belum sempat Alex menjawab Nia sudah melayangkan protesnya.
__ADS_1
"Dia kan temen kamu,temen kamu yah mama anggap anak juga. Ia kan pah.?"
Papa Niko hanya manggut-manggut sambil menikmati makan siangnya.
Makin besar kepala saja lah Alex. Hatinya bukan lagi bersorak tapi sudah jingkrak-jingkrak.
Sedangkan Nia tak usah ditanya,dia sudah memutar bola matanya jengah.
"Terserah lah."
Alex terkekeh pelan melihat ekspresi tidak suka dari Nia.
🍀🍀🍀🍀🍀
Dikantor Pratama Group.
Akhir-akhir ini kesehatan mami Nita menurun,membuat papi Tian harus mempercayakan urusan kantor pada Irlan.
Ceklek.
Tanpa mengetuk,seseorang membuka pintu ruangan Irlan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si pemilik perusahaan.
Irlan menengok ke arah pintu sesaat kemudian matanya kembali menatap pada layar laptop.
"Kamu sibuk?" Tanya papi Tian berjalan ke arah meja kerja anaknya dan duduk di kursi di depan meja kerja.
"Lumayan pih.." matanya masij menatap layar laptop.
"Gimana kemarin?"
Irlan mengernyitkan keningnya,lalu mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke wajah papi nya.
"Maksud papi?
"Di nikahan anaknya pak Rafly?"
"Oh..yah gitu lah."
"Gak ada yang spesial?"
Irlan makin heran apa maksud papinya. Yang spesial? Apa maksud papi tentang Nia? Begitulah pikirnya.
"Spesial gimana?" Irlan mencoba memancing papinya.
"Yah kan disana banyak perempuan-perempuan cantik,apa gak ada dari mereka yang membuat kamu tertarik?"
"Ada" jawab Irlan singkat,matanya kembali menatap ke arah laptop.
"Siapa? Bisa dong kamu kenalin ke papi.?"
"Papi juga kenal kok."
__ADS_1
Papi Tian pura-pura mengernyitkan keningnnya.